Masjid Berarsitektur Kuno di Malang Raya

Dibangun Laskar Diponegoro, Berdiri di Petilasan Raja Kertanegara

NGABUBURIT Ngabuburit di Alun-alun Kota Malang, Jawa Timur masih menjadi tempat favorit warga menunggu waktu berbuka, Senin (6/5). Lokasi tersebut tidak jauh dari Masjid Agung Jami Malang, salah satu diantara sejumlah masjid bersejarah di Kota Malang yang dibangun didirikan pada tahun 1890 M. Darmono/ Radar malang

eQuator.co.id – MALANG-RK. Masjid At-Thohiriyah masih berdiri kokoh. Meski sekilas, penampilannya telah banyak berubah. Padahal, masjid yang ada di Jalan Bungkuk, Kelurahan Pagetan, Kecamatan Singosari, Kota Malang itu terbilang masjid kuno. Bangunan untuk beribadah tersebut sudah dibangun sejak abad 18, yakni pada masa penjajahan Belanda.

Namun, pada 2008 lalu, bangunan utama masjid tersebut dipugar total. Jadi, bangunannya tak kalah indah seperti masjid lain era saat ini. Meski demikian, ada yang masih tetap dipertahankan dalam masih bersejarah itu. Apa saja?

Penasihat Takmir Masjid At-Thohiriyah H. Moensif Nachrowi menceritakan, masjid tersebut didirikan oleh Kiai Hamimuddin. Dia adalah salah satu Laskar Pangeran Diponegoro pada saat masa penjajahan Belanda. ”Peperangan Pangeran Diponegoro itu kan lama. Nah, saat itu Belanda mau berunding, ternyata itu hanya taktik licik saja,” kata dia.

Sampai Pangeran Diponegoro ditangkap dan dibawa ke Makassar. Ditangkapnya sang pemimpin membuat para Laskar Pangeran Diponegoro kehilangan induk semangnya. Mereka akhirnya menentukan jalan sendiri. ”Hanya, pesan (dari Pangeran Diponegoro) di mana pun berada tetap sebarkan agama Islam,” ungkap pria kelahiran 1935 itu. Nah, salah satu dari laskar itu adalah Kiai Hamimuddin. Dia memilih ke Singosari untuk berlabuh dan melaksanakan pesan dari sang pemimpin (Pangeran Diponegoro).

Kiai Hamimuddin pun mendirikan gubuk dan mulai menyebarkan agama Islam. Dulunya di area yang sekarang ini berdiri Masjid At-Thohiriyah itu adalah salah satu pusat peradaban agama Hindu. Namun, Islam diterima dengan baik dan perlahan mempunyai banyak pengikut. Dari gubuk itulah, kemudian bangunan diubah menjadi masjid. Dari Kiai Hamimuddin, lantas dakwah dilanjutkan oleh menantunya, Kiai Mohammad Thohir yang menikah dengan Siti Hindun Murtosiah (anak bungsu Kiai Hamimuddin). ”Jadi, masjid ini ya didirikannya sejak abad 18 dulu,” kata kiai yang juga cicit dari Kiai Hamimuddin itu. Masjid At-Thohiriyah berdiri di petilasan Raja Kertanegara. Area petilasan itu membentuk segi empat, terhubung mulai dari Candi Singosari, Arca Dwarapala, dan dua sisi lagi saluran irigasi dan lapangan (Kelurahan Pagentan). ”Ini berada di tengah-tengahnya,” lanjut Moensif.

Karena itu, saat pemugaran total pada 2008 lalu banyak ditemukan berbagai batuan. ”Ada batu gilang (andesit), ada batu bata ukurannya yang besar-besar itu,” kata dia. Beberapa batu itu saat ini masih tersimpan aman oleh Moensif, tapi beberapa lainnya hilang diambil orang. Alasan masjid dipugar karena selama ini sudah tidak menampung jamaah lagi. Uang pembangunan juga diambil dari berbagai jamaah seperti yang datang untuk ziarah ke makam Kiai Hamimuddin, Kiai Thohir, dan tokoh lainnya. ”Hingga saat ini setiap malam Jumat, Jumat, Sabtu, dan Minggu itu orang ziarah tidak pernah sepi,” lanjut dia.

Meski dipugar total, ada yang masih dipertahankan dari bangunan lama. Yakni, empat pilar yang saat ini berada di tengah. ”Empat pilar itu yang dipertahankan,” lanjut dia.

Hanya, lokasinya digeser. Jika dulu adalah tiang penyangga masjid, kini menjadi empat tiang ada di bawah kubah. Selain itu, empat tiang itu sudah dipermak. Dulu pilar itu terbuat dari kayu jati. Namun, setelah itu dilapisi tripleks. ”Saat dipugar, dilapisi lagi dengan kayu jati dan diukir seperti sekarang ini,” ungkap Moensif. Begitu juga dengan pintu yang ada di depan. Moensif menjelaskan, kayu yang digunakan untuk membalut pilar dan membuat pintu itu dibeli dari Bojonegoro. Diameternya 80 sentimeter. ”Saat itu beli dua gelondongan, satunya harganya Rp 30 juta, lalu dibuat papan. Jadi, pintu itu papan utuh tidak sambungan,” kata dia.

Soal ukiran, juga punya motif sendiri. Tidak hanya di tiang, tapi juga deret depan yang melapisi dinding batu granit. ”Motifnya bintang delapan itu ada filosofinya,” kata dia. Menurut dia, nanti saat hari akhir langit akan mendekat ke bumi. ”Saat itu semua yang dibangkitkan dari kubur akan kepanasan. Nah, nanti itu ada delapan malaikat dari delapan penjuru yang menahan langit terus turun,” kata Moensif.

Untuk lantai, dia melanjutkan, disusun dari batu granit. Ada pengalaman unik saat membeli bahan untuk lantai itu. ”Kami buat peta kotak-kotak, lalu saat Jumatan siapa yang ingin membeli keramik (lantai granit), semuanya rebutan. Ada yang ingin membeli lantai untuk imaman, saf , dan seterusnya sampai lantai dua,” kata dia sambil tersenyum.

Karena itu, dalam satu minggu kebutuhan granit untuk lantai ini sudah terpenuhi. Soal arsitektur besar, lanjut Moensif, memang dibuat modern. ”Ada arsiteknya, dari keluarga besar sini juga Abdul Wahid Himawan,” kata pria yang juga panitia pemugaran masjid dulu itu.

Mengenai mengadopsi dari mana, bangunan yang anyar itu, Moensif tidak sepenuhnya paham. Tapi, dia tidak menampik jika kemungkinan ada referensi dari masjid lainnya. ”Ya mungkin saja, namanya membangun pasti lihat bangunan yang sudah ada untuk pembeda,” pungkas Moensif.

Kini Masjid At-Thohiriyah berdiri kokoh. Jika dulu satu lantai, kini ada dua lantai dengan luas bangunannya 21 meter x 17 meter untuk lantai dasar. Untuk lantai dua lebih sempit karena berkurang untuk kubah. Masjid ini terlihat indah saat pagi hari. Dari kejauhan, tampak Gunung Arjuna yang berdiri kokoh yang berbalut permadani hijau. (Jawapos/JPG)