Pemilu Pilu dari Lima Srikandi Amerika

Oleh: Dahlan Iskan

LADANG GANDUM. Dahlan Iskan di ladang gandum di pedesaan Amerika menjelang panen, Kamis (26/4). Admin disway.id for Rakyat Kalbar
LADANG GANDUM. Dahlan Iskan di ladang gandum di pedesaan Amerika menjelang panen, Kamis (26/4). Admin disway.id for Rakyat Kalbar

eQuator.co.id – Lima wanita ini menjadi bintang Pemilu Amerika Serikat  Rabu lalu: Kim Young, Rashida Tlaib, Ilhan Omar, Sharice Davids dan Deb Haaland.

Mereka dari suku minoritas. Bahkan minoritasnya minoritas. Yang terpilih sebagai anggota baru DPR.

Kim suku Korea. Bahkan masih lahir di Korea.

Rashida adalah suku Arab dari subsuku Palestina. Rashida menjadi orang Palestina pertama yang jadi anggota DPR Amerika.

Ilhan adalah wanita Somalia. Bahkan lahirnya pun masih di Mogadishu, ibukota Somalia. Dia mengungsi ke Kenya saat terjadi perang saudara di sana. Tahun 1991. Saat Ilhan berumur 5 tahun.

Sharice Davids dan Deb Haaland adalah suku American Indian. Keduanya menjadi wanita Indian pertama yang jadi anggota DPR. Dari partai Demokrat. Dari negara bagian,  ehm, yang hampir selamanya didominasi partai republik:  Kansas.

Kansas memang luar biasa.  Gubernur terpilih pun dari partai Demokrat. Kali ini. Orang Kansas sendiri sudah lupa: kapan ada gubernur dari partai Demokrat.

Amerika kembali jadi Amerika. Presiden dan parlemen beda partai. Pemilu 6 Nopember kemarin menghasilkan itu: DPR kembali dikuasai partai Demokrat. Untuk mengontrol presiden yang dari Republik.

Rakyat Amerika selalu begitu: tidak mau ada presiden yang terlalu berkuasa. Juga tidak mau DPR yang seperti itu.

Kim Young, misalnya, caleg dari partai Republik. Tapi tema kampanyenya jelas: tidak menyetujui semua program Trump. Wanita 54 tahun ini setuju Trump: pemotongan pajak. Tapi sangat tidak setuju di bidang imigrasi, jaminan sosial dan pembangunan tembok perbatasan.

Kim pun menang tipis: 51 persen. Di Dapil 39 California. Dengan lawan begitu berat: Gilbert Cisneros, pemenang lotre Rp 4 triliun.

Kemenangan Kim juga kian menyulitkan proyek yang sudah sulit: pembangunan kereta cepat dari San Fransisco ke Los Angeles. Yang sudah molor lebih 10 tahun. Dan masih akan lebih molor entah berapa puluh tahun lagi.

Kemenangan Rashida di Detroit juga fenomenal: nyaris 85 persen. Hampir tiada lawan di Dapil 13 Detroit. Padahal dia wanita. Padahal dia janda. Padahal dia Islam. Padahal dia Palestina.

Rashida seorang pengacara. Lebih banyak menggratiskan kliennya. Dia juga pejuang nutrisi untuk anak sekolah miskin.

Rashida anak ke dua dari 14 bersaudara. Ayahnya yang pegawai pabrik mobil meninggal dunia.

Detroit memang kota mobil. Yang ditinggalkan pabrik-pabriknya. Satu persatu. Banyak pengungsi dari Irak, Iran dan Palestina di sini. Tapi pemilih suku Arabnya hanya 2 persen.

Waktu ke Detroit dulu saya bisa merasakan proses pemiskinan di sini. Suasana kotanya tidak hingar-bingar lagi. Bagian menariknya tinggal pinggir danau. Yang menghadap ke kota di seberang danau: Kanada.

Setiap kali naik taksi, sopirnya pasti ketunan Arab: Palestina atau Iraq.

Terpilihnya Ilhan Omar lebih menarik lagi. Juga wanita. Juga Islam. Berjilbab. Dari suku Somalia. Dan masih lahir di Somalia.

Tiba di Arlington, Amerika, Ilhan belum bisa berbahasa Inggris. Lalu pindah ke Minneapolis. Di negara bagian Minnesota.

Di sini memang banyak warga asal Somalia. Saya bisa melihat dengan cepat. Begitu banyak keturunan Somalia. Sekitar 200.000 orang.

Saat ingin salat Jumat saya bertanya ke Google: di mana ada masjid near me.

Saya pun ke situ. Ternyata masjid Somalia. Dengan mayoritas jamaah asal Somalia.

Saya ingin wawancara yang bukan Somalia. Tidak ketemu.

Apalagi waktu ke mall. Yang terbesar di Amerika itu. Begitu banyak ketemu orang berjilbab di dalamnya.

Di Minneapolis itulah Ilhan belajar bahasa Inggris. Anak cerdas. Tiga bulan sudah jago. Lalu masuk universitas: jurusan ilmu politik.

Ilhan punya pesaing sesama aktivis asal Somalia. Ahli komputer. Tapi Ilhan selalu unggul.

Perkawinan pertamanya gagal. Cerai. Saat sudah punya dua anak. Lalu kawin lagi. Cerai lagi. Dan kini Ilhan berumur 37 tahun. Sudah kawin lagi. Dengan suami pertamanya dulu: Ahmed Hirsi.

Saya bisa merasakan apa yang dirasakan Trump saat ini: kok justru para imigran ini terpilih jadi anggota DPR. Kim yang Korea. Rashida yang Palestina. Ilhan yang Somalia. Belum lagi yang John Liu di New York.

Padahal di minggu terakhir masa kampanye Trump turun sendiri ke lapangan: meningkatkan nada kebenciannya pada imigran.

Sungguh menarik melihat permainan berikutnya: DPR mengusut Trump. Di banyak hal: laporan pajaknya, anti imigrannya, tembok pemisahnya, keterlibatan Rusianya dan juga menantunya.

Tapi Trump tidak kelihatan gentar sama sekali. Di hari pemilu itu jaksa agungnya mengundurkan diri. Dengan surat yang berbunyi: sesuai permintaan Anda… saya mengundurkan diri. Artinya: jaksa agung itu dipecat.

Kita perlu pasang mata: pertunjukan seru segera dimulai. (dis)