Program READ-SI Fokus Jangan Ngencet-Ngencet

Poulus Hadi, S.IP, M.Si

eQuator.co.id – Sanggau-RK. Bupati Sanggau, Paolus Hadi meminta program Rural Empowerment and Agricultural Development Scaling Up Initiative (READ-SI) yang dipusatkan di tiga kecamatan perbatasan: Sekayam, Beduai, dan Entikong, fokus untuk memunculkan komoditi unggulan.

“Apa yang mau kita banggakan dengan tiga load free ini, lada, durian, kakao?. Kakao sampai ada pabriknya. Ndak pernah jadi-jadi. Entah kemana kakaonya, entah kemana pabriknya. Kemudian lada. Terkenal di perbatasan tiga itu. Tapi ndak juga dibina kita mereka (petani) itu berhasil. Pandai mereka dari kita,” kata PH, sapaan Paolus Hadi.

Terhadap program dengan total anggaran Rp14 miliyar selama empat tahun itu, PH memiliki bayangan akan ada produk unggulan yang tak pernah dipromosikan sebelumnya. Petakan dan perkuat komoditi yang difokuskan. Ia mencontohkan durian yang cukup terkenal dari perbatasan. Sayangnya kata PH, untuk memanennya harus menunggu 40-50 tahun.

“Mengapa tak diberdayakan, perbatasan sana mengurus durian, durian unggul, versi Sanggau, (durian) Serumbut. Jadi READ-SI ini menyiapkan kelompok yang solid untuk menanamnya, dan caranya bagaimana. Karena selama ini, kita panen, syukur pohon induknya belum ditebang. Saya dengar kita dibohongi orang Malaysia, dia beli batangnya, ditebang. Tapi dia mengambil steknya. Menurut saya Sanggau harus punya classter. Kalau hanya ngecet-ngencet. Tahu ngencet? Ndak bisa cepat, ndak bisa banyak, sediki-sedikit saja,” bebernya.

Ia juga berpesan, dalam program tersebut nantinya petani tak dibebani banyak tugas.

“Jangan sampai mulai dari bibit sampai pemasarannya, petani yang memikirkannya. Walaupun ini tujuannya untuk kesejahteraan. Tapi kalau dia mulai cari bagaimana biji, dia nyetek, manjat pohon untuk nyeteknya, sampai nanam, panen, habis itu hasil sudah banyak, stres lagi bagaimana memasarkannya. Petani kurang-lebih bupati. Apapun dia pikirkan. Kalau begitu terus, ndak maju. Tapi bagaimana petani mengahasilkan produk, orang datang langsung beli,” terangnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perikanan (Dishangpang Hortikan) Kabupaten Sanggau, John Hendri, menjelaskan, program READ-SI yang akan berlangsung mulai 2019-2023, dibagi menjadi beberapa tahapan.

“Di tahun awal program ini, akan menyasar pengutan kapasitas tenaga lapangan, mulai dari penyuluh maupun tenaga pendamping lainnya. Makanya kita namakan start up, karena ini tahap awal,” terangnya.

Untuk tahun kedua, tambahnya, program ini akan menyasar penguatan kelompok tani. “Misalnya nanti dalam pengadaan saprodi, Alsintan dan lain sebagainya,” lanjutnya.

Sedangkan tahun ketiga menyasar bagaimana proses temu usaha atau bisnis.

“Seperti yang disampaikan pak bupati, petani itu jangan diberikan semua pekerjaan atau beban, mulai dari pembibitan, penanaman hingga pemasaran, kalau bisa dibagi-bagi,” harap John Hendri.

Untuk tahun ke empat terkait keterlibatan lembaga keuangan pendukung dan terakhir adalah pemasaran hasil.

Terkait harapan bupati agar ada komoditi unggulan yang dihasilkan dari program tersebut, John mengatakan, program ini hanya memfasilitasi, mendorong petani.

“Kalau tadinya petani tak begitu pintar dalam melakukan pemupukan dan pemiliharan sahang misalnya, program ini ada Sekolah Lapangan (SL) nya. Kita praktik di lapangan,” ungkapnya.

 

Laporan: Kiram Akbar