Presiden dan Masyarakatnya

Negara, pemimpinnya, belum tentu sama dengan masyarakatnya. Kalau sulit percaya pada negara dan pemimpinnya, semoga masih bisa percaya sama masyarakatnya…

eQuator.co.id – Istilahnya people-to-people. Hubungan langsung masyarakat dengan masyarakat, dari satu negara/wilayah dengan yang lain. Bisa itu pertukaran pelajar, saling mengirimkan orang untuk berkenalan dan belajar, dan lain sebagainya.

Tanpa campur tangan langsung pemerintah, walau mungkin bisa dipromosikan dan dibuka jalannya oleh pemerintah. Saya termasuk produk people-to-people. Setelah lulus SMP, ikut program pertukaran pelajar di Amerika, tinggal di wilayah yang dalam radius 100 km tidak ada orang Asia lain. Saya jadi mengenal mereka, mereka jadi mengenal langsung orang dari negara lain.

Keluarga dan perusahaan saya juga sering mengirimkan orang ke negara lain. Misalnya, setiap tahun mengirimkan pemain-pemain basket SMA pilihan dari berbagai penjuru Indonesia ke Amerika (juga ke Australia, Jepang, dan Malaysia).

Di sana mereka tidak sekadar main atau nonton basket. Mereka juga ikut ke sekolah-sekolah. Biasanya, ketika kunjungan SMA, setiap anak dari (DBL) Indonesia dipasangkan dengan satu anak SMA lokal. Lalu, sepanjang hari, anak Indonesia itu harus ikut semua kelas dan kegiatan anak SMA lokal tersebut.

Lewat program Zetizen juga bekerja sama dengan Selandia Baru, mengirimkan anak muda dari setiap provinsi di Indonesia ke sana. Sebaliknya, di Indonesia, kami juga banyak menerima rombongan dari negara lain. Anak-anak basket dari Australia Barat atau Gold Coast atau wilayah lain silih berganti datang ke Surabaya. Tidak hanya untuk bertanding, tapi juga mengunjungi sekolah dan lain-lain. Jadi, mereka tidak hanya kenal Indonesia lewat berita-berita yang belum tentu kurang menyenangkan di negara masing-masing.

Dengan people-to-people, apalagi sejak dini, pertemanan, persahabatan, dan lain-lain bisa terjalin. Siapa tahu kelak berkembang jadi hubungan bisnis atau yang positif lainnya. Tak kenal maka tak sayang bukan?

Kalau memang di masa depan dunia makin menyatu dan masyarakat makin ’’mengglobal’’, people-to-people rasanya adalah pendorongnya. Karena tidak ada (atau sangat minim) motivasi politik atau hal-hal lain berkonotasi tidak menyenangkan lain. Apalagi di situasi dunia yang rasanya sedang ’’aneh’’ ini.

Terus terang, agak shock juga membaca berita Donald Trump menerapkan aturan melarang masuknya warga dari tujuh negara tersebut. Walau sifatnya hanya sementara, rasanya tetap shock. Saya pernah merasakan mudahnya belajar di Amerika, lalu melewati periode keluar masuk Amerika lebih ketat (setelah 9/11), lalu belakangan lebih mudah lagi.

Entah kebetulan atau tidak, periode yang mudah adalah saat presidennya dari Demokrat, sedangkan masa sulit saat presidennya dari Republik. Tapi kemudian, saya banyak membaca –dan diceritakan teman-teman sendiri dari sana– bagaimana banyak masyarakat di Amerika langsung bergerak memprotes keputusan Trump itu.

Demonstrasi terjadi di berbagai bandara internasional. Media-media Amerika ikut menghujat. Bahkan, ada pejabat tinggi hukum yang ikut menolak perintah Trump (walau kemudian langsung dicopot dari jabatannya).

