Membudayakan Kembali Busana Melayu Kayong

6
BUSANA ADAT. Bupati Kayong Utara, Citra Duani mengenakan busana Melayu di Istana Rakyat di Sukadana, Kayong Utara, Senin (24/9). Kamiriludin-RK

eQuator.co.id – SukadanaRK. Tanjak dari kain songket menutupi sebagian kepala, memakai baju teluk belanga dipadu kain setengah tiang, dan celana panjang. Semua dominan warna kuning. Melengkapi penampilan, sepatu sederhana berwarna hitam membungkus kaki.

Busana Melayu tersebut dikenakan Bupati Kayong Utara, Drs Citra Duani. Ia sengaja memakai baju adat Melayu untuk mendukung agenda pelestarian seni dan budaya Melayu Kayong Utara pada Festival Budaya Kayong Utara, Senin (24/9) lalu.

Bupati Citra ingin mengingatkan dan memberi contoh kepada generasi muda mengenai busana daerah yang baik, khususnya adat Melayu. “Sebenarnya baju adat Melayu itu sudah menutupi aurat, karena terpengaruh agama dan kepercayaanya, Islam. Baju yang saya kenakan ini, sudah bisa langsung dipakai untuk ibadah sholat. Penutup kepala ini juga sunnah Nabi Muhammad Shallahu Alahi Wassalam (SAW), dianjurkan menutup sebagain kepala,” terang Citra.

Menutup sebagian kepala, tegas Bupati, bukan hanya milik adat Melayu atau sunnah dalam Islam. Sebab, pada agama Nasrani dan Yahudi juga dianjurkan. “Tidak ada emas di berbagai hiasan di baju Melayu yang saya pakai ini. Sebab, Islam melarang bagi kaum lelaki memakai emas. Inilah tradisi dan indentitas kita. Jangan begaye pakai baju tak tentu pasal yang membuka aurat pemakainya,” saran Bupati Citra.

Bupati Citra berpendapat, budaya dari luar seperti alih teknologi dan lain-lain yang baik, layak ditiru dan digunakan. “Sedangkan budaya yang merusak, seperti cara berpakaian yang mengumbar aurat, pergaulan bebebas, dan lainnya, jangan ditiru. Jadi busana Melayu layak dipakai di acara adat dan pemerintahan yang membolehkannya di momen-momen tertentu,” papar Bupati Citra.

Sementara Wakil Bupati (Wabup) Kayong Utara, H Effendi Ahmad SPdI dalam kesempatan berbeda, mengenakan baju adat Melayu dengan warha hijau yang dominan. Tidak berlebihan dan bermewah-mewahan, namun rapi dan sopan sehingga sedap dipandang. “Mari kita membudayakan kembali memakai baju Melayu dalam setiap kegiatan. Kita dapat memulainya ketika ada acara perkawinan di dalam keluarga dan acara lainnya,” ajak Wabup Effendi.

Warna dominan hijau, karena Wabup Effendi seorang pendakwah yang suka memakai kain warna hijau. Mulai dari baju teluk belanga hinga sarung yang dipakainya. Busana ketika berdakwah, Wabup kadang mengenakan peci warna putih atau hitam yang dominan. “Kita mengajak masyarakat untuk kembali membudayakan penggunaan baju Melayu dalam setiap kegiatan,” kata H Effendi mengenaka baju Melayu dengan dominan warna hijau, ketika membuka ritual Mandi Safar di Teluk Melano, Rabu (11/11) lalu.

Semangat berbusana Melayu juga ditunjukkan Pelaksana Tugas (Plt) Sekretaris Dinas Pendidikan (Disdik) KKU, Jumadi Gading SSos MSi yang mengenakan busana Melayu dominan warna hitam dan krem. Ia menerangkan jika sebelumnya di lingkungan Pemkab Kayong Utara pernah ada hari khusus mengenakan baju adat Melayu, setiap hari Kamis bagi seluruh pegawai. Namun dikarenakan ada kebijakan pemerintah pusat harus pakai baju batik, akhirnya program itu dihentikan. “Penggunaan baju Melayu di lingkungan Pemkab Kayong Utara mungkin bisa pada hari Jumat. Atau mungkin yang lain. Intinya kita tidak boleh berseberangan dengan kebijakan pemerintah pusat, juga pada seragam kerja pegawai pemerintah,” timpal Jumadi.

Ia menerangkan jika ada semangat menimbulkan identitas dalam berbusana di lingkungan pemerintahan, bukan hanya melanda Kayong Utara saja. Namun juga ingin ditampilkan daerah lain di Indonesia. “Busana Melayu Kayong Utara sudah sesuai semangat Pancasila yang menjunjung kehormatan atau menutup aurat. Demikian juga perempuan yang memakai kerudung dipadu baju kurung Melayu, tidak mengundang syahwat. Walaupun tidak semua pakai kerudung, namun dari busana atas hingga bawah sudah menutup bagian terlarang,” kupas Jumadi.

 

Reporter: Kamiriluddin

Editor: Yuni Kurniyanto