Kalau Si Melon Tak Dievaluasi, Bakal Muncul Gejolak

OPERASI PASAR. OP Elpiji Melon di Pasar Kemuing, Sungai Jawi, Pontianak, diserbu masyarakat, Kamis (31/10). Abdul Halikurrahman-RK

eQuator.co.id – Pontianak-RK. Ternyata, suplai elpiji bersubsidi kepada agen melebihi kuota yang diberikan melalui tiga Stasiun Pengisian Bulk Elpiji (SPBE) di Kota Pontianak, Kubu Raya dan Mempawah.

“Seharinya kuota elpiji bersubsidi di Kota Pontianak 22 ribu tabung. Namun jumlah tersebut mengalami kekurangan seiring dengan meningkatnya usaha mikro di Kota Pontianak. Akibatnya kelangkaan pun terjadi,” ungkap Hariyadi S Triwibowo, Kepala Dinas Koperasi Usaha Mikro dan Perdagangan Kota Pontianak, Kamis (31/10).

Tapi, tahukah Hariyadi berapa suplai si melon kepada agen dan pengecer? Ternyata dari tiga SPBE loading order (permintaan) agen jauh sekali melebihi permintaan.

Seperti diberitakan, setiap hari yang keluar dari tiga SPBE diduga berkisar 200 LO. Setiap LO berisi lebih 556 tabung si melon (satu truk). Silahkan kalikan jumlahnya yang berlimpah.

Hariyadi juga tidak memungkiri  penyalurannya si melon masih ditemukan tidak tepat sasaran. Misalnya para pelaku usaha menengah seperti restoran, rumah makan, hotel, cafe, laundry, menggunakan gas elpiji bersubsidi.

“Bahkan, ada masyarakat mampu yang semestinya menggunakan tabung gas 5 atau 12 kg, tapi dia pakai yang subsidi 3 kg. Itu yang menyebabkan kelangkaan pula,” jelasnya.

Kondisi itu kata dia, masih ditemukan pihaknya dalam pengawasan dan pengendalian pendistribusian gas melon. Beberapa rumah makan, restoran, industri masih ditemukan mengunakan elpiji 3 kg.

Langkah yang dilakukan biasanya dengan membuat tindakan di tempat. Dan langsung membuatkan pernyataan. “Tabung elpiji 3 kg tadi langsung kita diganti dengan tabung  12 kg atau 5 kg,” ungkapnya.

Sesuai aturan, lanjutnya, masyarakat yang dibolehkan menggunakan elpiji 3 kg adalah warga yang tidak mampu, miskin, dan pelaku usaha mikro atau usaha rumahan.

“Kuota 22 ribu sudah tidak mencukupi lagi. Harusnya di Kota Pontianak ditambah,” kata Hariyadi tanpa memberikan data akurat usaha kecil yang layak pakai si melon.

Sistem Distribusi

Kelangkaan si melon mengusik kepedulian Wakil Ketua DPRD Kalbar Ir. Suriansyah. Dia mendorong Pertamina segera memperbaiki proses distribusi elpiji 3 Kg. Itulah penyebab utama kelangkaan si melon di berbagai wilayah Kalimantan Barat.

“Pertamina harus memperbaiki dan mau mengoreksi kebijakannya dalam proses distribusi elpiji bersubsidi,” katanya kepada Rakyat Kalbar, Rabu, (31/10) sore.

Menurut DPD Partai Gerindra ini, harus ada upaya yang berani dilakukan Pertamina terhadap kesalahan pendistribusian penyebab kelangkaan. “Mungkin pendistribusian gas ini ada yang tidak benar. Mungkin juga digunakan oleh orang-orang yang tidak berhak. Padahal elpiji bersubsidi menjadi hak masyarakat miskin,” terangnya.

Ia juga mendorong Pertamina mengambil tindakan dalam menyelesaikan masalah tersebut. Misalnya, menunjuk badan usaha milik Desa (BUMDes), mendistribusikan si melon ke desa-desa tepat sasaran.

“Kalaupun tidak di Bumdes, bisa ke badan usaha swasta yang ada di desa-desa. Sehingga penjualannya tepat sasaran yang membutuhkannya,” ungkapnya.

Jika tidak dilakukan dengan cepat mengatasi masalah tersebut, Suriansyah yakin kelangkaan akan terus berulang, tanpa kita bisa mengatasinya.

“Saya rasa itu yang paling penting. Kalau tidak akan menyebabkan kegaduhan dan gejolak-gejolak ditengah masyarakat. Dan mendorong laju inflasi dan pada akhirnya menurunkan kesejahteraan masyarakat,” pungkasnya.

 

Laporan: Andi Ridwansyah

Editor: Mohamad iQbaL