Menghidupkan Aset Tidur

Diasuh khusus oleh Joko Intarto*

50
Barista The Gade Café. Jto for Rakyat Kalbar
Barista The Gade Café. Jto for Rakyat Kalbar

eQuator.co.id – “Ketemu di Kelapa Gading atau di Kebayoran Baru?’’ tanya Pak Syahrul Rusli, mantan general manager pemasaran PT Pegadaian (Persero).

“Kebayoran Baru di mananya?’’ sahut saya.

“Gade Cafe,’’ jawab Pak Syahrul.

Kalau mau gampang, sebenarnya saya lebih senang bertemu di Kelapa Gading, Jakarta Utara. Banyak tempat nongkrong bagus. Dekat dari rumah saya pula. Bisa naik sepeda.

Apalagi dua anak saya minta diantar nonton film Danur. Yang sedang diputar di Cineplex 21 Mall Artha Gading. Bisa dijangkau dalam 10 menit dengan mobil dari rumah.

Tapi Gade Cafe lebih menggoda. Saya ingin tahu konsep coffee shop yang terpaksa direnovasi walau usianya baru sebulan itu. Selain penasaran, ada yang lebih merangsang: diskon 50 persen for all item!

Pekan lalu, saya janjian bertemu Pak Syahrul di café itu. Tapi pertemuan batal. Karena bangunannya belum selesai direnovasi.

Hari Kamis lalu, perluasan ruangannya selesai. Kemudian dilakukan grand launching. Jadi Sabtu kemarin, usia café itu baru dua hari!

Tak sulit menemukan Gade Café. Google Maps memandu saya menuju lokasi kantor Pegadaian di kawasan elite itu. Hanya satu jam dari Kelapa Gading. Dua anak saya ikut. Karena ingin mencicipi minuman kopi dan coklatnya.

Gade Café dibangun memanfaatkan sebagian bangunan Kantor Cabang Pegadaian Kebayoran Baru. Lokasinya di Jalan Wijaya. Tak jauh dari Jalan Melawai Raya, Blok M. Nama ‘’Gade’’ berasal dari kata slank ‘’gade’’ untuk menyebut ‘’Pegadaian’’.

Gade Café dan Pegadaian memang satu grup. Lebih tepatnya cucu dan kakek. Gade Café merupakan unit usaha baru anak perusahaan Pegadaian. Yang menangani optimalisasi aset BUMN itu.

Idenya, melalui Gade Café, Pegadaian bisa lebih dekat dengan pelanggan sosialita. Khususnya eksekutif muda. Yang lebih senang bekerja tanpa kantor. Yang menghasilkan uang sambil nongkrong di kafe-kafe.

Empat jam saya di Gade Café Kebayoran Baru. Bersama Pak Syahrul, kami preview naskah buku yang telah memasuki tahap final. Pak Syahrul penulisnya. Saya editornya. Ini buku kedua Pak Syahrul yang saya sunting.

Rupanya, Kantor Cabang Pegadaian Kebayoran Baru buka terus. Termasuk hari Sabtu dan Minggu. Dari pagi hingga malam. Mengikuti jadwal buka Gade Café. Jadwal operasional kantor Pegadaian itu berbeda dengan kantor lain.

Selama duduk di pojok ruangan, nasabah Pegadaian datang dan pergi. Dari tongkrongan nasabah yang datang, sepertinya mereka orang-orang berduit. Mobilnya bagus. Mitubishi Pajero, Toyota Camry, BMW Seri 7 dan Mercy Jip. Penampilan perlente. Necis dan wangi.

Tidak tampak ‘’wajah-wajah orang susah’’. Pak Syahrul tertawa mendengar komentar saya. ‘’Nasabah susah itu cerita zaman dulu. Nasabah sekarang sudah jauh berbeda. Apalagi nasabah Kebayoran Baru,’’ jelas Pak Syahrul.

Pegadaian Kebayoran Baru boleh dibilang istimewa. Setidaknya berbeda dengan kantor lainnya. Nasabahnya bukan orang-orang biasa. Mayoritas pengusaha, profesional dan sosialita. Kreditnya saja bisa bernilai ratusan juta.

‘’Kalau mencari pinjaman sebesar itu di bank, butuh waktu lama. Di Pegadaian hanya perlu beberapa menit. Pegadaian sekarang menjadi pilihan untuk memenuhi kebutuhan uang tunai yang cepat,’’ jelas Pak Syahrul.

Beberapa nasabah itu singgah ke Gade Café. Menunggu antrian sambil menyeruput segelas kopi atau coklat panas. Sambil tangannya sibuk membuka-buka aplikasi online dengan gadget-nya. Lalu kembali ke ruang pelayanan lagi.

“Ini karakter nasabah milenial. Tidak bisa lepas dari gadget, colokan listrik dan wifi,’’ kata Pak Syahrul.

Gade Café di Kebayoran Baru merupakan gerai pertama. Masih berstatus uji coba. Bila konsep itu sukses, akan dikembangkan di seluruh Indonesia. Memanfaatkan kantor Pegadaian yang besar dan strategis.

Kantor-kantor Pegadaian peninggalan zaman kolonial umumnya berukuran besar. Arsitekturnya bergaya Eropa abad 19. Lokasinya di kawasan terbaik. Kalau tidak pusat bisnis. Pasti kompleks hunian elite. Jumlahnya ratusan.

Belakangan, hampir semua ruang gudang Pegadaian kosong alias menganggur. Bukan karena kekurangan nasabah. Tetapi mayoritas nasabah zaman now menjaminkan emas. Bukan mobil dan sepeda motor. Seperti dulu.

Gudang kosong itu dipermak menjadi ruang kerja. Bekas ruang kerja disulap menjadi café. Bersebelahan. Punya akses sendiri-sendiri. Tetapi saling terhubung.

Sebelum membangun Gade Café, Pegadaian juga telah membuat terobosan lain. Kantor-kantornya yang berukuran sangat besar dijadikan hotel. Namanya Pesonna Hotel. Kantor Pegadaian kemudian menempati salah satu sudut lobinya. Pesonna Hotel sekarang sudah beroperasi di 9 kota.

Gade Café adalah potret sebagian BUMN zaman now. Yang paham dengan perubahan gaya hidup masyarakat. Yang serius mengembangkan berbagai peluang bisnis baru. Termasuk mengoptimalkan assetnya yang idle bertahun-tahun.

Menarik untuk ditiru. (jto)

 

*Admin www.disway.id dan founder www.jagaters.id