Perempuan Tangguh Bantu Menopang Ekonomi Keluarga dari Desa Sekabuk

eQuator.co.id-Mempawah. Tidak hanya sebagai ibu Rumah Tangga, perempuan-perempuan tangguh yang turut menopang ekonomi keluarga dapat dijumpai di
Desa Sekabuk Kabupaten Mempawah.

Mayoritas masyarakat di Desa Sekabuk Kabupaten Mempawah memiliki mata pencaharian sebagai petani.

Hal ini terlihat dengan hamparan padi yang membentang luas di desa ini. Di tempat ini juga terbentuk kelompok tani, dimana mayoritas diisi oleh kaum perempuan.

Teresiayati (44) seorang ibu dari dua anak yang bermukim dari Dusun Sekabuk, desa Sekabuk, Kecamatan Sadaniang, kabupaten Mempawah, Kalbar.

Sama seperti ibu lainnya, Tere sapaan akrabnya memiliki keseharian sebagai ibu rumah tangga, namun begitu, ia juga memilih menjadi seorang petani guna membantu suami menopang ekonomi keluarga.

Waktu dimulai pukul 07.00. Tere dengan ibu dengan hati yang bahagia ini selalu menyiapkan makanan untuk suami dan buah hatinya sebelum beranjak menuju kesawah hingga pukul 10.00 ia beranjak dari ladangnya.

“Disawah sendiri yang dilakukan dengan penyemprotan hebrisida tidak secara langsung tapi ada tahapan-tahapannya, kalau sudah selesai, kadang saya juga sambil bersih-bersih tetap ada saja yang dikerjakan,” ujar Tere seraya menceritakan aktivitasnya sebagai petani kepada sejumlah media.

Selain itu, Tere juga menyebutkan keterlibatan pemerintah dalam mendukung pertanian juga ia rasakan, salah satunya dengan memberikan bantuan pupuk bersubsidi melalui kelompok tani di desanya yang diberi nama “Perkumpula Perempuan Rembulan.

Dalam prosesnya, kata Tere, seperti mengeringkan padi, masih menggunakan cara yang tradisional dengan memanfaatkan matahari. Namun kondisi cuaca yang berubah-ubah terkadang memperpanjang waktu pemgeringan.

“Sejauh ini tidak ada kendala yang signifikan, paling hama saja, seperti burung, walang sangit yang memang kita antisipasinya dengan membuat orang-orangan sawah, dan bersyukur ini juga membantu,” kata Tere

Tere mengatakan bahwa, dengan bertani ia tidak merasa terbebani, suaminya pun turut mendukung kegiatannya itu, ia juga berupaya mendorong perempuan-perempuan didesanya ikut bersama-sama memajukan ekonomi keluarga dan desa lewat bertani.

“Dikelompok kami ini ada sebanyak 20 orang, tidak hanya bertani namun juga mengembangkan usaha lainnya, seperti memelihara ikan nila dan lele,” sebutnya

Tere sendiri memiliki lahan pertanian seluas 0,4 hektare, dengan luas ini mampu menghasilkan sebanyak 1 ton bahkan lebih.

“Panen terakhir saya mencapai 1 ton kalau dijual menghasilkam Rp5,3 juta, modalnya 3 jutaan, selain dijual ini juga cukup memenuhi kebutuhan beras dirumah pula,” ungkapnya

Selain memiliki lahan pertanian, Tere juga memiliki pemasukan lainnya melalui berkebun kelapa sawit, namun dikebun ini ia tidak serta merta turun langsung mengolah lahan seluas 13 hektare itu. Dari pendapatan perkebunan itu ia bisa meraup keuntungan hingga mencapai Rp20 juta per bulannya.

Diketahui Feminist Participatory Action Research melakukan riset di Desa Sekabuk dan Desa Suak Barangan, Kecamatan Sadaniang, Kabupaten Mempawah, Jumat (13/3/2026 lalu) , mengangkat tema “Advokasi Sepiring Nasi: Membaca Pengetahuan Lokal Perempuan Sadaniang di Tengah Krisis Ekologis dan Isu Ekstraktif” ini difasilitasi oleh Forum Aktivis Perempuan Muda (FAMM Indonesia) dengan dukungan Gemawan, yang selama ini mendampingi masyarakat di kedua desa tersebut.

Perwakilan FAMM Indonesia di Kalbar Barat, Caroline, menjelaskan bahwa penelitian dilakukan menggunakan pendekatan FPAR yang menempatkan perempuan sebagai subjek utama dalam proses riset.

“Melalui proses FPAR, perempuan diajak merefleksikan pengalaman mereka dan mengenali persoalan yang dihadapi. Dari situ kita bisa melihat bahwa perempuan sebenarnya memiliki pengetahuan dan kekuatan yang besar untuk memperjuangkan kehidupan mereka,” ujarnya caroline saat kegiatan FGD Diseminasi Hasil Riset FPAR

Dalam kegiatan ini pula, jadir Arniyanti, pegiat sosial Gemawan yang terlibat dalam penelitian tersebut, mengatakan metode FPAR tidak hanya menjadi alat penelitian, tetapi juga ruang bagi perempuan untuk menyuarakan pengalaman hidup mereka.

