Kolang-kaling Laris, Warga Tersenyum Manis

Ramadan Membawa Berkah Bagi Kampung Baung

33
KOLANG-KALING. Warga Kampung Baung, Kedamin Hulu, Putussibau Selatan, Kapuas Hulu sedang mengolah buah aren dijadikan kolang-kaling, Selasa (22/5). Andreas-RK
KOLANG-KALING. Warga Kampung Baung, Kedamin Hulu, Putussibau Selatan, Kapuas Hulu sedang mengolah buah aren dijadikan kolang-kaling, Selasa (22/5). Andreas-RK

Ramadan bulan berkah. Keberkahan bulan puasa turut dirasakan warga Kampung Baung Kelurahan Kedamin Hulu Kecamatan Putussibau Selatan Kabupaten Kapuas Hulu.

Andreas, Putussibau

eQuator.co.id – SEJAK jelang Ramadan Kampung Baung sudah sibuk. Semua warganya memproduksi kolang-kaling. Selama bulan puasa, mereka kebanjiran pesanan.

Ya, selama Ramadan seperti sekarang, permintaan camilan kenyal berbentuk lonjong dan transparan tersebut di pasaran meningkat. Rasanya yang menyegarkan membuat kolang-kaling banyak diburu untuk berbuka puasa. Walau hanya musiman, usaha ini cukup menjanjikan bagi warga Kampung Baung.

Hamisah salah seorang pelaku usaha kolang-kaling di Kampung Baung. Usaha ini hanya dilakoninya saat bulan puasa. Pekerjaan ini menjadi berkah tersendiri bagi keluarganya dalam memenuhi kebutuhan sehari-harinya.

“Ini pekerjaan andalan kami di bulan puasa, kalau tak bulan puasa, kami kerja mengolah daun purik (kratom),” katanya saat ditemui di lokasi pengolahan kolang-kaling di Kampung Baung, Selasa (22/5).

Setiap Ramadan Hamisah dan keluarganya rutin mengolah buah pohon aren menjadi bahan minuman kolang-kaling. Kolang-kaling ini untuk memenuhi kebutuhan pasar lokal di Putussibau selama bulan puasa. Bahkan sebelum diolah, kolang-kaling buatannya sudah terlebih dahulu dipesan pedagang. “Permintaan kolang-kaling sangat tinggi,” ucapnya.

Dalam satu mereka bisa mengerjakan 15 gantang kolang-kaling atau sekitar 40 kilogram. Untuk memenuhi pesanan tersebut, ia dibantu anak-anaknya. Aktivitas serupa dilakoni seluruh warga Kampung Baung.

Tidak hanya orangtua. Anak usia sekolah di kampung itu pun setiap hari membantu orangtuanya dalam pengolahan sampai pengemasan. “Agar mendapat tambahan uang jajan,” ucapnya.

Hamisah menjelaskan, proses pembuatan kolang-kaling yang mereka lakukan masih menggunakan alat sederhana. Buah aren yang sudah dipetik dari pohon selanjutnya direbus hingga matang. Setelah matang dikupas dan ditumbuk. Supaya jadi pipih dan teksturnya kenyal. “Setelah itu baru kita jual ke pasaran,” jelas Hamisah.

Pelaku usaha kolang-kaling lainnya di Kampung Baung, Abdul Hamid. Menurutnya, semua warga setempat bekerja mengolah kolang-kaling. Mulai dari mencari bahan, menumbuk sampai proses penjualan.

Bulan puasa kata dia, menjadi berkah tersendiri bagi warga Kampung Baung. Usaha musiman tersebut menjadi penghasilan tambahan ekonomi keluarga warga setempat. “Ketika warga lain sibuk bekerja ke luar kota, warga kami sebaliknya,” pungkas Hamid.

Bahan baku utama kolang-kaling mereka beli ke warga lainnya yang punya pohon aren. Sebab mereka tidak memiliki pohon aren. Satu pohon buah aren sekitar Rp150 ribu. “Kalau sudah sepakat dengan pemilik pohon aren ini, baru kami memetik buahnya dan diangkut dengan mobil pikap,” ujarnya.

Jika buah aren sudah melaui proses pengolahan hingga menjadi kolang-kaling, baru dijual kepada masyarakat. Ada pula yang langsung jual ke pasar. “Harganya Rp20 ribu per kilogram,” kata Hamid. (*)

 

Editor: Arman Hairiadi