Lumbung Itu Tidak untuk Ayam

Oleh: Dahlan Iskan

25
KOMPLEKS PENGOLAHAN MINYAK. Kilang TWU yang didirikan di Desa Sumengko, Kecamatan Kalitidu, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, seluas 7,2 Ha dengan jarak 7 Km dari sumur minyak Lapangan Banyu Urip, yang dioperasikan oleh ExxonMobil Cepu Limited. twurefinery.com
KOMPLEKS PENGOLAHAN MINYAK. Kilang TWU yang didirikan di Desa Sumengko, Kecamatan Kalitidu, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, seluas 7,2 Ha dengan jarak 7 Km dari sumur minyak Lapangan Banyu Urip, yang dioperasikan oleh ExxonMobil Cepu Limited. twurefinery.com

eQuator.co.id – Berita ini kurang baik. Kilang kebanggaan anak bangsa ini tutup. Tidak terlalu menarik perhatian media, tapi mengusik perhatian saya.

Lokasi kilangnya di pusat pengeboran minyak Cepu. Namanya Cepu tapi wilayahnya Bojonegoro. Saya pernah mengunjunginya.

Saya pikir inilah ayam yang bertelur di lumbung padi. Tidak menyangka. Empat tahun kemudian ayam itu mati.

Berita media tidak terlalu lengkap. Tidak dalam. Menyisakan banyak sekali pertanyaan.

Saya cari nomor HP penggagas kilang ini: Rudi  Tavinos. Anak Padang lulusan kimia ITB (1989). “Anak Padang” kelahiran Banjarmasin.

Sungguh saya ingin tahu lebih banyak. Tapi sampai tulisan ini harus terbit belum ada jawaban darinya.

Waktu itu saya sungguh tertarik dengan konsep kilang ini. Kilang pertama yang sepenuhnya didesain oleh anak bangsa. Ya si Rudi itu.

Juga kilang pertama yang ukurannya kecil: 8.000 barel. Kecil tapi desainnya dibuat modular. Kalau kebutuhan lebih besar bisa ditambah modul kedua. Ketiga. Keempat. Dan seterusnya.

Maka ketika kilang itu diberitakan mati, saya kaget. Padahal sudah sempat dikembangkan modul kedua.

Ide kilang ini saya anggap brilian: dibangun di dekat sumur minyak. Dengan demikian tidak perlulah  minyak mentah diangkut ke sana ke mari.

Dikumpulkan dulu dari berbagai lapangan. Agar mencapai jumlah tertentu. Baru dikirim ke pengilangan. Padahal kilangnya jauh sekali. Harus di pinggir laut.

Ada minyak mentah yang harus  dikirim ke kilang ‘terdekat’ dengan kapal laut. Tanker. Atau dikirim dengan pipa ratusan kilometer. Pastilah biayanya lebih mahal.

Kilang kreasi Rudi ini bisa dibilang ‘kilang mulut tambang’. IRR-nya pasti lebih baik. IRR adalah rumus perhitungan waktu yang diperlukan untuk mengembalikan modal.

Pengusaha biasanya tertarik kepada bisnis yang IRR-nya di atas 14. Modal bisa kembali dalam waktu 5 tahun.

Untuk mewujudkan idenya itu, Rudi  menggandeng PT TWU. Milik temannya. Jadilah kilang itu  populer dengan nama kilang TWU. Belakangan uangnya tidak cukup. Diundanglah Saritoga. Perusahaan keuangan milik grupnya Sandiaga Uno. Yang sekarang menjabat Wakil Gubernur DKI Jakarta Raya. Saratoga memegang saham 70 persen.

Kilang ini memang kecil. Tidak seperti Balongan yang raksasa. Yang bisa sampai 125.000 barel. Hukum membangun kilang memang begitu: harus besar.

Setidaknya dua kali Balongan. Bisa lebih efisien. Namun biayanya juga gajah bengkak: Rp 100 triliun. Sekitar itu.

Mencari pinjaman Rp 100 triliun tidaklah mudah. Apalagi menyediakan modal sendiri. Apalagi IRR untuk sebuah refinery besar kurang dari 10. Tidak menarik. Secara bisnis.

Akibatnya rencana membangun kilang selalu gagal. Oleh pemerintah lama maupun baru. BBM impor terus. Terutama dari Singapura.

Jadilah kilang Balongan sebagai kilang terakhir yang pernah berhasil dibangun. Dan itu di zaman Pak Harto.

Sampailah ada pemikiran dari Rudi  itu: mengapa harus besar? Tapi tidak pernah terbangun? Mengapa tidak kecil-kecil saja? Tapi bisa menjadi kenyataan? Agar impor BBM berkurang?

Rudi punya pengalaman yang panjang. Di LNG Arun. Di LNG Badak, Bontang. Di perusahaan minyak Arab Saudi.

Tentu Rudi dihadapkan pada tesis efisiensi. Dia tahu itu. Tapi dia bisa mengatasinya dengan desainnya. Termasuk bagaimana merangkai kilang dengan resep tertentu. Agar modal yang diperlukan tidak besar. Agar IRR-nya baik. Dan itu hanya bisa dilakukan oleh swasta seperti Rudi.

Kalau ‘cara Rudi’ itu dilakukan oleh BUMN. Pertamina, misalnya, akan bisa dianggap korupsi.

Saat lapangan Exxon Cepu berada di tahap awal pengeboran, saat itu pula kilang Rudi jadi. Minyak mentah itu dia olah jadi solar. Dan empat jenis hasil lainnya.

Seluruh produksi sumur Exxon diolah di kilang Rudi. Saat produksi minyak naik, Rudi membangun modul kedua. Lebih 200 karyawan bekerja di sana.

Memang kilang Rudi tidak akan mampu menyerap semua produksi  minyak Exxon Cepu. Saat kemampuan produksinya mencapai puncaknya. Exxon harus kirim ke kilang besar. Untuk itu dibangunlah pipa besar. Sejauh hampir 100 km. Dari lokasi sumur ke tengah laut. Di utara Tuban.

Pelabuhan minyak itu memang dibangun di atas laut. Bukan di pantai. Untuk mendapat kedalaman 16 meter. Begitu jauhnya sampai tidak kelihatan dari darat.

Dan lagi, itu tidak bisa disebut pelabuhan. Tidak ada bangunan dermaganya. Hanya tonggak sandar.

Di situlah kapal pengangkut minyak mentah menerima kiriman crude dari sumur Cepu. Dikirim ke kilang besar. Termasuk ke Balongan.

Begitu fasilitas tersebut jadi, keluarlah aturan pemerintah. Tidak boleh lagi jual minyak mentah di mulut tambang. Kalau kilang Rudi  ingin mendapat minyak mentah juga harus membelinya di mulut pipa. Yang di tengah laut itu.

Lalu diangkut dengan kapal ke pantai. Lalu diangkut lagi dengan truk. Ke kilang Rudi di mulut tambang.

Dengan demikian, Rudi harus membeli minyak mentah lebih mahal. Biaya pipa ke tengah laut harus dia tanggung. Ditambah biaya kapal dan angkutan truk.

Rudi menyerah. Kilang itu terpaksa tutup. Lebih dari 200 karyawannya tidak bisa lagi bekerja. Lumbung itu ternyata tidak untuk ayam. (dis)