KNKT Periksa Kru Pesawat Lion Air

Polri Telisik Kemungkinan Pidana

21
Lion air. The National Transportation Safety (NTSC) melakukan pencarian bagian penting dari pesawat Lion Air yang jatuh di perairan Tanjung Pakis, Kerawang, Jumat (2/11). Salman Toyib/Jawa Pos

eQuator.co.idJAKARTA-RK. Kecelakaan pesawat Lion Air register PK-LQP juga didalami Bareskrim  Mabes Polri. Sore kemarin (2/11), sekitar pukul 15.00, lima anggota Puslabfor Bareskim Mabes Polri mengambil sampel barang-barang sisa kecelakan yang digelar di dermaga Jakarta Internasional Container Terminal (JICT) 2 Tanjung Priok. Penyelidikan itu untuk memastikan ada tidaknya unsur pidana dalam kecelakaan pesawat nahas tersebut.

Pantauan Jawa Pos di lokasi, petugas tampak menyapukan kertas ke beberapa barang sisa kecelakaan itu. Seperti pakaian, koper, dan sepatu. Hasil sapuan atau swap itu lantas dimasukan ke sepuluh kantong kecil.

Juga ada pengambilan bagian kecil atau sampel dari barang-barang tersebut dengan cara digunting. Lantas dimasukan kantong kertas yang lebih besar. Puing-puing pesawat seperti dinding psawat juga dimasukan ke dalam kantong.”Serpihan tas, sepatu, serpihan pesawat. Semuanya diteliti pakai alat. Untuk memastikan semua,” ujar Kepala bidang Balistik Metalurgi Forensik (Balmetfor) Bareskrim Kombespol Ulung Kanjaya usai pengambilan sampel.

Dia menuturkan butuh waktu sepekan untuk meneliti sampel itu. Penelitian itu diantaranya untuk memastikan ada tidaknya bahan peledak dalam pesawat tersebut. Meskipun sudah terendam air laut tapi residu bahan peledak, bila ada, pasti masih menempel di barang-barang tersebut.

Penyelidikan oleh bareskrim Mabes Polri itu memang pararel dengan penelitian flight data recorder (FDR) oleh Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT). Sebab, bila ditemuan ada dugaan tindak pidana tentu akan dilimpahkan kepada polisi.”Penyidikan udah mulai dikit-dikit. Tapi kan utama KNKT. Kalau dicurigai ada tindak pidananya polisi langsung ambil alih,” ujar dia.

Ulung mencontohkan peristiwa kecelakan pesawat Garuda Indonesia Boeing 737-400 dengan nomor penerbangan GA 200 di Jogjakarta pada Maret 2007 lalu. Pilot Marwoto Komar dijadikan tersangka karena diduga salah dalam melakukan pendaratan. “Dulu kayak di jogja ada pendaratan darurat itukan ada pidana,” jelas dia.

Sementara Karopenmas Divhumas Polri Brigjen Dedi Prasetyo menuturkan bahwa tugas Polri tidak hanya membantu evakuasi, namun juga mengungkap sisi non teknis penyebab kecelakaan pesawat Lion Air JT 610. ”Kami investigasi perjalanan sejak dari Bali hingga Jakarta dan menuju ke Pangkal Pinang,” ujarnya.

Ada sejumlah hal yang dikumpulkan, seperti rekam medik pilot, rekam medik teknisi hingga profil setiap yang terlibat dalam persiapan penerbangan tersebut. ”Kami lihat latarbelakangnya,” ujarnya.

Tidak hanya mencoba mengendus kemungkinan pidana, tapi Polri juga coba memastikan apakah ada kemungkinan sabotase dari kelompok teror. ”Kita lihat semua kemungkinan,” terangnya.

Sementara proses identifikasi korban jatuhnya pesawat Lion Air JT 610 masih berlangsung. Kemarin (2/11) dipastikan terdapat tambahan sembilan kantung jenasah yang perlu diidentifikasi.