Dan yang berdemonstrasi itu bukan sekadar kalangan minoritas yang terkena dampak langsung aturan Trump. Pada dasarnya, ini bukan sekadar membela negara Islam, atau masyarakat dari negara Islam. Ini membela hak manusia dan mengingatkan bagaimana fondasi Amerika dibentuk oleh imigran/pendatang.

Berbagai universitas pun mengeluarkan surat yang menyatakan dukungan mereka kepada pelajarnya yang berasal dari negara-negara tersebut. Misalnya, Kansas University alias KU, yang terletak di negara bagian yang secara keseluruhan memilih Trump.

’’KU berkomitmen terhadap keterbukaan pertukaran pelajar, akademisi, dan ide dari seluruh dunia. Lebih lanjut, kami sangat mengkhawatirkan keadaan pelajar dan staf KU yang mungkin terpengaruhi oleh pembatasan baru imigrasi.’’ Begitu cuplikan pernyataan universitas tersebut.

Beberapa kota, seperti Cincinnati di Ohio (lagi-lagi negara bagian yang memilih Trump), bahkan menyatakan diri sebagai kota ’’sanctuary’’, di mana mereka tidak akan meng-enforce aturan baru imigrasi, memilih menjadi tempat di mana para imigran ilegal bisa hidup lebih tenang.

Luar biasa bukan? Presiden, negara, belum tentu sama dengan masyarakatnya.

Dan kalau mau sesuatu yang lucu, ada demonstran yang membawa poster. Isinya mengingatkan bahwa istri Trump adalah seorang imigran, membuktikan bahwa Amerika butuh seorang perempuan imigran untuk ’’Mengerjakan hal-hal yang tidak diinginkan’’. Wkwkwkwk…

Segala kejadian ini, menurut saya, bisa membantu bagaimana orang memandang Amerika. Paling tidak memandang masyarakatnya. Presidennya boleh begitu, pemerintahnya boleh begini, tapi masyarakatnya ternyata begini.

Dan karena presiden dan pemerintahnya dipilih oleh masyarakat, maka masih ada harapan pada masa mendatang. Apalagi mengingat bahwa pada pemilihan presiden Amerika kemarin, secara popular vote sebenarnya Hillary Clinton unggul tiga juta suara!

Kalau masyarakatnya pintar, mungkin salah pilih merupakan kejadian langka alias ’’sekali-sekali terpeleset’’. Atau kalau boleh mengutip komentar aktor kondang George Clooney di majalah Us Weekly: Sekali-sekali ’’tidak beruntung’’.

Berikut kutipan lengkapnya:

’’Kita harus berharap dia (Trump, Red) bisa bekerja dengan baik, karena kalau seorang presiden Amerika gagal, hal-hal buruk akan terjadi. Sebagai sebuah negara, pada kebanyakan waktu kami termasuk beruntung. Saya pikir sekarang kami akan sedikit kurang beruntung. Tapi saya selalu mengharapkan yang terbaik.

Saya tidak memilih dia, saya tidak mendukung dia, dan saya pikir dia bukanlah pilihan yang tepat. Tapi kita semua harus berharap semoga dia tidak menghancurkan segalanya.’’

Sekali lagi, kalau masyarakatnya pintar, masih ada harapan masa depan. Yang cilaka itu justru kalau masyarakatnya kurang pintar, tidak jelas, dan memilih pemerintah yang tidak jelas. Benar nggak?

Ini satu lagi alasan pentingnya people-to-people itu tadi, dan mengapa siapa pun yang mampu harus berupaya untuk terus mempromosikan kegiatan-kegiatan seperti itu. Supaya masyarakat yang kurang pintar bisa belajar dengan melihat langsung masyarakat yang pintar, dan masyarakat yang pintar bisa lebih memahami –dan membantu membuka mata dan hati– masyarakat yang kurang pintar.

Lantas berputar lagi: Masyarakat yang pintar meminimalisasi kemungkinan munculnya presiden dan negara yang tidak pintar. (*)