Pembangunan Pelabuhan Internasional Dipertanyakan

PELABUHAN. Pemerintah Kalbar selama ini masih mengandalkan Pelabuhan Dwikora Pontianak sebagai sarana bongkar-muat barang dan jasa. DJUNAINI KS-Rakyat Kalbar

eQuator – Pontianak-RK. Pelabuhan Internasional yang rencananya akan dibangun di kawasan Pantai Kijing Kabupaten Mempawah, tidak masuk dalam Rencana Strategis dan Kinerja (Renstra). Artinya Kalbar terancam memiliki pelabuhan internasional.

Hingga saat ini masih simpang-siur, apakah pelabuhan jadi dibangun PT Pelindo, walaupun tidak masuk dalam Renstra pemerintah pusat.

Anggota Komisi V DPR RI, Lasarus SSos MSi mengaku beberapa waktu lalu, saat Presiden melakukan kunjungan di Kalbar, mengatakan ada dua pelabuhan yang akan dikembangkan di Kalbar. Letaknya di kawasan Pantai Kijing dan lepas pantai sisi daratnya pulau temajo. Pembangunannya akan ditangani PT Pelido.

“Ada dua yang dikembangkan untuk pelabuhan oleh PT Pelindo. Bahkan dalam pertemuan Dirut Pelindo saat itu bersama Menko Maritim, juga disepakati pelabuhan pengelohan Crude Palm Oil (CPO),” ungkap Lasarus ditemui saat menghadiri rangkaian HUT Emas Fisip Untan, Jumat (20/11).

Legislator PDIP itu menjelaskan, dibangunnya pelabuhan akan berdampak positif bagi Kalbar. Terlebih lagi kawasan pelabuhan ini nantinya akan digunakan untuk pabrik CPO atau minyak mentah kelapa sawit.

“Selama ini, kalau mau ekspor maka mesti ke Dumai atau keluar dari Kalimantan dulu dan masuk ke pelabuhan mereka. Dari pelabuhan mereka, baru diekspor ke keluar. Mereka dapat untung, kita yang punya CPO malah buntung,” tegas Lasarus.

Menurut Lasarus, CPO wilayah Kalimantan sudah mengalahkan Sumatera. Beberapa waktu yang lalu juga telah disepakati Presiden, yang tadinya pelabuhan Maloi Kaltim yang akan dijadikan hap untuk CPO, namun dipindahkan ke Kalbar.

“Dengan pertimbangan, perkebunan di Kalbar lebih luas daripada di luar Kalbar. Mudah-mudahan dengan pembangunan pelabuhan internasional, berdampak besar untuk kemajuan kita di Kalbar,” harapnya.

Menurut Lasarus, pelabuhan internasional murni investasi negara melalui BUMN, PT Pelindo sendiri. “Untuk pelabuhan pemerintah sendiri, sebenarnya kalau PT Pelindo sudah menyiapkan fasilitas yang cukup, saya rasa tidak perlu membuat pelabuhan lain. Karena pelabuhan yang ada lebih dari cukup,” katanya.

Berdasarkan maketnya, pelabuhan yang akan dibangun di Kalbar sudah sangat bagus. Bahkan pelabuhan tersebut nantinya dirancang sudah siap menapung CPO dari seluruh Kalimantan. Karena industri hilir pekrbenuan sawit sendiri akan dibangun di Kalbar. “Jadi hulu hilir di olah dulu, baru dibawa keluar. Sehingga seluruh industri akan dikembangkan di Kalbar dan diolah dulu di sini,” katanya.

Sebelumnya, anggota DPR RI Dapil Kalbar, H Syarif Abdullah Alkadrie SH MH mempertanyakan kepada pemerintah pusat, kenapa pelabuhan internasional di Kalbar tidak masuk dalam Renstra 24 pelabuhan tol laut di Indonesia. Dia merasa bingung, apalagi PT Pelindo II sudah siap membangun pelabuhan tersebut pada 2016 ini.

“Jadi bingung juga kita kepada pemerintah pusat. Apalagi rencana pelabuhan internasional yang terletak di Pantai Kijing sudah ingin dibangun PT Pelindo II 2016 ini,” jelas Sy Abdullah.

Legislator Partai NasDem itu mengaku sudah menanyakan kepada Kementerian Perhubungan RI, menyatakan tidak ada masalah. Logikanya, kalau tidak masuk dalam Renstra 24 pelabuhan internasional, tentu tidak disinggahi kapal-kapal besar. Padahal letak pelabuhan di Kalbar sangat strategis.

“Saya akan bangun komunikasi dengan Pemerintah Provinsi Kalbar dan Pemerintah Kabupaten Mempawah, untuk tindaklanjut masalah ini. Sehingga pelabuhan internasional di Kalbar masuk dalam Renstra 24 tol laut,” kata Sekretaris Fraksi Partai NasDem DPR-RI ini.

Sementara Sekretaris Daerah (Sekda) Kalbar, M Zeet Hamdy Assovie mengaku sampai saat ini belum mendapatkan jawaban pasti atas terlaksananya pembangunan pelabuhan internasional. Tetapi adminitrasi pendukung sudah dibahas, khususnya kajian lingkungan strategis. “Harapan kita PT Pelindo konsisten. Agar pelabuhan itu bisa dibangun,” harap M Zeet.

 

Laporan: Isfiansyah

Editor: Hamka Saptono

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.