Pesparawi Nasional Resmi Dibuka

Tulus Puji Tuhan, Bukan Sekedar Jadi Pemenang

30
PEMBUKAAN PESPARAWI. Ratusan penari mengenakan pakaian adat suku-suku di Kalbar memeriahkan pembukaan Pesparawi Nasional ke XII Tahun di Stadion SSA Pontianak, Senin (30/7). Rizka Nanda-RK
PEMBUKAAN PESPARAWI. Ratusan penari mengenakan pakaian adat suku-suku di Kalbar memeriahkan pembukaan Pesparawi Nasional ke XII Tahun di Stadion SSA Pontianak, Senin (30/7). Rizka Nanda-RK

eQuator.co.id – PONTIANAK-RK. Ribuan masyarakat memadati Stadion Sultan Syarif Abdurrahman (SSA) Pontianak menyaksikan pembukaan Pesta Paduan Suara Gerejawi (Pesparawi) Nasional XII Tahun 2018, Senin malam (30/7). 850 penari dari seluruh etnik turut memeriahkan pembukaan kegiatan akbar ini.

Ketua umum Pesparawi Nasional XII Karolin Margret Natasa mengatakan, sebelumnya telah dimulai rangkaian pameran pada 28 Juli 2018. Kemudian dilanjutkan dengan karnaval keliling kota Pontianak pada 29 Juli 2018.

“Kegiatan utama akan kita mulai 31 Juli hingga 2 Agustus 2018 di enam lokasi. Selanjutnya akan diadakan musyawarah nasional akan dimulai 3 Agustus 2018 untuk bentukan tuan rumah selanjutnya,” jelasnya. Sebanyak 7.760 kontingen se Indonesia akan diajak berwisata di Kalbar pada 3 Agustus 2018.

Sementara itu, Penjabat (Pj) Gubernur Kalbar Dodi Riyadmadji mengucapkan selamat datang di Pontianak kepada seluruh kontingen Pesparawi, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin dan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan.

“Meskipun suasana cukup panas sesuai julukannya Kota Khatulistiwa, akan tetapi harapan saya suasana hati kita akan selalu sejuk, karena ada iman,” ucapnya.

Dodi berharap seluruh kontingen tetap merasa aman dan damai. Pontianak merupakan kota yang penuh keberagaman. Masyarakatnya bisa tetap hidup dengan rukun.

Dikatakannya, Pesparawi merupakan kegiatan penting bagi umat Kristiani di tanah air. Melalui lantunan lagu-lagu rohani untuk meningkatkan keimanan. “Melalui ini bisa membantu kita untuk menebar pesan kasih,” ucapnya.

Indonesia adalah bangsa yang religius. Nilai budaya dan seni keagamaan harus dipertahankan sebagai jati diri bangsa. “Pesparawi ini juga dapat menjadi media memupuk kebersamaan seluruh umat beragama,” tuturnya.

Sikap toleransi yang tinggi dari seluruh peserta juga sangat dibutuhkan. Seluruh kontingen diharapkan junjung tinggi sportifitas. “Berikan yang terbaik dari yang kalian miliki. Untuk masyarakat agar dapat menjaga keamanan selama Pesparawi ini berlangsung,” pesan Dodi.

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menuturkan, dengan bernyanyi, umat Kristen selalu membuat yang terbaik dan terindah untuk Tuhan. Bernyanyi memiliki makna penting sebagai sarana meningkatkan keimanan kepada Tuhan. “Melalui menyanyi membawa dampak cinta kasih yang tulus kepada sesama,” tukasnya.

Indonesia adalah bangsa yang beragama dan berbudaya. Keragaman sebagai bangsa baik suku. Pesparawi ini juga sebagai media untuk melekatkan nilai persaudaraan saling menghargai dan menghormati. Sebagai yang telah terbangun imannya, umat Kristen diharapkan terus membangun optimisme.

“Keindahan tercipta melalui harmoni dan kesatuan. Apabila tumbuh rasa persatuan dan kesatuan semua kebutuhan bangsa akan kita lewati,” tutup Lukman.

Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan mewakili Presiden RI merasa bangga atas kehadiran paduan suara dari seluruh Indonesia dan memberikan suasana yang damai. “Sedamai makna dan lagu pujian yang akan dilombakan,” tuturnya.

