Kalteng-Kalbar Belum Terkoneksi

Jaringan Pipa Transmisi Gas Trans Kalimantan

Maman Abdurrahman, Anggota Komisi VII DPR RI

eQuator.co.id – PONTIANAK-RK. Jaringan pipa transmisi gas trans Kalimantan menjadi agenda besar untuk digodok di Komisi VII DPR RI. Meski sepanjang 192 kilometer pipa gas telah membentang dari Kalimantan Tengah (Kalteng) sampai Kalimantan Selatan (Kalsel), koneksi menuju Kalimantan Barat (Kalbar) sejauh 1.018 kilometer belum terealisasi.

Studi kelayakan rencana pembangunan pipa transmisi gas Trans Kalimantan yang digagas Badan Pengatur Kegiatan Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH-Migas) mendapat dukungan dari anggota Komisi VII DPR RI yang membidangi masalah energi, Maman Abdurrahman. “Ini (pipa transmisi gas tans Kalimantan, red) memang aspirasi saya sebagai anggota dewan dari Kalimantan, terutama di Kalbar,” klaimnya, Minggu (16/6).

Maman mengatakan, perencanaan pembangunan jarinan pipa transmisi gas itu, kini sedang dijajaki oleh BPH-Migas. Sekarang, kata dia, jaringan pipa dari Kalteng sampai Kalsel sudah tersambung sepanjang 192 kilometer. Tinggal jaringan pipa dari Kalteng-Kalbar sepanjang 1.018 kilometer yang belum terealisasi. Karena itu, Wasekjen DPP Partai Golkar tersebut memastikan akan mengawal rencana pembangunan jaringan pipa transmisi gas itu, supaya bisa mengalir sampai ke Kalbar. “Ini sudah menjadi komitmen saya. Untuk mengawal dan mendorong agar segera terealisasi,” katanya.

Maman meminta pemerintah pusat melalui Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) serius menyambut rencana pembangunan jaringan pipa transmisi trans Kalimantan. Agar bisa dimasukkan dalam program strategis nasional. “Harapan saya, jangan hanya sekadar lip service saja. Saya berharap agar pemerintah pusat melalui Kementerian ESDM serius untuk mewujudkannya, mengingat daerah Kalimantan yang cukup banyak sumber daya alamnya, namun belum mendapatkan manfaat yang optimal,” ucapnya.

Baginya, perspektif pembangunan pipa transmisi gas di Kalimantan bukan sekadar membangun infrastruktur sarana pipa saja. Namun, rencana pembangunan strategis itu harus memiliki tujuan yang lebih besar, untuk membangun peradaban negara dibidang pemanfaatan energi yang ramah lingkungan. “Kita berharap pemerintah mendorong penggunaan energi yang bersih, ramah lingkungan, serta bisa mengatasi kesemerawutan permasalahan distribusi bahan bakar yang sekarang terjadi,” pungkasnya

 

Laporan: Abdul Halikurrahman

Editor: Yuni Kurniyanto