Marinir Tewas di Markas

Keluarga Yakin Bukan Bunuh Diri

37
MARINIR TEWAS. Mardyansyah (kiri) dan Sukiman ayah dan ibu alm. KLK Achmad Halim memandang foto almarhum semasa hidup di perumahan Bumi Marinir Karang Pilang, Surabaya, kemarin (14/9). Hanung Hambara/Jawa Pos

eQuator.co.idSURABAYA-RK. Kematian Kelasi Kepala (KLK) Achmad Halim Mardyansyah menimbulkan tanda tanya bagi keluarganya. Meski peristiwa kematiannya terjadi pada Senin (10/9) di markas Detasemen Perbekalan Pangkalan Marinir (Denbek Lanmar) Karangpilang, Surabaya, dan disebut gantung diri di halaman belakang markas, tapi keluarganya yakin dia dibunuh.

Keluarga merasa ada banyak kejanggalan dalam peristiwa tersebut. Apalagi, visum luar menguatkan adanya bekas-bekas penganiayaan. Bekas luka gantung diri pun juga terlihat meragukan. Tidak terima, keluarga meminta keadilan. Hingga kemarin, Pomal Lantamal V Surabaya dan tim dari Mabes-AL kemarin sudah turun untuk melakukan penyelidikan.

Yang paling terlihat terpukul adalah Sukiman dan Istiatin, orang tua Halim. Mereka tak berhenti menangis saat ditemui Kamis (14/9) malam. Mereka masih tak percaya putra satu-satunya yang baru menikah pada 27 Agustus lalu itu sudah menghadap ilahi dengan cara mengenaskan. “Seharusnya dia bulan madu ke Bali sama istrinya hari ini (Kamis lalu, Red),” ujar Istiatin.

Aisyah Syafiera, istri Halim, yang sedari tadi duduk bersimpuh sederet dengan orang tua korban berkali-kali menutup wajahnya. Kerudung hitam yang dia kenakan jadi saksi kepedihan tak terhingga yang harus dia alami. Perempuan 23 tahun itu harus menjanda setelah dua pekan dinikahi Halim. “Saya nggak yakin ada orang sebaik mas Halim di luar sana,” ucapnya.

Perempuan asal Wonokromo itu terakhir bertemu dengan suaminya pada Sabtu siang (8/9). Sejak pagi Halim berangkat piket di Denbek. Saat siang, dia menyempatkan kembali ke rumah untuk makan siang. Menu makan yang disantapnya bersama sang istri kala itu mie goreng buatan Istiatin. Dalam keseharian, Istiatin dan Aisyah bergantian memasak. Tapi lebih sering Istiatin. Sebab, Aisyah mengaku masih belajar memasak.

Setelah satu jam bersantap siang sejak pukul 12.00, Halim kembali ke markas. Dia piket lagi. Jam piket Denbek biasanya dimulai sejak pukul 08.00 hingga 12 jam ke depan. Kalaupun ada urusan mendadak. Biasanya Halim telat pulang satu hingga dua jam saja.

Sebelum meninggalkan rumah, tamtama marinir itu sempat menyatakan akan pulang lagi saat malam. Untuk makan malam bersama keluarga. Tapi dia tak pernah pulang lagi untuk selama-lamanya. Di momen ini keluarga sudah merasa janggal. Sebab, tak ada kabar apapun yang dilayangkan Halim. “Saya sudah chat Whatsapp tapi nggak dibalas,” kata Aisyah.

Nasi dan kuah bakso untuk makan malam itu dibiarkan di meja makan. Aisyah akhirnya memilih tidur. Saat itu dia berpikir Halim sedang sibuk di kantor. Dia tak berani menelepon atau mengirim pesan lagi. Takut mengganggu. Apalagi jarum jam sudah menunjukkan tengah malam.

Minggu pagi (9/9) kegelisahan semakin merundung Aisyah. Saat itu sudah jam 08.00, tapi suaminya tak kunjung tampak batang hidungnya. Kabar abu-abu baru datang dari Denbek 12 jam kemudian. Pukul 20.00, ada rekan Halim yang datang ke rumah. Dia menanyakan keberadaan Halim.

Istiatin menuturkan, anggota yang datang itu menyebutkan sejumlah kejanggalan. Halim tak ada di kantor. Namun, seluruh perlengkapannya ada di kantor. Mulai dari training olahraga, motor, laptop, hingga dua buah handphone (HP) Halim masih tergeletak di kantor,

Singkat cerita, Istiatin dan Aisyah berangkat ke Denbek untuk mencari Halim. Satu kejanggalan yang mereka yakini, Halim hilang di kantornya sendiri. Sukiman yang masih bekerja saat itu akhirnya juga datang menyusul ke Denbek. Begitu tiba di kantor, mereka didudukkan di ruang tamu.

