Prabowo Pilih Dua Nama, Jokowi Tinggal Daftar

Figur Cawapres Semakin Mengerucut

25
Prabowo Subianto.JPNN

eQuator.co.idJAKARTA-RK. Partai Gerakan Indonesia Raya menyebut sudah ada langkah maju dari pembicaraan koalisi bersama dengan Partai Demokrat, Partai Amanat Nasional dan Partai Keadilan Sejahtera. Terkait figur nama calon wakil presiden, Gerindra menyebut koalisi empat partai itu sudah mengerucutkan figur terpilih, hanya tertinggal pada dua nama saja.

Pernyataan itu disampaikan oleh Sekretaris Jenderal Partai Gerindra Ahmad Muzani di gedung parlemen, Jakarta, kemarin (7/8). Muzani menyebut bahwa koalisi empat partai telah melakukan rangkaian pertemuan intensif. Salah satu hasil yang didapat adalah koalisi tinggal memilih satu dari dua figur cawapres, untuk dicalonkan bersama Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto yang menjadi capres.

”Pembicaraan sampai dengan tadi malam wakil presiden yang akan mendampingi Pak Prabowo sudah mulai mengerucut dua,” kata Muzani.

Muzani memilih menutup rapat dua nama terakhir cawapres dari Prabowo itu. Termasuk saat ada spekulasi dua nama yang tersisa itu adalah Komandan Satuan Tugas Bersama Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dan Ketua Majelis Syuro PKS Salim Segaf Al Jufri. Muzani memastikan sosok itu masih harus dibahas dalam pertemuan pimpinan empat parpol.

”Namanya (cawapres) orang Indonesia. Ya pokoknya dua nama sedang kami seriusi, sedang kami hitung, sedang kami godog,” ujar Ketua Fraksi Partai Gerindra itu menegaskan.

Muzani sendiri tidak mau merinci pertemuan apa yang akhirnya mengerucutkan dua nama itu. Muzani hanya memastikan bahwa pembicaraan itu tentu melibatkan tiga partai koalisi lain. Muzani juga meminta soliditas dan komitmen dari tiga partai untuk terus tetap mendukung pencalonan Prabowo.

”Tetapi tentu saja pembicaraan ini harus sabar, harus telaten, dan kita harus memiliki kesabaran untuk mendengar dari semua,” ujarnya.

Di sisi lain, PAN saat dikonfirmasi mengaku tidak tahu persis kabar bahwa koalisi partai untuk pencalonan Prabowo telah mengerucutkan dua nama cawapres. Sekretaris Jenderal Eddy Soeparno mengaku belum mengetahui informasi yang disampaikan oleh Muzani itu. ”Saya belum dengar itu,” kata Eddy kepada Jawa Pos.

Eddy menyebut bahwa PAN saat ini masih berkonsentrasi untuk mempersiapkan pelaksanaan Rapat Kerja Nasional. Namun, Eddy belum memastikan kapan Rakernas yang tertunda itu bakal digelar.

Partai Demokrat melalui Ketua DPP Partai Demokrat Jansen Sitindaon juga menyampaikan hal yang sama. Jansen mengaku belum mendengar informasi soal mengerucutnya dua nama cawapres yang dibahas dalam koalisi empat partai. Menurut dia, keputusan Partai Demokrat telah jelas, bahwa figur cawapres diserahkan sepenuhnya kepada Prabowo. ”Mau dua nama, tiga nama, atau empat nama, itu sudah kami serahkan ke Pak Prabowo,” kata Jansen kepada Jawa Pos.

Menurut Jansen, semakin dekat masa pendaftaran pilpres, maka penentuan figur pasangan calon akan segera dipastikan. Penentuan capres dan cawapres itu nantinya akan dilakukan dalam pertemuan antara empat pimpinan partai politik koalisi. ”Kalau pembahasan antar sekjen selesai, baru ketua umum bertemu,” kata Jansen.

