Lebih Berumur dari Mahathir Mohamad

PPIH Arab Saudi: Sudah Rp55 juta Duit JCH yang Tercecer

21
TERTUA. Dibimbing petugas untuk memasuki bus menuju Kota Pontianak, Bujang Abas Daud, warga Desa Galing, Kecamatan Galing, berusia 94 tahun menjadi jemaah calon haji (JCH) tertua se-Kalbar, Selasa (31/7). Sairi-RK
TERTUA. Dibimbing petugas untuk memasuki bus menuju Kota Pontianak, Bujang Abas Daud, warga Desa Galing, Kecamatan Galing, berusia 94 tahun menjadi jemaah calon haji (JCH) tertua se-Kalbar, Selasa (31/7). Sairi-RK

eQuator.co.id – Sambas-RK. Sebanyak 314 jemaah calon haji (JCH) asal Kabupaten Sambas berangkat ke tanah suci. Salah seorang JCH yang mengikuti acara pelepasan oleh Bupati Sambas, Atbah Romin Suhaili, di Asrama Haji Sambas, Selasa (31/7) adalah Bujang Abas Daud. Kakek  berusia 94 tahun dari Desa Galing itu merupakan JCH tertua se-Kalbar.

Kakek yang akrab disapa Pak Bujang ini mengumpulkan uang selama bertahun-tahun untuk mewujudkan niatnya ke tanah suci. “Saya petani karet. Saya kumpulkan uang selama bertahun-tahun, kadang hasil dari kebun lada saya kumpulkan, agar bisa berangkat haji,” katanya ketika ditemui di Asrama Haji Sambas.

Selain dari hasil kebun, Bujang menuturkan keberangkatan berhaji juga dibantu oleh anak-anaknya. Terlihat, ayah 4 anak ini saat di Asrama Haji diantarkan keluarganya.

“Ada juga bantuan anak-anak saya untuk saya berangkat haji. Hari ini saya juga diantar istri dan anak-anak saya,” ungkapnya.

Saat ditanya rahasia memiliki tubuh yang kuat di usia 94 tahun, Bujang mengaku tidak memiliki trik khusus, hanya semangat dan setiap hari berangkat ke kebun.

“Saya tidak ada rahasia apa-apa. Saya hanya selalu berdoa agar memiliki tubuh yang kuat supaya bisa berangkat haji,” tuturnya.

Suami dari Ani ini hanya membawa perlengkapan seperti JCH lainnya. Di usia senjanya, tidak ada perlengkapan khusus yang dia bawa.

“Saya hanya bawa pakaian, gula, kopi dan sambal goreng pusuk (ikan teri). Saya tidak bawa apa-apa lagi,” ungkapnya.

Kakek empat cucu ini mengungkapkan, dirinya lahir di Sekura, Kecamatan Teluk Keramat pada 24 Oktober 1924 silam. Dia menikah pada usai 30 tahun dengan Ani yang merupakan warga Kecamatan Galing.

Sementara itu, Bupati Atbah Romin Suhaili, ketika melepas JCH Kabupaten Sambas mengingatkan, pembimbing kesehatan yang ikut ke tanah suci agar konsen dan memperhatikan secara serius JCH berusia lanjut.

“Saya mengharapkan kepada pembimbing haji, serius terhadap kesehatan, terutama jemaah haji yang berusia lanjut,” pesannya. “Ada jemaah calon haji yang lebih tua dari Perdana Menteri Malaysia bapak Mahathir Mohamad, yakni bapak Bujang Abas Daud yang berusia 94 tahun,” tuturnya.

Jika nanti JCH dari Kabupaten Sambas tidak mampu melaksanakan rukun haji secara penuh, maka bisa digantikan atau dibadalkan. Untuk yang berusia lanjut harus dijaga secara ketat dan selalu dibantu urusan-urusan ibadahnya.