Wakarumkit TS Bhayangkara Tk 1 R. Said Sukanto Kombespol Haryanto menuturkan bahwa dari sembilan kantong jenasah ini terdapat 34 bagian yang harus diperiksa. Totalnya, saat ini ada 272 bagian yang telah diproses identifikasi. ”Untuk yang terbaru itu belum pasti bisa diidentifikasi dengan metode sidik jari dan struktur gigi,” ujar.

Apakah sudah ada yang teridentifikasi? Dia menjelaskan bahwa hingga saat ini belum ada korban yang bisa diketahui identitasnya, selain warga Sidoarjo beberapa waktu lalu. ”Kami masih sama, bersandar pada DNA,” tuturnya.

Gelombang tinggi awal bulan mengiringi pencarian pesawat Lion Air PK-LQP dengan rute penerbangan JT 610 Jumat (2/11). Tepat hari kelima operasi, Tim SAR Gabungan berhasil menemukan beberapa bagian pesawat. Hanya saja, tidak semua bisa mereka angkat kemarin. Regu penyelam yang diterjunkan oleh TNI AL butuh alat bantu lantaran objek yang harus mereka angkat terlampau berat.

Komandan Satuan Tugas (Dansatgas) SAR Lion Air JT 610 Kolonel Laut (P) Isswarto kembali turun dari KRI Banda Aceh 593 guna memimpin tim yang bergerak di lautan. Dia menjelaskan, banyak bagian pesawat yang mereka temukan kemarin. Sebagian besar sudah berupa potongan kecil. Namun, ada juga yang bentuknya masih tampak. Misalnya bagian roda. ”Sekarang sudah ditemukan roda pesawat,” kata dia kemarin.

Menurut Isswarto, kapal pendeteksi objek bawah air menemukan roda pesawat buatan Amerika Serikat (AS) itu dua hari lalu (1/11). Namun, baru kemarin penyelam TNI AL bisa menyelam dan mengambil roda tersebut. ”Ini (ban pesawat) sekarang sudah diangkat ke KRI Banda Aceh (593) oleh tim penyelam Angkatan Laut,” terang dia. Mereka mengangkat ban dari kedalaman 30 meter – 32 meter di bawah permukaan laut. Dengan arus yang juga cukup deras.

Dari data Isswarto, lokasi ban pesawat itu masih satu area dengan titik koordinat black box yang ditemukan penyelam Korps Marinir. Karena itu, medannya hampir sama. Kontur dasar laut yang berlumpur ditambah arus yang lumayan kuat. Selain itu, gelombang laut kemarin diakui Isswarto cukup kuat dibanding empat hari sebelumnya. Namun demikian, kondisi itu tidak lantas membuat nyali para penyelam ciut. ”Angkatan laut sudah biasa begini,” imbuhnya.

Gelombang laut yang terus menerjang sepanjang pencarian JT 610 kemarin, sambung Isswarto, bukan apa-apa. Tidak jadi kendala atau masalah. Selain para penyelam TNI AL sudah terbiasa, langit yang sempat berawan dinilai aman untuk penyelaman meski gelombang cukup kuat. ”Bagus untuk menyelam. Cuma sebentar lagi gelap. Matahari sudah mau tenggelam,” jelasnya. Karena itu, dia memberi batas penyelaman sampai pukul 16.30 WIB.

Bukan tidak ingin atau tidak mampu menyelam lebih lama, Isswarto ogah ambil risiko yang bisa membahayakan penyelam. Untuk itu, temuan lain berupa bagian turbin pesawat tidak dipaksakan diangkat kemarin. Disamping waktu yang tidak memungkinkan, penyelam juga butuh alat angkat yang punya cukup tenaga untuk mengangkat bagian mesin pesawat tersebut ke permukaan air. ”Karena berat, ini (turbin) masih di dasar laut,” ujarnya.