Beberapa rekan Halim berusaha menenangkan mereka. Tapi perlakuan tak enak mulai muncul. Ada satu anggota yang berusaha memainkan perasaan mereka. Kuping Istiatin sampai panas mendengarnya. “Halim dibilang stres. Ada dua perempuan tak kasat mata yang suka sama dia,” kata perempuan kelahiran 1964 itu.

Istiatin marah. Dia memaki balik anggota tersebut sambil mengadu kepada suaminya yang duduk dihadapannya agar segera mengambil tindakan. Namun, Sukiman memilih untuk menenangkan istrinya itu.

Beberapa jam kemudian, mereka memutuskan untuk pulang. Mereka hendak berpamitan kepada para rekan Halim. Di luar kantor itu, mereka mendapati beberapa rekan anaknya tengah berkumpul di sebuah gang sempit. Gang itu merupakan jalan menuju halaman belakang markas Denbek. Mereka saling bergumam satu sama lain sambil melihat ke arah Istiatin. Rombongan keluarga itu berusaha mendekati kerumunan itu namun segera dicegah anggota lain. “Lho, bu mau kemana,” tiru Istiatin.

Ibu berkacamata itu segera mengurungkan niatnya dan balik kanan. Istiatin dan Aisyah kembali ke rumah dengan memendam rasa penasaran. Sukiman memilih tetap tinggal di Denbek. Dia berinisiatif untuk menenangkan diri dengan salat tahajud di musala Denbek. Rumah ibadah itu hanya beberapa langkah saja menuju halaman belakang markas yang ditumbuhi bambu liar. “Kami pulang itu sudah masuk hari Senin. Karena sudah jam 01.00,” tutur Aisyah.

Salat tengah malam itu nyatanya tak mampu mengusir kegelisahan hati Sukiman. Pria 59 tahun itu bolak-balik Denbek dan rumah. Berusaha mencari informasi, memberi kabar keluarga dan menenangkan diri. Praktis, aktivitasnya hanya mengecek HP-nya yang berusaha menghubungi paranormal di sepanjang jalan, minum air putih di rumah dan kembali berdzikir di musola Denbek.

Suasana di rumah Halim juga tak kalah kalut. Istiatin dan Aisyah tak bisa memejamkan mata. Mereka tak bisa tidur dan melupakan begitu saja kejadian hilangnya Halim yang mendadak itu.

Kepastian kabar Halim baru datang pukul 05.30. Tapi sayang, yang ditunggu-tunggu sejak dua hari lalu itu bukan kabar baik. Ketika itu, Sukiman diajak oleh seorang anggota marinir Denbek untuk ke kantor. Dia langsung lemas melihat pemandangan yang ada di hadapannya. Dia tak kuat menatap lama. Hanya sekilas. Halim tergantung di barongan halaman belakang Denbek. Tempat, ketika beberapa jam sebelumnya mereka melihat para anggota sesama kesatuan berkumpul dan mereka sempat ditanya “mau ke mana?” Saat itu amarah Sukiman bercampur duka. Tubuhnya lemas seketika melihat ada tali yang menjerat leher anaknya. Tali itu dikaitkan ke sebuah bambu yang tingginya sekitar dua meter.

Ketika tubuh Sukiman roboh, ada anggota yang menolong dan menenangkannya. Anggota itu lantas meminta izin Sukiman agar segera menurunkan jasad anaknya dan segera menghubungi keluarga. Beberapa menit kemudian Istiatin dan Aisyah tiba di lokasi dan menangis sejadi-jadinya. “Yang saya lihat almarhum sudah diturunkan dan ada keranda,” papar Istiatin. Jenazah sempat dibawa ke RSAL, sebelum akhirnya dimakamkan.

Hal tersebut membuat Istiatin merasa dipermainkan sejak awal. Sebab, lokasi kematian prajurit paling junior di Denbek itu sudah sempat akan ditilik Istiatin sejak Minggu dini hari (9/9). Namun, dia dilarang rekan sekerja anaknya. Halim akhirnya dimakamkan di TPU Karangpilang dengan tanda tanya yang masih menggantung di benak keluarganya.

Banyak Kejanggalan

Segera setelah dilihat oleh keluarga, jenazah Halim dibawa ke RSAL. Sayangnya, hanya visum luar. Tidak dilakukan otopsi. Namun, hasil visum yang keluar pada Kamis (13/9) lalu menunjukkan bahwa kematian Halim lebih karena dibunuh, bukan bunuh diri. Ada sejumlah kejanggalan.

Yang pertama adalah banyak luka dan memar di sekujur tubuh korban. ”Wajar tidak jika orang mau bunuh diri memukuli diri sendiri lebih dulu? Buat apa?” tanya seorang petugas Pomal Lantamal V yang tak mau disebutkan namanya tersebut.

