Puasa Mendesain Manusia Tampil Beda

Oleh: Syahrul Yadi

21

eQuator.co.id – Selamat datang ya Ramadan, kami memang rindu berjumpa denganmu. Kami bersyukur bisa bertemu kembali denganmu. Tidak seperti saudara-saudara kami yang duluan dipanggil oleh Sang Khaliq, sehingga tidak berkesempatan menikmati dan bertemu kembali denganmu.

Kami bahagia, sebab kami tahu bahwa dalam Ramadan, umat Islam diwajibkan berpuasa. Berhenti makan dan minum, dll, di siang hari, dan itu berat dan berat sekali. Tapi kami menyukainya.

Pertanyaan yang perlu kita sama-sama jawab, “mengapa kita berpuasa?”. Dipastikan banyak jawaban yang bisa kita ajukan.

Tapi yang jelas, kita berpuasa karena ingin tampil beda. Dengan tampil beda itulah membuat manusia jadi istmewa, bermartabat, dan bertabur rahmat permanen sampai ke akhirat. Tampil beda dengan siapa?

Yah… banyaklah! Antara lain orang yang berpuasa akan tampil beda:

Pertama: dengan hewan. Sebenarnya, antara makhluk manusia dengan makhluk hewan agaknya tidak jauh beda alias hampir-hampir sama.

Coba sejenak kita cermati. Manusia makan, hewan makan. Manusia minum, hewan minum. Manusia kawin, hewan kawin. Manusia tidur, hewan tidur. Manusia emosi, hewan lebih emosi, terutama hewan liar.

Lalu apa yang membuat manusia beda dengan hewan? Perbedaan terletak pada “cara”. Yaitu cara makan, minum, kawin, tidur, dan cara menyalurkan emosinya.

Kalau hewan, semua yang mereka lakukan tidak pakai aturan, sementara manusia semuanya diikat oleh aturan. Itulah yang membuat manusia menjadi keistimewaan dan bermartabat. Dibandingkan dengan makhluk Allah lainnya.

Karena semua yang ia lakukan selalu berbasis aturan. Salah satu aturan yang mangatur manusia adalah berpuasa.

Puasa, pada hakikatnya, pengalihan jadwal makan dan minum di siang hari dipindahkan ke malam hari. Dalam hal ini, ahli hikmah mengatakan “Al-Insaanu Hayawanu Nathiq”. Artinya bahwa manusia itu adalah hewan yang berpikir.

Dengan demikian, tidak berlebihan kita katakan jika ingin beda dengan hewan, maka manusia harus mau berpikir dan sekurang-kurangnya berpikir bahwa berpuasa itu adalah suatu ketaatan dan kebaikan yang wajib ditunaikan.

Kedua: Berbeda dengan orang yang tidak beriman. Yah, jelas dan gamblang bahwa orang yang berpuasa berbeda dengan orang yang tidak berpuasa, karena ia dibedakan dengan satu kata. Iman.

Orang berpuasa itu karena iman, kalau bukan karena iman ia tidak sanggup berpuasa dengan sempurna. Karena panggilan iman, maka puasa menjadi sesuatu  yang mudah dan senang untuk ditunaikan.

Itulah sebabnya dalam perintah puasa, Allah menggunakan kata “Hai orang-orang yang beriman”. Maka kalau bukan karena iman, pasti itu sangat berat dilakukan. Kalaupun berpuasa tapi tidak akan banyak membawa perubahan dalam gerak dan gaya hidupnya.

Bahkan, kalau bukan karena iman, hampir dipastikan orang tidak akan mau menunaikan ibadah puasa. Logikanya, kalau seseorang dipanggil bukan namanya, maka tidak bakalan orang itu mau memenuhi panggilan itu.

Muhammad dipanggil Muhammad maka ia akan hadir karena namanya memang Muhammad. Tapi coba nama Muhammad dipanggil Fatimah, sudah pasti dia tidak akan menjawab panggilan itu. Begitulah analogi orang yang berpuasa.

Nah, jawaban mengapa orang-orang berpuasa berpuasa jelas. Karena namanya dipanggil, “hai orang-orang yang beriman”. Karena ia beriman, pasti ia jawab dan datang memenuhi panggilan itu.

Lain halnya kalau ia tidak beriman, maka tidak akan mau menjawab, apalagi datang memenuhi panggilan itu. Kenapa? Karena namanya tidak dipanggil dan dia pastikan bukan dia yang dipanggil.

Ketiga, puasa akan membedakan mana manusia yang pintar dan yang bodoh. Orang yang berpuasa itu orang yang pintar, tapi yang tidak berpuasa itu sebaliknya.