Berdasar rekaman video bawah air, turbin pesawat itu juga tidak betul-betul utuh. Sudah ada bagian-bagian yang lepas sampai berserakan di dasar laut. Namun, bentuknya masih jelas. Untuk memudahkan proses pengangkatan, penyelam TNI AL sudah memberi tanda lokasi keberadaan turbin tersebut. Bisa jadi pengangkatan memakai kapal yang punya crane dengan kekuatan besar. ”Kami masih koordinasi. Mungkin (Kapal) Baruna Jaya itu ada atau di (Tug Boat Teluk Bajau) Victory itu ada (crane),” jelas Isswarto.

Lebih lanjut, dia menyampaikan bahwa selain roda dan turbin belum ada lagi potongan pesawat berukuran besar yang ditemukan. Meski demikian, para penyelam mendapati serpihan badan pesawat yang sudah terpisah-pisah dalam ukuran kecil. Serupa temuan-temuan sebelumnya. Khusus cockpit voice recorder atau CVR juga belum berhasil didapatkan oleh para penyelam kemarin. ”Kotak hitam (kedua) belum didapatkan,” ucap dia.

Keterangan Senada disampaikan oleh Wakil Komandan (Wadan) Satgas SAR Lion Air JT 610 Kolonel Laut (P) Salim di atas KRI Sikuda 863 kemarin sore. Pria sehari-hari bertugas sebagai komandan Satuan Patroli Lantamal III Jakarta  menjelaskan, temuan roda sudah diangkat oleh penyelam dari matra laut. Jumlahnya hanya satu unit. Sedangkan temuan turbin yang juga satu unit masih di dasar laut. ”Teknis pengangkatan sedang dibicarakan,” ujarnya.

Besar kemungkinan mekanisme pengangkatan turbin berbeda dengan pengangkatan roda. Kemarin, roda JT 610 diangkat memakai lifting bag milik Dinas Penyelamatan Bawah Air (Dislambair) Komando Armada I. Dari dasar laut, turbin itu dinaikan k etas Landing Craft Unit (LCU) KRI Banda Aceh 593. Lantaran bobot turbin berlibat lebih besar, menggunakan crane menjadi opsi yang paling memungkinkan.

Penemuan flight data recorder (FDR) Pesawat Lion Air PK LQP menjadi harapan adanya titik terang. Di darat, komisi nasional keselamatan transportasi (KNKT) juga melakukan investigasi dengan wawancara maupun meneliti serpihan pesawat.

Sehari sebelum jatuh di Laut Tanjung Karawang, pesawat itu memang menunjukkan hal yang aneh. Jawa Pos sempat menemukan laporan Capt William Martinus dan first officer Fulki Naufan. Laporan tersebut seperti berikut:

A: PK LQP, B737 Max 8

D: 28.10.2018

O: Airspeed unreliable and alt disagree shown after take off.  STS was also  running to the wrong direction, suspected because of speed difference. Identified that CAPT instrument was unreliable and handover control to FO. Continue NNC of Airspeed Unreliable and ALT disagree. Decide to continue flying to CGK at FL280, landed safely rwy 25L

R: DPS CGK LNI 043

E: AFML

R: Capt William Martinus/133031, FO M Fulki Naufan/ 144291

Wakil Ketua KNKT Haryo Satmiko membenarkan laporan tersebut. Wartawan sempat menunjukkan laporan itu kepada Haryo seusai perskonference di kantor KNKT kemarin (2/11). Menurutnya, itu mirip dengan yang didapat KNKT. ”Ini tadi (kemarin, Red) ada 10 kru pesawat yang flight sebelumnya sedang kami periksa. Mungkin masih di bawah,” katanya.

Dalam laporan penerbangan pesawat PK LQP dari Bali menuju Jakarta diketahui baha ada masalah pada airspeed dan altitude. Petunjuk airspeed antara pilot dan first officer tidak sama. Padahal kedua alat tersebut harus berfungsi dengan baik untuk mengetahui kecepatan dan ketinggian pesawat.

