Media Cetak Harus Bikin Kangen

Kunci Pertahankan Bisnis Koran Ada Pada Perbaikan Konten

14
LADANG GANDUM. Dahlan Iskan di ladang gandum di pedesaan Amerika menjelang panen, Kamis (26/4). Admin disway.id for Rakyat Kalbar
LADANG GANDUM. Dahlan Iskan di ladang gandum di pedesaan Amerika menjelang panen, Kamis (26/4). Admin disway.id for Rakyat Kalbar

eQuator.co.idJAKARTA–RK. ’’Sebaiknya diproklamasikan, jurnalistik koran adalah kasta tertinggi dalam jurnalistik.’’ Pernyataan tersebut disampaikan mantan CEO Jawa Pos Group Dahlan Iskan, dalam diskusi model bisnis media cetak yang dihelat Serikat Penerbit Surat Kabar (SPS) di gedung Dewan Pers kemarin (8/8). Bagaimanapun, inti sebuah perusahaan Koran ada pada redaksi.
Dalam diskusi kemarin, sejumlah narasumber dari berbagai bidang saling membagikan pandangannya tentang bagaimana mengembangkan bisnis media cetak ke depan. Selain Dahlan, tapil pula CEO Tempo Inti Media Toriq Hadad, Direktur Pengelola Nielsen Indonesia Hellen Katherina, hingga President Director Hakuhodo, Irfan Ramli.
Menurut Dahlan, bila ingin terus hidup, maka media cetak, terutama koran, harus berani memproklamirkan diri sebagai jurnalistik kasta tertinggi. Konsekuensinya, kualitas produk jurnalistiknya juga harus ditingkatkan sesuai klaim tersebut. Berita yang dihasilkan harus lebih baik dari yang disajikan jenis media lain.
Untuk itu, ada satu doktrin yang harus kembali ditekankan di koran. ’’Bagaimana bikin tulisan yang (membuat) orang kangen,’’ tutur pria kelahiran Magetan itu. Itu hanya bisa diciptakan lewat sebuah karya jurnalistik yang apik, dan menjadi pembeda antara Koran dengan media lainnya.
Senada, Toriq juga menekankan pada konten yang menjadi keunggulan media cetak atas jenis media lainnya. dia mencontohkan Koran tua dari Amerika Serikat, New York Times. Total pelanggan berbayarnya, baik cetak maupun digital, tahun ini tercatat tiga juta orang. ’’Itu alasan New York Times masih hidup,’’ terangnya. Dengan pelanggan sebanyak itu, koran tersebut tidak mempersoalkan pendapatan iklannya yang hanya 38 persen.
Resepnya tidak lain adalah perbaikan konten. Perbaikan itu dilakukan dengan sistematis dan direncanakan dengan baik. ’’Orang harus membeli New York Times. Mereka dipaksa membeli untuk tahu keadaan yang sebenarnya,’’ lanjut Toriq. Kondisi itu juga didukung dengan banyaknya konten hoax di linimasa AS. Alhasil, ada pergolakan untuk mencari konten yang benar.
Strategi tersebut seharusnya bisa ditiru media cetak di Indonesia. Bagaimana membuat konten yang terbaik, sampai orang bersedia berbondong-bondong membayar demi memperoleh informasinya. Menurut dia, masih banyak ruang bagi media cetak di Indonesia untuk memperbaiki kontennya.
Sementara itu, Irfan Ramli menjelaskan keunggulan lain media cetak yang seharusnya bisa menjadi modal. Yakni, kepekaan terhadap akurasi. Dia mencontohkan, ada media online yang memberitakan kecelakaan hingga tangan korban buntung sebelah kanan. Tiga jam kemudian langsung diralat, dan diganti tangan kiri. ’’Sudah tidak pakai hati,’’ ucapnya.
Kesalahan semacam itu, lanjutnya, bagi wartawan yang masih meemgang teguh prinsip, akan membuat dia menyesal setengah mati dia akan merasa bersalah. ’’Anak-anak sekarang, dia naikin (berita) di Twitter, salah dia edit,’’ lanjutnya. ’’Buat mereka, sense of urgency-nya tipis sekali,’’ tambahnya. (Jawa Pos/JPG)