Hal ini didasari pernyataan tegas Allah dalam Alquran surah Al-Baqarah (2):184 “Wa antashuumuu Khairullakum Ingkuntum Ta’lamuun”. Artinya, bahwasanya berpuasa itu lebih baik bagi kamu jika kamu orang-orang yang mengetahui. Kalau bahasa premannya, puasa itu lebih baik bagi kamu jika kamu orang yang pintar, sebaliknya orang tidak menunaikan puasa itu sesungguhnya orang yang tidak pintar atau orang yang bodoh.

Mengapa orang yang berpuasa itu orang yang pintar? Karena puasa itu sendiri terlalu banyak manfaatnya buat kehidupan manusia. Fisik maupun rohani. Pribadi maupun sosial. Ekonomi maupun silaturahmi. Bermanfaat ketika sedang di bumi ini dan lebih-lebih bermanfaat pada saat di langit nanti.

Orang yang mengetahui berbagai manfaat puasa maka ia mau berpuasa. Bahkan bukan sekedar puasa wajib saja, tapi puasa sunahpun ia lakukan. Dan tidak mau meninggalkannya.

Sekilas kita amati betapa banyaknya manfaat puasa itu dalam kehidupan manusia. Dari aspek kesehatan, orang berpuasa cenderung sehat. Makanya Nabi senang berpuasa.

Orang-orang kesehatan pernah bilang bahwa pencegahan dan pengobatan dari sakit amatlah ampuh melalui puasa. Nabi memerintahkan dalam sabdanya, “puasa itu sehat maka berpuasalah kamu agar kamu menjadi sehat”.

Memang, kalau dirasa-rasakan, puasa tidak enak. Kebebasan terganggu, dibatasi, bahkan distop, dalam waktu yang cukup lama. Makanya orang yang berpuasa wajib ada dalam dirinya niat dan keikhlasan. Kalau keduanya betul dan terpelihara dengan baik, percayalah puasa itu bukan sakit, justru enak dan menyenangkan.

Dari sisi aspek ekonomi, bahwa orang yang berpuasa seolah sedang melakukan diet. Membatasi dan mengatur proses ekonomi.

Di siang hari, istirahat berpikir tentang makan. Artinya, dengan sendirinya, istirahat juga mengeluarkan uang dari sakunya. Kecuali hanya sekedar untuk kebutuhan di waktu malam saja. Sejak buka sampai sahur.

Mungkin ada yang mengkritisi justru katanya pengeluaran di bulan puasa makin besar ketimbang di bulan-bulan lainnya. Kalau memang demikian faktanya, maka perlu tabayyun tentang puasa kita itu. Sepertinya ada yang salah, yang perlu diperbaiki. Atau, jangan-jangan berpuasa di siang hari tapi balas dendam di malam hari.

Semestinya puasa tidak begitu. Pengendalian diri bukan hanya di siang hari tapi juga berlanjut di malam hari. Sungguh, tidak akan banyak artinya kalau pengendalian nafsu hanya terbatas di siang hari. Tapi di malam hari tidak dikendalikan lagi. Semau-maunya. Sepuas-puasnya. Mengikuti hawa nafsu.

Di sisi aspek pendidikan, orang berpuasa adalah orang yang sedang diajari untuk merasakan kegetiran orang-orang yang setiap saat mengalami kesulitan. Entah sulit makan. Sulit minum. Dan kekurangan lainnya.

Belajar berlembut hati untuk mau merasakan dan berbagi nikmat kepada orang lain. Membunuh ego dan kesombongan. Menjadi penyantun dan penyayang. Inilah pelajaran termahal dari berpuasa.

Di aspek kemasyarakatan, puasa itu mempertemukan yang terpisah. Mendekatkan yang jauh. Merapatkan yang longgar. Via berbagai instrumen amaliah Ramadan.

Tarawih dijanjikan dengan pahala yang besar. Sehingga berbondong-bondong umat Islam ke masjid, surau, dll, untuk tujuan salat tarawih. Pertemuan itu membawa hikmah silaturahmi. Kemudian dikuatkan banyak ustad dengan tausiahnya atau kultum yang berisi banyak hal.

Mungkin ada yang berkata, saya sih puasa, tapi saya tidak tarawih ke masjid, maka saya jarang bersosialisasi. Kalau begitu, mulai saat ini, anda wajib ke masjid. Salat tarawih dan bersosialisasi. Kalau tidak, Anda termasuk kelompok yang merugi.

Jadi, jika ingin tampil beda, bahkan wajib tampil beda, karena kita manusia beda dengan hewan. Beda kita yang beriman dengan yang tidak beriman. Beda kita yang mengetahui dengan orang yang bodoh. Maka tidak ada jalan lain di bulan suci Ramadan, wajib menunaikan ibadah puasa.  Wallahu’alam.

 

*Kepala Biro Akademik Umum Administrasi Keuangan (AUAK) IAIN Pontianak