Meningkatkan Kualitas Pembelajaran Guru Biologi SMA di Singkawang

Pelatihan Pembuatan Soal Berbasis IT

14
PELATIAN IT. Para guru biologi SMA di Singkawang foto bersama usai pelatihan pembuatan soal berbasis IT untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di Singkawang—Panitia for RK
PELATIAN IT. Para guru biologi SMA di Singkawang foto bersama usai pelatihan pembuatan soal berbasis IT untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di Singkawang—Panitia for RK

eQuator.co.id – SALAH satu faktor yang menunjang keberhasilan proses belajar mengajar baik di lembaga pendidikan formal seperti sekolah, universitas, ataupun di lembaga non formal seperti lembaga bimbingan belajar dan tempat kursus lainnya, adalah media yang digunakan atau dimanfaatkan dalam proses mengajar. Itulah mengapa pemilihan dalam menetapkan media merupakan hal yang sangat penting dan harus dipertimbangkan secara seksama oleh guru.

Pentingnya pemilihan media mengharuskan guru melihat media apa saja yang relevan dan tepat digunakan pada saat ini, yang sesuai  dengan situasi dan perkembangan zaman. Salah satunya adalah media berbasis teknologi informasi dan komunikasi. Teknologi informasi dan komunikasi dalam proses pembelajaran memiliki manfaat, misalnya penggunaan teknologi informasi dan komunikasi memudahkan guru untuk menggali informasi lebih dalam tentang materi pelajaran yang disampaikan.

Hal ini disebabkan karena media ini memungkinkan penggunanya untuk mendapatkan berbagai literatur dari berbagai sumber. Yang kemudian dapat disimpulkan menjadi satu kesatuan yang utuh dan padu tentang suatu materi.

Ini bukan berarti anggapan bahwa guru tidak memiliki pengetahuan yang lengkap akan suatu materi. Akan tetapi sebagai sebuah bentuk motivasi yang mengajak guru untuk setiap saat memperbaharui informasi dan ilmu pengetahuan yang dimilikinya. Karena ilmu pengetahuan itu berkembang dari masa ke masa dan tentunya berbagai perkembangan juga akan ada dalam materi tersebut. Yang terkait dalam konteks kekinian yang harus diketahui oleh guru.

Pada 6 Maret 2018, dilaksanakan pelatihan pembuatan soal berbasis TIK kepada guru-guru sains di SMA di Kota Singkawang. Pelatihan ini merupakan kali kedua dilakukan oleh tim Pengabdian Kepada Masyarakat FKIP Universitas Tanjungpura Pontianak. Pertama kali pelaksanaan pelatihan ini diselenggarakan di kabupaten Kayong Utara.

Pembuatan soal berbasis TIK ini menggunakan program I-Spring Presenter yang sebelumnya telah diinstal di laptop masing-masing peserta. Proses pelatihan dimulai dengan pemaparan pentingnya penggunaan media pembelajaran berbasis TIK dalam implementasi kurikulum 2013.

Dijelaskan oleh narasumber yaitu Hamdani (Dosen Pendidikan Fisika FKIP Universitas Tanjungpura), dengan teknologi informasi dan komunikasi yang dimanfaatkan guru dalam membuat soal akan memberikan stimulus kepada siswa untuk belajar dan menciptakan kelas yang kondusif dan terkontrol.  Pemanfaatan soal interaktif ini membuat guru tidak monoton, ia memberikan ruang bagi siswa untuk tidak hanya menggunakan indra pendengaran tapi juga melibatkan penglihatan, dan mencoba melakukan kegiatan yang akan membentuk pengalaman-pengalaman belajar.

Jika siswa sudah terstimulus, maka minat belajarnya akan muncul. Munculnya minat belajar akan berdampak pada aktivitas positif yang dilakukan siswa, seperti misalnya berusaha mencari tahu kenapa begini dan mengapa seperti ini, apa jalan keluar untuk ini, atau apa yang bisa dilakukannya untuk menjawab soal ini. Sehingga tidak ada siswa yang disibukkan dengan kesibukan negatif seperti mengganggu teman, mengobrol dan membuat keributan, acuh tak acuh ataupun tidur di dalam kelas.

Menulis soal itu memang tidak mudah, bukan hanya sekedar menulisnya tapi juga karena harus memahami isi atau maksud dari kisi-kisi yang disusun. Menulis soal tidak hanya sekedar copy paste. Tapi juga harus memperhatikan tingkat kesukaran dari soal yang akan diujikan. Jangan sampai soal yang dibuat menyimpang dari tujuan pembuatan soal.

Melakukan tes akhir dalam bentuk ulangan harian di setiap akhir pembelajaran memang perlu dilakukan. Hal ini ditujukan untuk mengetahui sejauh mana siswa mampu menerima materi yang sudah dipelajari. Bukan semata-mata untuk membedakan mana siswa “pintar” mana siswa yang “kurang pintar”.

Kisi-kisi soal yang digunakan sebagai acuan penyusunan soal haruslah dipahami sebaik-baiknya. Soal yang dibuat juga perlu diperhatikan tingkat kesukaran seperti tingkat yang dibuat oleh Bloom. Tingkat kesukaran Taksonomi Bloom yang dituangkan dalam ranah kognitif adalah sebagai berikut, C1: pengetahuan, C2: pemahaman, C3: penerapan, C4: analisis, C5:sintesis, C6: evaluasi. Ketika soal dibuat “asal jadi” karena deadline yang mepet atau kepepet, maka tujuan diadakannya evaluasi menjadi tidak sesuai. Soal asal jadi, pedoman penulisan soal tidak lagi berlaku.

Pembuatan soal yang berbasis interaktif diperlukan untuk melatih siswa dalam menjawab soal dengan media computer agar terbiasa dan mudah dalam pelaksanaan Ujian Nasional nantinya. Dengan demikian, kami menghimbau pada semua guru yang telah megikuti pelatihan ini untuk dapat menggunakannya dalam proses belajar mengajar secara maksimal.

Akan sangat disayangkan sekali jika di sekolah yang fasilitas ini tersedia tapi tak pernah atau jarang dipakai lantaran guru tidak terbiasa untuk mengoperasikannya. Jika kesempatan itu belum didapatkan semua guru, guru yang lain bisa belajar dari rekan yang telah mengikuti pelatihan atau rekan yang mengikuti pelatihan ini dapat melatih rekan-rekan guru yang ada di sekolah asal masing-masing. (*/bis)

Penulis: Reni Marlina