Kedua adalah bekas tali yang terlihat di atas telinga. Itu posisi tali yang tidak wajar pada korban bunuh diri. Selain itu, tiang bambu untuk menggantung diri hanya setinggi dua meter, sementara tubuh Halim setinggi 191 cm. Artinya, cukup jinjit saja sudah sampai. Tentu sulit untuk tergantung sempurna.

Kejanggalan ketiga ada pada posisi tangan Halim yang menggenggam. Korban bunuh diri biasanya tangannya tidak menggenggam. ”Tapaknya terbuka. Memang sempat nggenggam karena sakit, tapi ketika mulai lemas, tapak tangannya pasti terbuka,” paparnya. Posisi tapak tangan Halim seperti dia mati dalam keadaan menahan sakit. Artinya, kemungkinan dia mati karena dianiaya.

Jasad Halim sendiri sempat dipotret oleh Sukisman, ayah Halim. Pria yang sudah purna berdinas di Marinir dengan pangkat Peltu itu nekat mengambil foto anaknya saat divisum. Dari sinilah Sukiman yakin anaknya meninggal dengan tak wajar. “Wajahnya lebam, matanya berdarah,” tutur Istiatin yang sedari tadi duduk di samping suaminya.

Dari foto itu, luka lebam ternyata tidak hanya di bagian wajah. Tapi di seluruh tubuh. Berwarna biru kehitaman. Bahkan ada luka terbuka berupa lubang di bagian pangkal paha atas sebelah kanan. Jasad Halim sudah agak membengkak. Tampaknya, usia kematian jasad tersebut sudah lebih dari 24 jam.

Seorang rekan korban berinisial KAR mengaku sudah mencium gelagat tak beres sejak awal prosesi pemakaman. Dia yang membantu mengangkat jenazah hingga ke liang kubur. Jasad Halim tertutup rapi. Bagian wajahnya pun tertutup kain kafan. Tak ada yang diperbolehkan untuk melihat wajah almarhum. “Saya nekat waktu masukin jenazah ke liang lahat,” kata pria yang kerap menggunakan udeng di kepalanya itu.

KAR menyingkap kain kafan di bagian wajah korban. Ternyata ditemui kejanggalan lain. Di balik kafan itu ada plastik bening yang membungkus tubuh korban. “Di situ saya tahu wajahnya almarhum seperti apa,” sebutnya.

Berdasar paparan dokter forensik kepada keluarga, Halim dinyatakan tewas dengan tidak wajar. Ada luka lebam bekas pukulan benda tumpul di sekujur tubuhnya. Juga luka terbuka di bagian paha. “Dokter yakin dia tidak meninggal gantung diri,” sebut Istiatin.

Selain itu, penjelasan dokter kepada keluarga dengan foto yang dimiliki punya logika lurus. Kaki korban sudah kaku dengan posisi menekuk. Padahal, jika benar-benar tergantung, seharusnya sedari awal kaki dalam kondisi lurus dan kaku. “Rencananya ke depan mau ada pembongkaran makam untuk pengecekan jenazah,” tutur salah seorang kerabat korban.

Pihak keluarga menyatakan tidak percaya sama sekali dengan keterangan dari rekan-rekan Halim. Terutama rekan piket jaganya. Sebab, saat itu Istiatin diberitahu bahwa Halim pergi sejak Sabtu malam (8/9) dan tak kunjung kembali. Padahal, motor juga sudah terparkir di halaman. “Katanya beli makan malam tapi nggak balik lagi,” jelas Istiatin.

Sepanjang wawancara, hanya Istiatin dan Aisyah yang banyak memaparkan. Sukiman lebih banyak diam dan menatap kosong ke semua orang. Dia memang yang paling shock atas kepergian Halim. Saat diminta menunjukkan foto anaknya, tangannya gemetar. Perlahan dia peluk foto putra satu-satunya itu. Kepalanya terus menunduk. Begitu sang istri pergi ke belakang rumah, dia menangis. Tangisannya lirih tapi menyayat hati. Pria bertubuh kekar itu tak mampu menguasai dirinya. Derai air mata turun deras menetesi foto dan baju kokonya yang berwarna putih.

Di konfirmasi terpisah, Kepala Dinas Penerangan Korps Marinir Letkol (Mar) Ali Sumbogo menyatakan Pomal Lantamal V Surabaya sudah diterjunkan untuk menyelidiki kasus tersebut. Kini mereka sedang di lapangan untuk menggali semua yang dibutuhkan untuk mengungkap tabir gelap kasus tersebut. “Sudah kami laksanakan sesuai prosedur,” ungkapnya.

Perwira dengan dua melati di pundak itu menyebutkan proses penyelidikan sedang berlangsung. Oleh karena itu dia belum bisa memberikan informasi apapun. Dia meminta Jawa Pos untuk menunggu proses hingga selesai. Ali berjanji akan segera memaparkan hasilnya ke publik begitu hasil penyelidikan sudah muncul. “Saya akan merilis sesuatu jika proses sudah selesai,” tutupnya. (Jawa Pos/JPG)