Negara Disney

Oleh AZRUL ANANDA

eQuator.co.id – Bagaimana ya kalau pemerintah itu bisa diswastakan? Serahkan saja manajemennya ke pihak yang misi utamanya memang membuat orang happy. Seperti Disney….

***

The Happiest Place on Earth. Tempat paling bahagia di muka bumi. Itu slogan dan julukan untuk Disneyland, theme park yang kali pertama dibangun pada 1955 di Anaheim, kawasan Los Angeles, California.

Selama puluhan tahun, muncul Disney World di Florida yang luasnya naudzubillah min dzalik, lalu ada Disneyland Hongkong, Tokyo, Paris, dan sekarang Shanghai.

Well, saya belum ke semuanya. Tersisa Paris dan Shanghai.

Tapi saya yakin, kalau seluruh wilayah Disneyland di dunia dikumpulkan jadi satu, luasnya mengalahkan beberapa negara. Jangan-jangan Singapura pun kalah luas.

Yang di Florida saja, misalnya, karena terbagi dalam empat theme park, plus kawasan belanja, lima hari mungkin tidak cukup untuk menikmatinya! Pengunjungnya? Menurut data dari Themed Entertainment Association, pada 2014 saja pengunjung Disneyland di seluruh dunia sudah hampir 150 juta orang. Itu belum ada Shanghai.

Lebih dari separo penduduk Indonesia. Lebih banyak daripada pengunjung banyak negara di dunia. Dan sekali lagi, itu The Happiest Place on Earth.

Masuk ke dalamnya tidak takut kemalingan. Tidak takut didiskriminasi. Tidak takut kelakuan orang menyebalkan.

Ada teman saya, ketika berkunjung ke yang ada di Anaheim tidak lama lalu, komputer tabletnya ketinggalan. Eh, ternyata ada yang menemukan, lalu dikirim ke Indonesia tidak lama kemudian. Mengurusnya sama sekali tidak repot. Malah lebih repot berurusan dengan bea cukai di Indonesia saat mencoba mengambilnya di kantor pos.

Antre berjam-jam hanya untuk naik satu wahana? Juga tidak ada yang mengomel. Padahal, harus antre 120 menit untuk naik Indiana Jones, 250 menit untuk naik Toy Story, antre 90 menit untuk naik Star Tours, dan pengalaman lucu saya di Tokyo: antre hampir 30 menit hanya untuk beli popcorn.

Musim panas dengan suhu di atas 40 derajat Celsius tidak bikin orang marah. Musim dingin sampai di bawah 0 derajat Celsius tidak bikin orang mengomel.

Dinas Kebersihan Disneyland juga luar biasa. Wilayah begitu luas, tidak ada kotoran tersebar. Ada sedikit, langsung disapu bersih. Baik jalan, taman, toilet, dan lain-lain.

Tidak ada orang merokok juga bikin nyaman. Edan, ”negara” seluas Disneyland tidak ada orang merokok! Dinas kesehatannya benar-benar tegas menindak.

Negara swasta itu benar-benar berfungsi semua dinas-dinasnya. Padahal, pasti ada orang sakit, pasti ada orang pingsan, pasti ada orang kena serangan jantung, ada anak kecil muntah dan buang air sebelum sempat ke toilet, dan lain sebagainya. Ada orang pakai kursi roda, banyak anak butuh stroller, dan lain sebagainya. Melayani dengan baik 150 juta pengunjung setahun!

Dan dengan keramahan ekstra. Sebelum masuk, sudah ada yang melambai menyambut dan menghibur di pintu masuk. Ketika mau pulang, ada yang mengucapkan sampai jumpa lagi di pintu keluar.

Bayangkan masuk ke negara-negara beneran lain. Mau masuk, yang menyambut tanpa senyum. Ketika sudah masuk, ketemu banyak masalah. Ketika ada masalah, malah direpotkan (atau dimintai macam-macam). Ketika mau keluar, juga kembali tidak ketemu senyuman. Negara kita kayak begitu nggak ya?

Kadang saya mikir, kenapa tidak diswastakan saja ya pemerintahnya. Toh, hitungannya gampang. Kasih saja management fee.

Wong tiket masuk Disneyland di mana-mana itu setara, atau bahkan lebih murah, dari proses mengurus visa untuk sejumlah negara! Dan pasti banyak perusahaan seperti Disney yang bisa menyediakan pelatihan dan jasa konsultasi.

Beberapa bulan lalu, saya menyaksikan laga basket NBA di stadion baru di Sacramento, Golden1 Center. Dulu, waktu masih di Arco Arena, saya sering banget nonton. Tapi di Golden1 Center, saya agak kaget. Sejak pemeriksaan masuk sudah disambut dengan lambaian dan gurauan.

Ketika masuk gedung, kembali disambut dengan lambaian dan gurauan, bahkan diajak toas oleh banyak petugas di dalamnya. Baik itu penyambut tamu, pihak keamanan, atau bahkan petugas kebersihan.

Salah satu teman baik saya sekarang punya jabatan tinggi di tim basket tersebut. Setelah ditanya-tanya, eh, ternyata perusahaannya menyewa tim dari Disney untuk melakukan pelatihan. Disney lagi, Disney lagi….

Seandainya semua negara di-manage seperti Disney. Karena swasta, pemimpinnya bisa gonta-ganti menteri dan kepala dinas tanpa memikirkan konsekuensi politik. Karena swasta, semua pertimbangan berdasar kebutuhan bisnis, dan bisnisnya adalah memastikan semua customer-nya happy.

Kan harus jadi The Happiest Place on Earth! (*)