Nafkahi Keluarga dengan Rumput Gajah

TANAM RUMPUT GAJAH. Abdul Baid terlihat santai menanam rumput gajah dalam pengerjaan Taman Alun Kapuas. GUSNADI /RK

eQuator – Terkadang rumput dianggap sebagai tanaman parasit yang merugikan bagi sejumlah orang. Tak ayal, keberadaan rumput kerap dimusnahkan dengan cara ditebas maupun disemprot racun. Namun ditangan Abdul Baid, 45, seorang penanam rumput di Taman Alun Kapuas (TAK) justru rumput sebagai penghasilan untuk menghidupi satu istri beserta kelima anaknya.

Hanya berbekal peralatan sederhana, pria yang akrab disapa Abdul yang merupakan warga Kuala Mandor B, Kabupaten Kubu Raya (KKR) datang untuk bekerja di Taman Alun Kapuas. Yakni hanya untuk menanam ‘rumput gajah’ di kawasan taman yang digadang-gadang menjadi salah satu tempat hiburan bagi masyarakat Kota Pontianak.

Biarpun hanya sebatas menanam rumput, tapi Abdul bersyukur mendapatkan pekerjaan ini. Lantaran ia sudah lama tidak melakoni pekerjaan rutinnya sebagai kuli bangunan atau tukang pembuat rumah.

“Bukan punya saya, tapi bos yang bawa saya kerja di sini focus menanam rumput gajah,” ujar Abdul, Selasa (24/11).

Jika dilihat memang hanya sebatas rumput saja, namun ternyata harga rumput tersebut terbilang cukup mahal per meternya. “Beli di Kota Baru per meter Rp25 ribu. Ada dua jenis, biru polos sama biru garis les putih, tapi harganya sama,” paparnya.

Meski tak terlalu sulit pola penanamannya, yakni hanya ditempelkan dengan tanah dan disiram dengan tanah kuning. Lalu dibiarkan begitu saja tanpa diapa-apakan lagi.

“Kadang satu hari habis sekitar enam karung (karung semen 50 kg, red). Tidak susah menanamnya, hanya diletakkan teratur di tanah, selepasnya dibiarkan saja, pasti hidup, karena mudah menanam rumput ini,” tukasnya.

Sejauh ini, seluruh tanaman rumput gajah di Taman Alun Kapuas diklaim ia yang menanamnya. Namun, saat selesai dikerjakan nanti terpaksa ia kembali ke pekerjaan lama atau bahkan mungkin tidak bekerja lagi. Karena proyek di luar atau tunggu ada yang meminta jasanya untuk bekerja.

“Katanya tahun baru diresmikan dan dibuka lagi Korem ini (Taman Alun Kapuas, red). Kalau sudah selesai kemungkinan menganggur lagi. Tunggu ada yang ngajak baru kerja,” keluhnya.
Proyek yang belum selesai tersebut, yakni dengan penataan taman yang cukup memanjakan mata para pengunjung.

Termasuk letak rumput yang ditanam Abdul dipastikan nanti akan diinjak-injak pengunjung. Namun, ia mengaku tidak kesal. Tetapi, Abdul berharap di dalam taman yang sudah dipagari supaya tidak dirusak pengunjung.

“Kalau yang disela-sela semen memang diperuntukkan untuk jalan kaki, tidak masalah. Tapi jangan yang di atasnya, biarpun tidak dipagar kan sayang kalau dirusak,” ingatnya. (agn)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.