Ke Mana Anwar Ibrahim?

Oleh: Dahlan Iskan

21
Dahlan Iskan

eQuator.co.id – Ejek-mengejek mulai terjadi di Malaysia. Saat reformasi baru akan berumur satu bulan.

Mantan perdana menteri Najib Razak sudah mulai berkomentar. Kebetulan Menkeu baru Lim Guang Eng memang agak sembrono. Guang bilang fundamental ekonomi Malaysia baik. Mungkin untuk membuat para investor tidak kabur.

Najib pun bersorak di Twitter: Belum satu bulan berkuasa, Pakatan Harapan sudah bilang ekonomi Malaysia baik. Apakah begitu hebatnya pemerintahan yang baru bisa membuat ekonomi tiba-tiba menjadi baik dalam waktu kurang dari sebulan?

Menkeu Guang Eng bungkam. Bahkan ia diingatkan koleganya: Menkeu itu tidak boleh banyak omong. Ujung lidahnya ada di pasar. Maksudnya: kata-kata seorang Menkeu akan mempengaruhi harga saham dan nilai mata uang. Harus hati-hati. ”Mulut Anda masih terbawa sikap oposisi,” kata koleganya.

Guang Eng memang kelamaan jadi oposisi. Yang untuk ceplas-ceplos mudah saja. Saat baru lahir pun, bayi Guang Eng  sudah oposisi.  Bapaknya, Lim Kit Siang, tokoh keras oposisi. Sepanjang umurnya.

Najib juga mulai berani melapor ke polisi. Mengenai penggerebekan rumah dan apartemennya. Mengenai barang-barang yang disita. Yang dia anggap tidak mencerminkan penegakan hukum yang baik.

Putri Najib juga lapor polisi. Barang-barangnya ikut disita. Termasuk, katanya, barang-barang yang terkait dengan perkawinannya.

Arul Kanda, CEO 1MDB juga mengancam akan menggugat Menkeu. Atas komentar-komentar Menkeu soal 1MBD. Kali ini Menkeu tidak bungkam. Katanya: Gugat saja saya. Akan saya ladeni.

Perkembangan terbaru: Lim Guang Eng sudah bebas dari status tersangka. Minggu lalu. Jaksa Agung sudah mencabutnya. Perkara itu dulunya memang dipaksakan. Karena Guang Eng saat itu lagi jadi incaran.

Belakangan Najib langsung tiarap lagi. Ketika diminta membeberkan penilaiannya tentang Menkeu. Najib tidak mau berkomentar. Katanya: penasehat hukum saya minta saya tidak bicara.

Partai UMNO sendiri, masih sulit konsolidasi. Bahkan di negara bagian Perlis gontok-gontokan. Saya mengikuti dengan was-was. Universitas di Perlis inilah yang memberi saya gelar profesor kehormatan.

UMNO masih menang di Perlis. Berarti menteri besarnya dari Umno. Tapi baru saja dilantik, dipecat oleh partainya. Menteri besar yang baru lantas dilantik. Sampai sekarang masih kisruh.

Untuk konsolidasi kelihatannya juga sulit. Salah-menyalahkan tidak kunjung berhenti. Pilihan tokohnya juga tidak mudah. Terutama yang bisa menyatukan serakan itu. Pilihan kelihatannya akan terpaksa. Jatuh ke tokoh tua: Tengku Razaleigh Hamzah. Umur: 83 tahun.

Memang Razaleigh sudah bukan pengurus inti Umno lagi. Tapi namanya masih melekat. Juga dituakan. Ia masih anggota DPR. Bahkan anggota terlama. Sejak tahun 1969. Sejak yang ‘satu itu’ belum lahir. Dari daerah pemilihan Kelantan Barat Hulu.

Hebatnya Razaleigh selalu bisa mengalahkan saingannya. Yang hampir selalu dari partai Islam PAS. Padahal Kelantan adalah basis PAS. Mayoritasnya selalu PAS. Sampai sekarang.

Saat saya ke Kelantan pun topik pembicaraan saya di sana soal Razaleigh. Di samping soal ekonomi. Terutama soal dampak larangan jual tanah ke penduduk non-pri. Apa pengaruhnya terhadap ekonomi Kelantan.

Lalu ke mana Anwar Ibrahim? Setelah keluar dari penjara?

Minggu depan ia ke London. Ceramah di sana. Lalu ke Turki.  Dia sudah bertemu pimpinan Singapura, Lee Shien Long. Sudah ketemu pemimpin India Modi. Sudah terbang ke Jakarta: untuk ketemu teman lama di Jakarta.

Anwar juga melakukan apa yang harus ia lakukan. Sebagai politisi suku Melayu: keliling negara-negara bagian.

Sowan ke raja-raja setempat: Selangor, Pahang, Kelantan, Johor Baru. Dan seterusnya. Bahkan minggu ini ke Johor Baru lagi. Bertemu Sultan Ibrahim Sultan Iskandar lagi.

Yang gemuruh saat ke Kelantan. Bersama istrinya dan anak perempuannya: Nurul Izzah. Media sosial menggemuruhkannya. Gara-gara dalam pertemuan itu pejabat raja tidak sendirian. Tengku Muhammad Faiz Petra saat itu didampingi ibunya.

Faiz Petra menjadi pejabat raja karena raja yang asli, sedang mendapat giliran menjadi Yang Dipertuan Agong Malaysia. Ialah: Muhammad V. Kakak sulungnya.

Pertemuan itu digemuruhkan sebagai persiapan ‘perkawinan kerajaan’. Memang tidak jauh dari heboh perkawinan Pangeran Harry dan Megan di kerajaan Inggris.

Siapa dengan siapa? Nurul Izzah dengan Tengku Faiz Petra. Nurul sudah berumur 36 tahun. Faiz 46 tahun. Kebetulan lagi menduda.

”Aztaghfirullah….,” komentar Wan Azizah, ibunda Izzah. Alhamdulillah….(dis)