Politik Sejuk

Oleh: Herzaky M. Putra

58
DIRAWAT DI RSPAD. Ketua Umum Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono, meneken berkas calon legislatif ketika dirawat di RSPAD Jakarta. Instagram Ani Yudhoyono
DIRAWAT DI RSPAD. Ketua Umum Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono, meneken berkas calon legislatif ketika dirawat di RSPAD Jakarta. Instagram Ani Yudhoyono

eQuator.co.idRabu pagi pekan lalu, mendadak masuk beberapa pesan di inboks saya dengan pertanyaan senada: Pak SBY dirawat di rumah sakit? Sakit apa? Gak berat, kan? Rata-rata bernada sedih dan simpati.

Padahal, teman-teman yang menanyakan, setahu saya, ada yang punya pandangan politik berseberangan dengan partainya Pak SBY. Dan ada juga yang tidak peduli dengan politik nasional.

Tapi, begitu mendengar Pak SBY sakit, semua serentak ikut merasa sedih. Rasa haru pun menyelimuti perasaan saya. Masyarakat kita ternyata tidak ‘sesakit’ yang dibayangkan.

Dalam berbagai kesempatan, beberapa pakar menyatakan, masyarakat kita sedang ‘sakit’ (sick societies). Mengapa? Karena dengan mudahnya berkomentar negatif ke teman, bahkan ke keluarga, jika berbeda pandangan secara politik. Bahkan, ada yang sampai cekcok, berantem, padahal kakak dan adik, hanya gara-gara beda pandangan politik.

Dunia maya pun ramai dengan perdebatan, dari yang berbau ilmiah sampai dengan debat kusir. Lini masa setiap hari selalu dipenuhi dengan komentar-komentar nyinyir, negatif, penuh rasa kesal, kecewa, marah, tentang tokoh atau pejabat publik yang tidak didukungnya.

Dari kebijakan yang memang patut dikritisi, sampai ke hal-hal yang tidak ada hubungannya tapi tetap dianggap salah si pejabat publik itu. Baik terhadap tokoh atau pejabat level nasional maupun di daerah.

Nah, ucapan simpati dan turut mendoakan kesembuhan Pak SBY dari teman-teman yang beda pandangan bahkan apolitis, membuat saya tergelitik melihat komentar-komentar di media sosial. Postingan saya di berbagai grup WA dan media sosial mengenai Pak SBY masuk rumah sakit, ternyata sebagian besar memberikan respon serupa. Dari berbagai kalangan yang berbeda. Media sosial yang biasanya banal, kali ini berubah menjadi lebih sejuk.

Situasi ini pun menjadi lebih sejuk ketika Prabowo menjenguk SBY di RSPAD Gatot Subroto. Prabowo dan SBY seharusnya memang bertemu Rabu sore lalu dalam konteks politik, menjalin komunikasi untuk kontestasi Pilpres 2019. Tapi, dibatalkan karena SBY masuk rumah sakit sehari sebelumnya.

Padahal, pertemuan Prabowo-SBY di tahun 2019 ini sudah ditunggu-tunggu. Banyak pihak sebelumnya menduga, SBY condong bersama Jokowi bahkan membentuk poros ketiga, daripada bersama Prabowo. Ini karena dalam beberapa kesempatan, tampak kemesraan antara Jokowi dan SBY. Dalam Rapimnas Partai Demokrat, misalnya, Jokowi diberikan karpet merah. Begitu juga dalam pidato SBY ketika itu, memberikan impresi positif untuk Jokowi.

Sedangkan hampir tidak ada komunikasi yang tampak di publik, antara Prabowo dan SBY, sejak diplomasi nasi goreng di Cikeas tahun lalu. Pengalaman di Pilpres 2014 dan Pilkada DKI Jakarta 2017, saat Prabowo dan SBY tidak menjalin koalisi, membuat banyak pihak tidak yakin koalisi Gerindra-Demokrat bakal terwujud di Pilpres 2019. Makanya, pertemuan Prabowo-SBY Rabu sore dalam konteks pilpres 2019 sangatlah ditunggu-tunggu.

Masuknya SBY ke rumah sakit sehari sebelum pertemuan, sehingga gagalnya pembicaraan mendalam mengenai koalisi di Pilpres 2019, diprediksi membuat Prabowo kecewa, dan bisa jadi kesal. Ternyata, tanpa diduga-duga, Prabowo malah datang menjenguk SBY di RSPAD di sore itu.

Prabowo tampak santai dalam kunjungan itu. Dalam pertemuan terbatas itu, Prabowo hanya didampingi Sugiono, Waketum Gerindra, salah satu orang kepercayaannya, sedangkan SBY hanya didampingi oleh Bu Ani, AHY, dan Ibas, menurut AHY, berlangsung cair dan penuh keakraban. Malah sempat mengenang masa-masa ketika mereka masih mengenyam pendidikan di Akmil.

Tidak ada pembicaraan berat dalam pertemuan itu. Prabowo sendiri setelah menjenguk, menyampaikan kalau kunjungannya hanya untuk membesuk SBY. SBY kecapekan, kata Prabowo.

Pertemuan penuh kehangatan antara Prabowo dan SBY direspon positif oleh masyarakat dunia maya. Membuat politik lebih sejuk. Prabowo dan SBY memberikan contoh. Hidup ini tidak mesti selalu tentang politik. Banyak sisi ruang kehidupan yang tidak perlu membawa politik ke dalamnya.

Perbedaan pandangan dan posisi politik, tidak mesti selalu bertikai. Silaturahmi tetap dijaga. Ada adab dan etika dalam kehidupan sehari-hari yang mesti tetap dijunjung. Prabowo dan SBY berhasil menunjukkan teladan selaku pemimpin, leadership by example.

Tentunya lucu jika kita yang di akar rumput, malah berantem gara-gara politik. Mari kita juga membuat iklim politik lebih sejuk.

*Pengamat politik nasional, putra Kalbar, alumnus SD Muhammadiyah 2 Pontianak, SMPN 3 Pontianak, SMA Taruna Nusantara Magelang, S1 Hubungan Internasional Universitas Indonesia (UI), S2 Magister Manajemen UI