Ngaku Provos Polda Keroyok Juru Parkir

ilustrasi - net

eQuator.co.id – Pontianak-RK. Citra kepolisian kembali tercoreng, meski arogansi yang dilakukan bukan dari anggota polisi sebenarnya. Seperti yang dilakukan Tedy Priambudi, polisi gadungan ini. Warga Jalan Komyos Sudarso, Pontianak Barat itu menghajar M Rudi Alfian alias Dede, juru parkir di kawasan pusat perbelanjaan Jalan Perdana, Pontianak Selatan hingga babak belur, Sabtu (13/2) malam.

Tedy yang mengaku anggota Polda Kalbar beserta rekannya, Leo Gunawan, warga Sungai Kakap ini diringkus jajaran Polsek Pontianak Selatan, selang beberapa jam pengeroyokan dan penganiayaan terhadap Dede.

“Mereka tengah diperiksa. Karena mereka mengeroyok serta menganiaya korban. Sudah begitu, mengaku sebagai polisi lagi,” kesal AKP Kartyana, Kapolsek Pontianak Selatan, kemarin.

Pengeroyokan ini bermula saat arus lalu-lintas di depan jalan keluar masuk Ayani Megamall padat sekitar pukul 21.00. Dalam kondisi tersebut dari arah Jalan Perdana, ada lima sepeda motor melaju kencang menuju Jalan Ahmad Yani. Karena padat, saat tepat di depan akses keluar masuk Ayani Megamall, sepeda motor yang paling depan mengerem mendadak dan mengenai mobil yang akan masuk ke Ayani Megamall. Terjadilah tabrakan beruntun oleh sepeda motor di belakangnya.

Mungkin karena mengejar momen malam minggu sekaligus Valentine Days, sepeda motor yang paling belakang berusaha menyalip sejumlah kendaraan yang tadinya tabrakan beruntun, dari arah samping kanan. Saat bersamaan pula, Dede, juru parkir di luar lingkungan Ayani Megamall tersebut tengah mengeluarkan sepeda motor konsumennya dari lokasi perkiran, lalu ia terkejut dan nyaris ditabrak pengendara yang menyalip tersebut. “Dede terkejut dan melompat ke pinggir jalan. Kemudian Dede refleks menampar pengendara yang menyalip tersebut. Pengendara itu kemudian tetap melaju ke Jalan Ayani,” ujar Kartyana.

Dede pikir, tamparan yang hanya mengenai sedikit bagian helm pengendara tersebut tak berbuntut panjang. Namun, sekitar pukul 22.30, Dede didatangi dua orang yang tak dikenal. Tak lain Tedy dan Leo. Tedy kala itu mengenakan atribut kepolisian seperti, kaos Provos Polda Kalbar lengkap dengan kopelrem, baret, sentar penyetrum serta HT-nya. Rupanya, pengendara yang ditampar Dede adalah keponakan Tedy. Dengan lagaknya bak polisi sungguhan, Tedy kemudian bertanya kepada Dede. “Siapa yang memukul keponakan saya?” tanya Tedy kala itu.

Dede yang ketakutan melihat atribut lengkap Tedy, langsung kabur. Pelarian Dede berakhir di halaman Hotel Orchadz Perdana Square, setelah dikejar Tedy dan Leo. “Dede ditangkap kedua orang ini. Kemudian Dede dipiting dan dicekik lehernya oleh Leo. Sedangkan Tedy, langsung menginjak-injak perut Dede sebanyak tiga kali, serta menyetrum tangan Dede,” jelas Kapolsek.

Aksi pengeroyokan itu diketahui Irwan, paman Dede. Irwan pun datang bersama rekan-rekannya untuk melerai. Kemudian salah satu rekan Irwan melaporkan kejadian tersebut ke Pos Police Corner. “Sambil menunggu anggota Pos Police Corner, Irwan bertanya kepada Tedy bertugas dimana. Oleh Tedy, dijawab bertugas di Polda Kalbar. Namun pada saat ditanyakan KTA-nya, Tedy berpura-pura sibuk menelepon sambil menghindari kerumunan warga,” jelasnya.

Tak lama kemudian, empat anggota Pos Police Corner datang ke lokasi kejadian menenangkan warga. Anggota Police Corner juga menanyakan identitas serta KTA Tedy. Namun Tedy tetap masih berpura-pura sibuk menelepon. Karena mencurigakan, Tedy dan Leo dibawa ke Polsek Pontianak Selatan untuk dimintai keterangan. “Sementara Dede yang tak berdaya, dibawa ke rumah sakit terdekat untuk divisum,” terangnya.

Di Mapolsek, semuanya terungkap. Tedy yang berlagak sangar itu mengaku bahwa dia bukan anggota polisi, melainkan hanya seorang security. “Hingga saat ini, kedua orang tersebut masih diperiksa di Mapolsek. Mereka terancam pidana penjara di atas lima tahun sesuai pasal 170 KUHP tentang penganiayaan dan pengeroyokan,” tegas Kapolsek Kartyana.

Kapolsek juga menekankan, bagi siapa pun jangan coba-coba mengaku sebagai polisi. Bagaimana juga bakal ketahuan. Apalagi pengakuan itu disertai dengan aksi kriminalitas, yang nantinya akan memburukan citra kepolisian itu sendiri. (oxa)