Mendadak Muda vs Pemimpin Muda

Oleh: Herzaky M. Putra

91
Herzaky M. Putra
Herzaky M. Putra

eQuator.co.id – Sejak awal tahun 2018 ini, banyak pemimpin politik kita yang mendadak muda. Mengapa disebut mendadak muda, karena usianya tak lagi muda, penampilan sehari-hari tidak terlihat muda, tetapi akhir-akhir ini bergaya laiknya anak muda. Kalau kata budak Pontianak, cam anak mude.

Ada pemimpin politik yang menggunakan jargon kekinian di baliho-nya, sambil mengenakan jas tanpa dasi ala-ala generasi sekarang, dan wajah segar tanpa tertutup rambut di bagian muka. Ada pula yang mengenakan syal, dengan kemeja putih lengan digulung, serta celana jins.

Bahkan, ada yang sampai menggelar aksi touring menggunakan motor chopper, berbalut jaket jins, celana jins, dan sepatu kets. Gaya yang mirip banget dengan Dilan, sosok anak muda yang filmnya meledak di April 2018 lalu.

Mengapa pemimpin politik generasi old, mendadak muda? Alias, mendadak tampil trendi ala-ala anak muda, anak jaman now? Ternyata, ada data dan fakta menarik di belakang ini.

Para pembaca mungkin sering mendengar istilah bonus demografi daam beberapa tahun belakangan ini. Menurut BPS, Indonesia bakal mendapat bonus demografi alias kebanjiran usia produktif (15-64 tahun) di rentang waktu 2020-2030. Jumlah penduduk Indonesia dengan usia produktif bakal berkisar 70% di rentang tahun tersebut. Bagi sebagian orang, informasi tentang ini bukanlah hal baru.

Hanya, ada yang perlu disimak dan telah disadari sebagian besar pemimpin politik di negeri ini. Bonus demografi di rentang tahun 2020-2030 bakal didahului oleh fakta menarik terkait peta pemilih di Indonesia.

BPS memprediksikan, sekali lagi kita ambil data dari BPS, penduduk Indonesia bakal berkisar 268 juta jiwa di tahun 2020. Nah, 39,64 persennya atau sekitar 102 juta merupakan penduduk usia 15-39 tahun. Dan, di tahun 2019, penduduk usia 20-39 tahun diperkirakan sekitar 86 juta.

Coba kita bandingkan jumlah penduduk usia 20-39 tahun tersebut, atau yang biasa disebut generasi milenial, sebesar 86 juta, dengan DP4 atau Data Penduduk Potensial Pemilih Pemilu dari Kemdagri yang dikeluarkan akhir tahun lalu, sebesar 196,5 juta jiwa. Pemilih milenial di 2019 pun berkisar minimal 44 persen, atau mendekati setengah dari total pemilih. Sangat signifikan, kan?

Baru ngeh, kan, mengapa para pemimpin politik kita akhir-akhir ini sibuk mendadak muda? Karena pasar pemilih muda, kaum milenial, sangatlah besar dan gurih. Apalagi jika ditambahkan dengan 7 juta pemilih pemula, alias baru menyentuh usia 17 tahun di awal 2019, segmen pemilih muda sangatlah menggiurkan.

Sedangkan para pemilih muda ini, kecenderungannya memang bakal memilih tokoh yang dianggap terkoneksi dengan mereka. Dekat dengan mereka. Bisa berkomunikasi, bisa memahami aspirasi dan kebutuhan mereka.

Karena itu, sah-sah saja buat para pemimpin politik generasi old, menggaet pemilih muda, pemilih milenial, dan pemilih pemula. Sampai mereka pun mesti mendadak muda alias bergaya muda.

Padahal, pemimpin muda juga sudah banyak bermunculan, baik di dunia internasional maupun di Indonesia. Misalnya, di Kanada, ada Justin Trudeau yang menjadi Perdana Menteri Kanada pada tahun 2015 lalu di usia  44 tahun.

Lalu, di Perancis, ada Emmanuel Macron, presiden terpilih di usia 39 pada tahun 2017. Tidak jauh dari Indonesia, tepatnya di New Zealand, Jacinda Ardern baru berusia 37 tahun ketika terpilih sebagai perdana menteri tahun lalu.

Sedangkan di negara tetangga, Malaysia, ada dua pemimpin muda yang masuk di kabinet PM Mahathir Mohamad. Pertama, Yeo Bee Yin, Menteri Energi, Teknologi, Sains, Perubahan Iklim, dan Lingkungan Hidup, usia 35 tahun. Kedua, Syed Saddiq, Menteri Pemuda dan Olahraga, usianya 25 tahun ketika dilantik.

Kalau di Indonesia, misalnya, ada Emil Dardak, 34 tahun, wagub Jatim terpilih. Lalu, di Jateng ada Taj Yasin, 34 tahun, yang baru terpilih sebagai wagub. Sedangkan di Bandung Barat, ada Hengky Kurniawan, 35 tahun, yang baru terpilih sebagai wakil bupati.

Lalu, buat tingkat nasional, ada Agus H. Yudhoyono atau biasa dipanggil AHY, Komandan Kogasma Partai Demokrat. AHY yang baru berumur 39 tahun ini,  menurut beberapa lembaga survei nasional, elektabilitasnya tertinggi sebagai cawapres, baik dipasangkan dengan Jokowi maupun Prabowo.

Belum lagi kalau sebentar lagi kita bakal memilih bakal calon legislator di 2019. Tentunya tidak sedikit stok caleg muda yang bisa kita temui.

Jadi, stok pemimpin muda kita sebenarnya sudah banyak. Tinggal anak mude Kalbar ja’, mau memilih pemimpin generasi old mendadak muda, atau pemimpin muda benaran? Masing-masing ada kelebihannya. Yang penting, mari pilih yang terbaik. Buat bangsa dan negara ini.

* Pengamat politik nasional dari Manilka Research, kelahiran Kalbar