“Ibadah  haji yang bisa diwakilkan atau dibadalkan bisa saja dilakukan, namun untuk yang rukun wajib seperti tawaf, sai yang harus dilakukan kepada yang bersangkutan, maka harus benar-benar diperhatikan kondisi mereka,” pinta Atbah.

Pemerintah Kabupaten Sambas, bupati menegaskan, akan selalu memantau dan berkomunikasi dengan Amirul Hajj untuk mengkomunikasikan berbagai hal yang berkaitan dengan JCH dari Kabupaten Sambas. “Amirul Hajj, orang yang ditugaskan untuk melaporkan perkembangan dari menit ke menit, dari masa ke masa, semua apa yang terjadi di sana. Begitu juga untuk pihak keluarga yang ingin menanyakan saudara mereka  di tanah suci, kita juga inginkan nanti ada peliputan khusus yang melaporkan langsung dari tahan suci,” pungkasnya.

PPIH BANYAK TERIMA

TITIPAN UANG DAN BARANG

Di sisi lain, Kementerian agama (kemenag) berkali-kali mengimbau agar JCH menyimpan uang dengan baik. Namun, masih ada saja jamaah yang kurang berhati-hati. Buktinya, Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi menerima banyak titipan uang dan barang yang tercecer. Jika ditotal hingga kemarin, uang tercecer yang diserahkan kepada Kantor Urusan Haji Madinah sebanyak Rp55 juta.

Perinciannya, 15 juta dalam pecahan rupiah dan 10 ribu pecahan riyal atau Rp 40 juta jika kurs 1 riyal sebesar Rp 4 ribu. Sebagian uang tersebut ada yang tersimpan rapi di dalam dompet. Namun, ada pula yang hanya dibungkus plastik.

“Uang itu diserahkan kepada kami oleh warga yang menemukan. Yang menyerahkan ada yang warga sini (Arab Saudi, Red,), pengamanan Masjid Nabawi, jamaah haji Turki, Aljazair, dan jamaah kita sendiri,” terang Kepala Seksi Perlindungan Jamaah (Linjam) Daerah Kerja (daker) Madinah, Maskat Ali Jasmun, kepada Jawa Pos, kemarin.

Uang yang disertai identitas pemiliknya akan langsung diserahkan kepada CJH yang bersangkutan melalui petugas sektor setempat. Sedangkan uang tanpa identitas akan disimpan di kantor Daker Madinah.

“Akan kami foto, lalu diumumkan kepada jamaah. Yang merasa pemiliknya bisa datang sambil membawa bukti-bukti, nanti akan kami kroscek,” katanya.

Jika uang tidak diambil sampai masa haji berakhir, pihaknya akan menyerahkan uang tersebut kepada Kantor Urusan Haji di Jeddah. Namun, Maskat mengaku tidak paham akan dikemanakan uang tersebut.

“Yang paham ya kantor urusan haji,” ucapnya.

Selain uang tunai, Kantor Daker Madinah juga sering menerima barang-barang tercecer berupa gelang haji, kartu kesehatan, handphone, hingga kursi roda. Barang-barang tersebut diserahkan oleh petugas haji yang berada di Bandara Madinah.

“Begitu ada kursi roda datang dari bandara, langsung kami data. Setelah diketahui kloternya, kami distribusikan melalui sektor masing-masing,” jelasnya.

Meski demikian, Maskat mengakui ada beberapa jamaah yang masih menanyakan kursi roda yang tak kunjung kembali. Biasanya, kursi roda tersebut hilang di Bandara Madinah.

“Mungkin kursi roda itu tercampur dengan barang-barang milik jamaah dari negara lain atau bagamana, saya juga tidak tidak paham,” pungkasnya.

Hingga kemarin, sudah ada 17 JCH yang meninggal di Tanah Suci. Mayoritas karena serangan jantung dan penyakit lain yang diderita sejak di Tanah Air. PPIH Arab Saudi akan membadalhajikan semua yang wafat sebelum wukuf di Arafah.

 

Laporan: Sairi, JPG

Editor: Yuni Kurniyanto‎