Pangdam: Ada Indikasi Karhutla Direncanakan

Penyanyi Hip Hop Pontianak Suarakan Kegelisahan Masyarakat

65
MENINJAU LOKASI. Para peserta rapat evaluasi penanganan Karhutla turun ke salah satu lokasi kebakaran lahan, di daerah perbatasan Dusun Punggur kecil- Sekunder C Desa Rasau Jaya Umum Kecamatan Rasau Jaya, Kabupaten Kubu Raya, Jumat (17/08). Humas Polda Kalbar dan Pendam Tanjungpura for Rakyat Kalbar

eQuator.co.idPontianak-RK. Kegelisahan masyarakat akan gagalnya pihak-pihak berkompeten mencegah bencana tahunan Kalbar –kabut asap— dituangkan dua rapper Pontianak. Ke dalam sebuah lagu.

Musik bergenre hip hop memang lekat dengan kritik sosial. Seperti lagu yang dinyanyikan Dasli Slow featuring Vier Fraifer. Dua rapper itu. Berjudul  “Defender of Nature”. Pembela alam.

Protes keras dan kritik sosial mereka bukan tanpa alasan. Di Kalbar, saat kering sedikit saja alias tidak hujan,  selalu terjadi kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). Akibatnya kabut asap menghalangi warga Kalbar mendapatkan hak asasinya: udara bersih.

Rakyat Kalbar menemui dua Rapper tersebut di kawasan Kuala Ambawang, Kecamatan Ambawang, Kubu Raya. Dasli mengungkapkan lagu tersebut memang belum sempat dibuat video klip.

“Kabut asap ini dari tahun ke tahun  ada, dari situ kami buat lagu ini,” tuturnya, Sabtu sore (18/7).

Dasli menjelaskan, lagu tersebut ditujukan  kepada oknum tertentu yang memanfaatkan lahan yang luas di tanah ini. Lagu ini ingin membuka hati, baik kepada masyarakat maupun perkebunan kelapa sawit yang membuka lahan secara besar-besaran, terutama dengan cara membakar.

“Sama-sama melihat keadaan. Jangan sampai masyarakat kita kena dampak kabut itu,” ujar mahasiswa FKIP Untan, semester V ini.

Lirik yang dinyanyikan pemuda 19 tahun asal Nanga Pinoh ini juga merujuk kepada pembelaan terhadap tanah adat yang dirampas. “Tanahnya diambil paksa oleh perkebunan kelapa sawit. Orang yang berdasi di sini adalah orang – orang yang menggunakan kekuasaan dengan semena-mena,” tukas pemilik nama lengkap Christoporus Dasli Juang itu.

Masih belia dan masih tergolong baru terjun ke musik hip hop, tetapi berani membuat lagu dengan kritikan pedas. Sebab, menurut Dasli, melalui music dirinya bisa mengepresikan apa yang ada di dalam benaknya.

“Di dunia hip hop ini, kita bisa sampaikan apa yang kita rasa, kalau pro dan kontra pasti ada lah,” paparnya.

Dengan kondisi saat ini, lanjut dia, pembukaan lahan untuk perkebunan jangan lah terlalu besar-besaran. Sebagai salah satu paru-paru dunia, Kalimantan juga memiliki hewan endemik seperti orangutan. Yang habitatnya harus tetap dijaga. Pembukaan lahan perkebunan harus tetap menjaga keseimbangan lingkungan.

“Baiknya memang harus sama-sama melakukan pelestarian, kalau tidak generasi kedepan akhirnya tidak lagi mengenal orang utan, pohon Tengkawang, akhirnya tinggal cerita. Tapi perusahaan dan masyarakat juga tidak bisa disalahkan, ini harus ada kesimbangan,” tutupnya.

“Lagu kami juga berpesan, agar kita sama-sama menjaga alam kita, jangan sampai dibakar. Dibakar, dampaknya seperti kita saat ini, kabut asap. Aktivitas masyarakat pasti terganggu,” Vier menambahkan.

Remaja yang baru duduk di bangku kelas III SMA ini mengajak agar semua pihak bersama-sama menjaga kelestarian hutan dan mejaganya. “Pelestarian  itu harus ada. Mari kita jaga alam kita,” tutup kelahiran Ketapang yang bernama lengkap Novieri Watonny tersebut.

Lagu tersebut diunggah ke Youtube dua bulan yang lalu. Tidak ada video klip dalam lagu ini, hanya terdengar musik hip hop dan kedua penyanyinya. Diisi slide foto berlatarkan kebakaran hutan.

PETIKAN LIRIK

DEFENDER OF NATURE

“Borneo dari sini kami ada,

Borneo tanah pemberian Jubata,

yang diwariskan leluhur kita,

yang dari dulu mereka jaga,

Mengapa kita lengah dengan alam ini dan sampai kita terprovokasi oleh orang yang  menguasai alam borneo ini”

“Sekarang penjajah  sudah meraja lela,

hutan rimba dibakar manusia,

kabut asap di mana-mana,

polusi udara sudah sangat menggila,

alam Borneo sudah hampir punah akibat perbuatan  penguasa”

“Pikiran untuk menjaga Borneo sudah lemah,

karna pemberontak  sudah memanah,

kami ingin hidup nyaman bukan  susah,

dan kami tidak ingin dijajah,

ini tanah kami bukan untuk dipecah,

tapi kami ingin hidup  nyaman rukun,

dan alam kami tetap berlimpah”

SELURUH INSTANSI

TURUN TANGAN

Di sisi lain, Sabtu (18/8), berlangsung rapat evaluasi penanganan bencana asap akibat Karhutla di Kalbar. Di Pos Komando Penanganan Darurat Bencana yang berada di Kantor Badan Penanggulangan Bencana Daerah  (BPBD) Kalbar, Jalan Adi Sucipto No.50, Kelurahan Bangka Belitung Laut, Kecamatan Pontianak Tenggara.

