Khutbah 17 Menit, Sampaikan Pesan Toleransi hingga Korupsi

Ketika Menteri Agama Fahrul Razi Khatib Salat Jumat di Istiqlal

KHATIB JUMAT. Menteri Agama (Menag) Fachrul Razi ketika menjadi khatib Salat Jumat di Masjid Istiqlal kemarin (1/11). Jawa Pos Photo

eQuator.co.id – Rabbana ya Allah… Bimbinglah kami sehingga kami menjadi manusia-manusia yang mengenal perbedaan itu. Dan bisa menjadikan berbedaan itu titik kuat untuk kami semua. Ya Allah bimbinglah kami agar selalu menjauhi semua larangan-larangan Mu. Dan mendekati semua petunjuk-petunjuk Mu.

Itulah secuil doa yang dibacakan Menteri Agama (Menag) Fachrul Razi ketika menjadi khatib Salat Jumat di Masjid Istiqlal kemarin (1/11). Seperti yang dia sampaikan pada forum Lokakarya Peningkatan Peran dan Fungsi Imam Tetap Masjid beberapa waktu lalu, Fachrul berharap dalam doa penceramah menyisipkan doa dalam bahasa Indonesia.

Ditemui sebelum meninggalkan Istiqlal, Menteri kelahiran Banda Aceh itu kembali menjelaskan soal doa dalam bahasa Indonesia. ’’Oh iya harus ada (doa bahasa Indonesia, Red),’’ tuturnya. Sebab menurut pensiunan jenderal TNI bintang empat itu, kadang-kadang kalau doa yang semuanya bahasa Arab, belum tentu jamaah paham.

Dia mencontohkan ketika penceramah berdoa supaya dijadikan umat yang bisa menjaga perdamaian, jamaah belum tentu paham ketika disampaikan dalam bahasa Arab. Padahal dalam berdoa, supaya bisa lebih meresapi, jamaah harus juga tahu artinya.

Fachrul menjadi khatib Salat Jumat di Istiqlal bisa dibilang spesial. Sebab kemarin adalah hari Jumat keduanya setelah dilantik Presiden Joko Widodo sebagai menteri. Sebelumnya tidak ada catatan Menag Lukman Hakim Saifuddin menjadi khatib di masjid berkapasitas 200 ribu orang itu. Meskipun Lukman menjabat Menag selama satu periode lebih.

Lulusan Akmil 1970 itu naik mimbar khutbah dengan setelan jas hitam. Dia terlihat sempat membetulkan kacamatanya ketika membaca teks khutbah. Dalam khutbah berdurasi 17 menit itu, Fachrul mengangkat tempat soal toleransi.

’’Tuhan menciptakan manusia berbeda-beda,’’ katanya.

Padahal menurutnya Allah bisa saja menciptakan manusia dalam satu golongan saja. Tetapi justru Allah menciptakan manusia berbeda-beda supaya saling mengenal. Sebaliknya ketika Allah menciptakan manusia dalam satu golongan saja, malah senantiasa berselisih.

Selain itu Fahrul juga menyinggung soal pemimpin yang harus adil. ’’Kalau pemimpin tidak adil, rakyat tidak bahagia,’’ jelasnya. Ketika rakyat sudah tidak  bahagia, maka tidak bisa diajak bersatu. Pesan kepada pemimpin jika diberi amanah maka harus berlaku adil. Menjalankan hukum seadil-adilnya.

Kemudian Fachrul mengingatkan bahwa Allah maha melihat dan mendengar. Dia mengatakan acap kali orang berbuat kejahatan di ruang sempit dan terutup.

’’Mungkin diharapkan, maaf, KPK tak lihat, aparat hukum tak lihat. Atau buat maksiat dengan harapan tak ada orang yang tahu,’’ katanya. Padahal dia menegaskan Allah itu maha melihat dan mendengar.

Dalam beberapa kesempatan Fahchrul menuturkan soal pencegahan korupsi. Dia menyebutkan ada tiga prioritas aksi mencegahan korupsi. Yakni menutup semua pintu yang berpeluang terjadi korupsi. Kemudian membuka kehadiran whistle blower dan tidak tegas pelanggar atau pelaku korupsi baik secara administrasi maupun hukum.

Saat disinggung apakah akan lebih sering menjadi khatib salat Jumat, Fachrul sempat melempar senyum. ’’Sekali-kali saja. Tugas menteri (menteri agama, Red) kan bukan untuk khutbah. Tetapi sekali-kali boleh,’’ katanya lantas meninggalkan Masjid Istiqlal.

Sosok Fachrul memang bukan berasal dari kalangan kiai. Namun dia sempat mengatakan bahwa dirinya aktif mendalami ilmu agama. Dia juga mengaku sering khutbah dan ceramah di sejumlah lokasi. Komentar itu dia sampaikan setelah dilantik Jokowi menjadi Menag.

’’Dan setiap ceramahnya (saya) enggak jauh tentang pesan Islam yang damai, tentang toleransi, tentang persatuan, dan kesatuan,’’ katanya.

Dia menduga kegiatan ceramahnya di banyak tempat yang kerap membawa pesan toleransi dan menangkal radikalisme itu mendapat perhatian Presiden Jokowi. Selain itu Fachrul tidak menampik pengalamannya di bidang militer juga menjadi pertimbangan ditunjuk sebagai menteri.

Seperti diketahui pada masa Presiden Abdurrahman Wahid, Fachrul menduduki jabatan sebagai Wakil Panglima TNI. Ketika serah terima jabatan dengan Lukman Hakim Saifuddin, Fachrul menyampaikan dirinya belajar ilmu agama dengan kuat saat masuk ke Akademi Militer (Akmil).

Setelah tamat Akmil, Fachrul melanjutkan kegiatan dakwahnya sambil menjalankan tugas pembinaan territorial. Dari satu tempat ke tempat lain, Fachrul mengajarkan nilai-nilai Islam yang rahmatan lil’alamin.

’’Saya ada jadwal khutbah di masjid-masjid meskipun saya tidak banyak hafal ayat,’’ katanya.

Dia bahkan sempat berseloroh tidak canggung walaupun hanya hafal Juz Amma. Fachrul menuturkan, keaktifannya dalam kegiatan keagamaan membuat dikotomi dalam dunia kemiliteran, di mana ada perwira hijau dan perwira merah putih.

Sementara itu di bidang politik, Fachrul sempat menjadi Ketua Tim Bravo 5. Tim tersebut adalah relawan Jokowi-Ma’ruf yang terdiri dari para purnawirawan TNI yang sebagian besar merupakan lulusan Akademi Militer angkatan 1970-an.

Tim tersebut dibentuk pada 2013 untuk memenangkan Jokowi-Jusuf Kalla di Pemilu 2014. Aksi relawan Tim Bravo 5 nampaknya berlanjut hingga kampanye untuk memenangkan Jokowi di kontestasi Pilpres 2019-2024 yang menggandeng KH Ma’ruf Amin sebagai wakilnya.

Pada penghujung tahun 2018, Fachrul Razi sempat mengatakan Bravo 5 dibentuk untuk menepis persepsi bahwa seluruh purnawirawan TNI mendukung calon presiden Prabowo Subianto. Meski begitu, dia enggan disebut menjadi Menag karena berasal dari kalangan partai politik. Dia lebih memilih mewakili dari kalangan profesional di kabinet. (Jawa Pos/JPG)