Hingga hari ketiga pendaftaran kemarin, Presiden Joko Widodo yang sudah mengantongi dukungan politik lebih pasti belum juga mengajukan pendaftaran. Saat dikonfirmasi, Jokowi hanya menjawab diplomatis. “Kita kan tahu, kan sudah dibuka. Tinggal daftar kan berarti. Tanggalnya ya hanya saya yang tahu,” ujarnya di sela-sela Peninjauan venue cabor Layar di Pantai Barat Ancol, Jakarta.

Jokowi menilai, masih ada waktu yang tersedia. Sehingga semua harus menunggu. “Sudah dibuka tanggal 4 sampai 10. Artinya apa, tinggal daftar. daftarnya kapan? yang sabar nunggu,” imbuhnya.

Terkait apakah akan dilakukan deklarasi terlebih dahulu sebelum pendaftaran, lagi-lagi dia enggan memberi kepastian. “Bisa aja diumumkan dulu baru daftar, bisa aja daftar langsung diumumkan,” pungkasnya.

Sementara itu, Partai koalisi pengusung Jokowi masih terus mematangkan pembentukan tim kampanye. Kemarin malam, sembilan sekjen partai berkumpul di Posko Cemara Jalan Cemara Nomor 19 Menteng.

Mereka adalah Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto, Sekjen Partai Golkar Lodewijk Freidrich, Sekjen PKB Abdul Kadir Karding, Sekjen Partai Hanura Herry Lontung Siregar, Sekjen Partai Nasdem Johnny G Plate, Sekjen PPP Arsul Sani, Sekjen Perindo Ahmad Rofiq, Sekjen PKPI Verry Surya Hendrawan, dan Sekjen PSI Raja Juli Antoni.

Hasto mengatakan, pertemuan itu mempertajam visi – visi dan Nawacita II. Selain itu, pihaknya juga melakukan finalisasi draf tim kampanye. “Kami juga menyusun agenda kedepan,” terang dia.

Sekjen Perindo Rofiq menyatakan, ada tiga perwakilan dari setiap partai yang diutus masuk dalam tim sukses. Menurut dia, jumlah itu untuk permulaan dan masih akan bertambah. “Bisa bertambah sesuai dengan kebutuhan,” ucap dia.

Tim kampanye akan terdiri dari 10 direktorat. Diantaranya, direktorat pengalangan, relawan, saksi, kominfo, dan program. Partai akan mengisi direktorat itu sesuai dengan kompetensi masing-masing.

Sekjen Golkar Lodewijk mengatakan, di atas direktorat ada dewan pengarah, dewan penasihat, ketua tim kampanye nasional, sekretaris tim, dan wakil ketua tim kampanye. Menurut dia, para ketua umum partai akan berada di dewan pengarah. “Ketua tim dan sekretaris tim akan ditunjuk langsung oleh paslon capres – cawapres,” katanya.

Sedangkan wakil ketua tim akan diisi dari setiap perwakilan partai. Para sekjen sendiri akan berada di forum tim kampanye. Selain dari partai, tim kampanye juga akan diisi dari masyarakat.

Saat memasuki masa pedaftaran, elektabilitas kedua tokoh utama pilpres 2019 itu terus bergerak. Berdasarkan survei yang dihelat Alvara Research Center sepanjang pekan terakhir Juli lalu, baik Jokowi maupun Prabowo mengalami peningkatan elektabilitas. ’’Menariknya, kenaikan (elektabilitas) Prabowo  cukup tinggi,’’ terang  Chief Research Officer Alvara Research Center Harry Nugroho.

Elektabilitas Jokowi meningkat dari 46,8 persen Mei lalu menjadi 48,4 persen. Sementara, pada periode yang sama, elektabilitas Prabowo meningkat dari 27,2 persen menjadi 32,2 persen. Dari data tersebut tampak bahwa kenaikan elektabilitas Prabowo lebih baik ketimbang Jokowi. Sedangkan, dari sisi popularitas, keduanya sudah sama-sama nyaris sempurna, di atas 95 persen. (Jawa Pos/JPG)