Rapat dihadiri Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Laksamana Muda (Purn) Willem Rampangilei, Kapolda Kalbar, Irjen Didi Haryono, Pangdam XII/Tanjungpura Mayjen Achmad Supriyadi, Danlantamal Pontianak Laksma TNI Gregorius Agung W. D., Danlanud Supadio Marsma Minggit Tribowo, Kepala BPBD TTA Nyarong, dan sejumlah pejabat terkait lainnya.

“Karhutla yang terjadi di sejumlah daerah, hingga saat ini berakibat kabut asap menyelimuti Kota Pontianak dan sekitarnya, untuk itu seluruh instansi pemerintahan berupaya menanganinya,” ujar Kapolda Didi.

Ia menyampaian bahwa kepolisian sudah melaksanakan langkah-langkah teknis dan strategis. Bersama TNI, Manggala Agni, dan pemadam swasta.

“Upaya-upaya untuk melakukan pemadaman secara intens sudah kita lakukan,” tegasnya. Langkah langkah lainnya, ia mengklaim, pihaknya telah melakukan deteksi dini, patroli, pemasangan maklumat, sampai ke penindakan.

Walaupun, dari catatan, hingga kini belum ada pelaku utama pembakaran lahan yang ditangkap. Belum lama ini yang dibekuk cuma petani suruhan saja.

“Berdasarkan laporan Bapak Kapolda Kalbar, ada yang sudah ditangkap, berarti ada pembakaran yang dilakukan oleh oknum-oknum tertentu,” kata Kepala BNPB Willem Rampangilei.

Saat ini, lanjut dia, cuaca memang sedang kering. Jadi lahan sangat mudah untuk terbakar.

“Oleh karena itu tadi kita membicarakan tentang apa yang menjadi permasalahan di lapangan, lalu bagaimana kita untuk segera memadamkan api yang ada sekarang ini, sehingga tidak meluas,” paparnya.

Ia menegaskan, semua kekuatan darat maupun dengan udara akan digerakkan dalam rangka menanggulangi bencana asap ini. “Seperti sekarang ini heli untuk water bombing hanya ada empat, jadi kita akan menambah menjadi delapan,” ungkap Willem.

Imbuh dia, “Yang dua sudah tiba di sini, berarti tinggal dua lagi yang saya harapkan dalam beberapa hari ini juga akan segera tiba”.

Pihaknya juga akan melakukan operasi teknologi modifikasi cuaca. Yakni hujan buatan.

“Sampai saat ini, Pemda, TNI-Polri, Kementerian Kehutanan, masyarakat, sudah melakukan upaya secara maksimal, namun perlu adanya penguatan dan lebih fokus lagi, perlu adanya upaya integrasi,” klaim Willem. Selesai rapat evaluasi, para peserta rapat ini meninjau langsung penanganan pemadaman beberapa titik api di wilayah Sekunder C Rasau Jaya.

Senada, Pangdam Achmad Supriyadi mengimbau para pembakar hutan dan lahan untuk segera menghentikan kebiasaan membuka lahan dengan membakar. Pihaknya akan membentuk tim patroli bersenjata untuk menangkap siapa saja yang dengan sengaja membuka lahan dengan cara membakar.

“Akan saya serahkan ke pihak kepolisian untuk diproses, dan saya perintahkan untuk dilumpuhkan apabila ada oknum yang menghalangi atau melawan saat diamankan,” tegasnya di daerah yang dikunjungi bersama rombongan.

Dikatakan Pangdam, Karhutla masih saja terjadi di wilayah kerja Kodam XII/Tpr. Padahal, diterangkannya, jauh sebelum musim kering datang, ia bersama jajaran telah berkoordinasi dan bekerja sama dengan instansi terkait memberikan penyuluhan dan imbauan kepada semua lapisan masyarakat.

“Tentang aturan hukum dan dampak negatif yang ditimbulkan dari membuka lahan dengan membakar,” terangnya.

Achmad mengatakan, kebakaran yang terjadi dan asap yang ditimbulkan sudah luar biasa. Menurut dia, ada indikasi kebakaran memang disengaja dan direncanakan.

“Satu titik dipadamkan tetapi muncul lagi di titik yang lain, membakar hutan dan lahan adalah suatu tindakan kejahatan,” tegasnya.

Ia mengakui kebakaran lahan setakat ini memang sangat sulit untuk dipadamkan. Karena terjadi di lahan gambut.

Api padam di permukaan tetapi masih hidup di bagian bawahnya. Sehingga, ia meminta prajurit yang memadamkan ekstra teliti dan hati hati.

“Tidak hanya untuk menyakinkan padamnya api, tetapi juga jangan sampai terperosok ke lubang berapi,” pinta Achmad.

Pangdam juga meminta pemerintah daerah sampai ke tingkat kecamatan dan desa serta instansi terkait untuk terus memberikan penyuluhan ke semua lapisan masyarakat. Agar tidak lagi membuka lahan dengan membakar.

“Dan memberikan penjelasan tentang dampak dari asap yang ditimbulkan ini, yang sangat mengancam jiwa dan kesehatan masyarakat, terutama anak-anak, juga sangat mengganggu transportasi udara dan darat,” pungkasnya.

 

Laporan: Ambrosius Junius

Editor: Mohamad iQbaL