Dikatakan dia, perdamaian di bumi Indonesia ini tidak bisa lepas dari toleransi antara suku dan agama. Seperti Harmoni yang bisa didengar dari paduan suara.

Dia menyampaikan, negara Indonesia telah maju mengarah kepada arah yang benar. Hal itu ditandai dengan menurunnya angka kemiskinan secara drastis di Indonesia pada Maret 2018.

“Angka kemiskinan kita telah mencapai titik terendah 9,82 persen. Namun masih ada masalah yang harus kita selesaikan karena masih ada 26 juta rakyat kita yang miskin,” terangnya.

Luhut mengatakan, saat ini pemerintah telah mendorong langkah-langkah untuk membuat Indonesia menjadi lebih baik. Untuk itupun pemerintah berharap seluruh bangsa dapat bahu membahu membangun negara ini.

Ia pun berpesan kepada Pemerintah Kota Pontianak agar dapat menjadi tuan rumah yang baik. Sehingga seluruh kontingen bisa melaksanakan kegiatan dengan aman dan damai.

“Kepada seluruh peserta Pesparawi agar pujian yang kita naikkan tulus untuk memuji Tuhan. Bukan hanya untuk menjadi pemenang,” pungkas Luhut.

Terpisah, PLN Kalbar menyiapkan 1,3 Mega Watt (MW) untuk kegiatan Pesparawi. Genset juga dipersiapkan guna mengantisipasi padam listrik. Pasalnya, event nasional ini masuk dalam prosedur VVIP.

“Dari semua unsur sudah kita persiapkan, termasuk infrastruktur untuk pasokan listriknya. Persiapan ini sudah kita lakukan jauh-jauh hari,” ujar General Manager PLN Kalbar Richard Safkaur saat dijumpai Rakyat Kalbar, Senin (30/7).

Di Stadion Sultan Syarif Abdurrahman (SSA), PLN sudah melakukan koordinasi dengan pihak panitia. Koordinasi berkaitan dengan apa-apa saja yang menjadi kebutuhan saat Pesparawi. Lantaran agenda berskala nasional, tentu tidak sedikit pasokan listrik yang akan digunakan.

“Standart Operational Procedure (SOP) kami memetakan bagaimana teknis untuk pasokan utama, backup sistem dan tentunya petugas yang akan berjaga di sekitar lokasi,” tuturnya.

Khusus untuk backup, daya listrik akan disuplai dari gardu induk terdekat. Seperti gardu induk Sungai Raya dan Kota Baru. Listrik akan dialirkan dari penyulang yang minim dari gangguan kawat layang dan ranting pohon.

“Genset kami juga sudah di standby kan di beberapa lokasi untuk backup, dan sistem yang kami gunakan ini juga berlapis,” paparnya.

Demi kenyamanan para tamu dan peserta Pesparawi, PLN ikut menjaga kehandalan daya di lokasi mereka menginap. Pihaknya membagi petugas ke dalam beberapa regu. Secara bergantian menjaga suplai listrik di hotel-hotel tamu dan peserta menginap.

“Ini kita lakukan sebagai upaya mendukung sebagai tuan rumah dari sisi pasokan listriknya dengan harapan kegiatan dapat berjalan dengan lancar,” ucapnya.

Disinggung listrik dalam beberapa waktu terakhir kerap byarpet, Richard mengatakan lantaran teknis dan di spot-spot tertentu saja. Penyebabnya, biasa ada gangguan di sisi jaringan atau kondisi cuaca. “Namun matinya listrik ini relatif tidak lama,” tukas Richard.

Sementara, Alexander T Gandrung selaku Event Director dari PT Biru Api event & com yang pengelola kegiatan ini, mengatakan kebutuhan listrik untuk seluruh rangkaian acara hingga 1,3 MW.

Terkait itu, pihaknya sudah berkoordinasi dengan PLN.

“Bahwa mereka (PLN) full support, memastikan semua genset kami sudah layak operasi dan memenuhi kriteria sistem backup PLN,” tukas Alexander.

 

Laporan: Rizka Nanda, Nova Sari

Editor: Arman Hairiadi