“FPAR sebenarnya bisa dilihat sebagai bentuk perjuangan perempuan untuk mempertahankan pengetahuan, hak, dan nilai yang mereka miliki. Melalui proses ini, perempuan tidak hanya menjadi objek penelitian, tetapi juga menjadi subjek yang menceritakan realitas hidup mereka sendiri,” terangnya.

Penelitian yang dilakukan pada Januari 2026 ini melibatkan sekitar 28 perempuan dari Desa Sekabuk dan Desa Suak Barangan.

Dalam berbagai sesi diskusi dan refleksi bersama, para peserta berbagi pengalaman mengenai perubahan lingkungan serta dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari mereka.

Arniyanti menilai, aktivitas ekstraktif tidak hanya berdampak pada kondisi lingkungan, tetapi juga mengubah hubungan masyarakat dengan sumber penghidupan mereka. Di Desa Sekabuk, misalnya, masyarakat mulai kesulitan mengelola ladang dan sawah, hasil panen menurun, serta meningkatnya ketergantungan pada bibit baru dan pupuk kimia.

“Sementara di Desa Suak Barangan, masyarakat masih mempertahankan sistem ladang padi gunung dengan pola rotasi lahan alami sehingga kesuburan tanah relatif terjaga,” sebutnya.

Selain itu, perubahan sistem pangan lokal juga mulai terlihat dari isi “sepiring nasi” keluarga. Jika sebelumnya makanan keluarga berasal dari hasil kebun dan sungai seperti padi sendiri, ikan segar, dan sayur dari kebun, kini semakin banyak keluarga yang bergantung pada beras beli, ikan asin, hingga makanan kemasan.

Lalu Ditambahkan Kepala Dusun Pak Nungkat, Desa Sekabuk, Izhar, perubahan sistem pertanian menjadi salah satu hal yang dirasakan masyarakat dalam beberapa tahun terakhir. Menurutnya, praktik pertanian modern yang berkembang saat ini membuat petani semakin bergantung pada mesin dan bahan kimia.

“Kalau pertanian modern di tanah yang sudah menjadi kawasan industri, masyarakat harus menggunakan mesin dan ketergantungan pada bahan kimia. Berbeda dengan pertanian lokal dulu yang masih tradisional dan memanfaatkan bahan alami dari hutan,” sebutnya.

Ia juga menyoroti peran besar perempuan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat desa, terutama dalam aktivitas pertanian dan pengelolaan rumah tangga.

“Perempuan sebenarnya pelaku utama dalam kehidupan sehari-hari. Mereka mengurus anak, bertani, sekaligus membantu mencari penghasilan keluarga. Waktu mereka banyak dihabiskan di ladang, bahkan sejak pagi sampai sore,” ujarnya.

Menurut Izhar, peran perempuan dalam sektor pertanian sering kali belum diakui secara formal dalam kebijakan, padahal mereka memiliki kontribusi besar terhadap ketahanan pangan keluarga.

Dalam kesempatan yang sama, Ageng, pegiat sosial Gemawan yang juga mendampingi masyarakat di Desa Sekabuk dan Suak Barangan, mengatakan perubahan lanskap dan aktivitas ekonomi di desa turut memengaruhi kehidupan perempuan.

Ia mencontohkan kondisi di Desa Suak Barangan yang kini berada di sekitar wilayah perkebunan sawit. Kondisi tersebut membuat sebagian masyarakat harus menyesuaikan pola ekonomi mereka.

“Awalnya saya mengira ekstraktivisme hanya terkait pertambangan, tetapi ternyata lebih luas. Di Suak Barangan, misalnya, kehadiran perusahaan sawit membuat masyarakat perlahan mengubah cara mereka bertani dan memenuhi kebutuhan ekonomi,” ucapnya.

Ageng mengatakan perubahan tersebut juga berdampak pada pola konsumsi dan kehidupan sehari-hari masyarakat. Jika sebelumnya masyarakat banyak mengandalkan hasil kebun dan sungai, kini sebagian kebutuhan pangan mulai bergantung pada pasar.

“Dulu setelah berladang, masyarakat masih bisa mencari ikan di sungai atau sayur di kebun. Sekarang kebiasaan itu mulai berubah. Bahkan sayur kadang menunggu pedagang yang lewat,” katanya.

Namun begitu, Ageng menilai perempuan desa menunjukkan daya tahan yang kuat dalam menghadapi berbagai perubahan tersebut.

“Perempuan sebenarnya memiliki kemampuan beradaptasi yang luar biasa. Ketika kondisi ekonomi berubah, mereka mencoba berbagai cara, termasuk berjualan atau mencari sumber penghasilan lain untuk membantu keluarga,” katanya.

Melalui diseminasi hasil riset ini, para peserta juga membahas bagaimana pengalaman perempuan dapat menjadi sumber pengetahuan penting dalam membaca perubahan lingkungan serta memperkuat advokasi di tingkat desa. (Ova)