Sebelumnya Direktur Umum Lion Air Edward Sirait mengakui jika pesawatnya mengalami gangguan teknis saat terbang dari Bali menuju Jakarta. Meski demikian, tehnisi Lion Air langsung melakukan perbaikan. ”Sesuai dengan petunjuk oleh pabrik pesawat,” ungkapnya.

Haryo juga menjelaskan bahwa KNKT terus mengumpulkan bukti-bukti yang mendukung penyelidikan kecelakaan pesawat PK LQP tersebut. Selain mengumpulkan keterangan dari kru pesawat, rencananya KNKT memanggil bagian tehnik hingga HRD. ”Bagian HRD nanti akan melihat kompetensi pilot. Bagaimana sertifikatnya, pelatihannya,” ungkapnya.

KNKT juga melakukan wawancara kepada saksi mata. Beberapa nelayan yang berada di sekitar tempat jatuhnya pesawat ditanyai. Dari keterangan mereka didapat baha nelayan melihat ekor pesawat yang paling terakhir masuk air. ”Kecepatannya mencapai 500 km/jam. Kami belum berani berspekulasi bagaimana jatuhnya. Namun kalau meledak di udara, tidak ada bekas terbakar,” bebernya.

Dugaan kecil kemungkinan pesawat meledak di udara juga diakui investigator KNKT Ony Soerjo Wibowo. Salah satu tanda pesawat meledak di udara adalah sebaran puing yang luas. Namun pada kecelakaan ini, puing pesawat tidak jauh tersebar.

Terkait dengan FDR yang ditemukan, kemarin tim investigasi KNKT tengah melakukan pengeringan. Sebelumnya, alat tersebut dicuci dengan air tawar. ”Mengeringkan dengan mesin. Biasanya 1 x 24 jam,” ucapnya. Setelah pengeringan, maka rekaman akan didownload. ”Prosesnya dua jam,” imbuhnya.

Tim KNKT yang berada di Kapal Baruna Jaya I juga mendapat tambahan 4 investigator. Dua dari internal KNKT, dua lagi dari National Transportation Safety Board (NTSB) Amerika. Tidak hanya personel, mereka juga mendapatkan bantuan ping locator untuk mendeteksi black box. ”Sehinga totalnya empat,” ujarnya.

Di sisi lain, Presiden Joko Widodo untuk kali kedua datang langsung ke dermaga Jakarta International Container Terminal, sore kemarin. Dia memastikan pencarian jenazah korban dan bagian pesawat Lion Air tergister PK-LQP itu bisa segera tuntas dievakuasi. Karena menggunakan alat-alat canggih seperti multibeam echosounder dan side scan sonar. ”Saya titip agar gunakan seluruh kemampuan yang ada, teknologi yang ada, agar cepat untuk mencari yang belum diketemukan,” kata Jokowi didampingi Menhub Budi Karya SUmadi, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto, dan Kepala Basarnas Marsekal Madya M. Syaugi.

Pada kesempatan singkat itu, Jokowi juga mengucapan selamat dan terima kasih kepada dua penyelam Sertu Marinir Hendra Syahputra dan Kopda Marinir Noor Ali serta seorang peneliti BPPT Handoko Manoto. Mereka dinilai berjasa dalam penemuan flight data recorder (FDR) pada Kamis (1/11) lalu.

”Atas kecepatan penemuan black box kemarin (Kamis, Red) saya ing sampaikan terima kasih disini ada dua dari TNI dan satu dari BPPT,”  kata Jokowi. Mereka bertiga lantas maju dan bersalaman dengan Jokowi.

Handoko menyebut tak ada bingkisan apapun yang diterima dari Jokowi. Dia pun diminta untuk mewakili tim Kapal Baruna Jaya I yang sebagian besar kembali lagi ke perairan Karawang untuk mencari lagi Cokpit Voice Recorder (CVR). Menurut Handoko, sinyal lokasi CVR itu sebenarnya sudah diketahui sekitar 50-100 meter dari lokasi penemuan FDR. Meskipun begitu, tapi kondisi di dalam laut menyulitkan penyelam meskipun telah membawa ping locater.

”Penyelam harus berkonsentrasi tinggi untuk membedakan suara ping dengan suara kapal yang berlalu lalang,” ujar engineer bidang instrumentasi itu. Selain itu, arus bawah permukaan laut juga kuat. Meskipun berjarak 50-100 meter dari lokasi FDR tak mudah mendapatkan lokasi CVR.

Kepala Basarnas Marsekal Madya M. Syaugi menuturkan sinyal ping CVR memang sudah terdeteksi. Tapi sinyal itu tak muncul lagi. Bakal dipergunakan ping locator yang lebih sensitif untuk mencari lokasi CVR itu. ”Dari kemarin sampai tadi ini (CVR) tidak bunyi,” kata Syaugi.

Selain mencari CVR, Basarnas juga mencari puing-puing pesawat. Lokasinya tak jauh dari peemuaan FDR. Di sekitar temuan FDR itu banyak sekali berserakan puing pesawat. Termasuk ada roda dan baling-baling mesin pesawat. Pengangkatan roda itu menggunakan crane dari kapal Victory milik Pertamina. Tapi, body pesawat yang lebih besar belum juga ditemukan.

”Sampai sekarang belum ketemu itu barang (body pesawat, Red). Jadi yang banyak serpihan-serpihan seginilah kira-kira,” ungkap Syaugi sambil mengangkat dua tangan membentuk jarak sekitar semeter.

Lokasi pencarian puing-puing itu saat ini memang difokuskan di sekitar temuan black box yang berjarak sekitar 500 meter arah barat laut lokasi lost contact. Puing pertama ditemukan 2-3 nautical mile arah barat daya dari posisi lost contact. Sedangkan puing-puing yang besar termasuk roda ditemukan di sebelah selatan dengan jarak 300 meter dari black box.

”Kapal Victori dengan empat jangkar dia stay di posisi di atas dari tadi lokasi serpihan yang besar-besar itu. Dipetakan di bawah, setelah itu baru penyelam turun mana yang bisa diangkat,” jelas dia. Hari ini (3/11), pencarian akan diperluas daya jelajahnya dengan ROV.

Pencarian dan evakuasi korban itu dilakukan sampai Minggu (4/11). Bakal ada evaluasi lagi untuk memperpanjang masa pencarian atau menyudahinya. ”Kalau Minggu masih ada kemungkinan untuk bisa ditemukan kita lanjut tiga hari. Setelah sepuluh hari dianalisa lagi,” tambah dia.

Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan pun melakukan pemeriksaan secara intensif. Pemeriksaan pesawat udara yang dilakukan oleh Inspektur Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara di Direktorat Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara serta kantor otoritas bandar udara. ”Kantor otoritas bandar udara di seluruh Indonesia melakukan ramp check secara mendalam mencakup indikasi masalah yang berulang, pelaksanaan troubleshooting, kesesuaian antara prosedur dan implementasi pelaksanaan, serta banyak lagi,” kata Plt Dirjen Perhubungan Udara Pramintohadi Sukarno kemarin di kantornya.

Pada Rabu lalu (31/10) rampchekc telah dilakukan di Bandara Soekarno Hatta dan Bandara Kualanamu Medan. Ada enam pesawat yang diperiksa. Dua diantaranya ditemukan kesalahan minor yang bisa dilakukan perbaikan dengan cepat. ”Rampcheck selanjutnya dilakukan sesuai dengan jadwal mendaratnya pesawat,” ucapnya

Sedangkan untuk pemeriksaan khusus Boeing 737 MAX 8, hasilnya baik. Ditjen Perhubungan Udara mendapati bahwa komponen yang terpasang tidak melewati batas umur pakai dan gangguan teknis pada airspeed dan altimeter system tidak ditemukan. (Jawa Pos/JPG)