Jangan Sebarkan Hoax Tragedi Lion Air

Diduga Korban Berada di Bodi Utama Pesawat

8
Ilustrasi : Internet

eQuator.co.idPONTIANAK-RK. Pesawat Boeing 737 MAX 8 milik PT Lion Mentari Airlines (Lion Air) yang mengalami kecelakaan di Laut Jawa utara Bekasi, Jawa Barat memakan korban sebanyak 189 orang. Setakat ini, banyak beredar informasi bohong terkait tragedi tersebut.

Pelaksana Tugas (Plt) Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono mengucapkan bela sungkawa atas musibah pesawat dengan nomor penerbangan JT-610 itu. Namun ia menyayangkan banyak hoax disebarkan orang-orang yang tak bertanggung jawab terkait peristiwa tersebut.
“Dalam suasana duka, masih ada yang bermain dengan informasi yang justru membuat kita ikut prihatin dengan berita hoax yang menggambarkan seolah-olah suatu hal yang biasa,” ujarnya, Selasa (30/10).
Untuk itu, Edi mengajak seluruh masyarakat terutama Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Kota Pontianak agar tidak ikut-ikutan menjadi penyebar hoax. Kalau mendapatkan berita yang belum jelas sebaiknya dikonfirmasi. “Itulah tugas ASN yang cerdas dan mempunyai karakter,” katanya.
Dijelaskannya, saat ini Kota Pontianak sudah baik. Harmonisasi dan toleransi yang sudah tinggi harus selalu dijaga bersama. Agar Kota Pontianak tetap tentram, aman dan damai. “Pesan saya tetap jaga persatuan dengan mentaati aturan yang ada. Aturan sudah jelas,” tutup Wali Kota Pontianak terpilih ini.

Sementgara itu, pencarian korban kecelakaan pesawat mulai bergeser ke dasar laut. Dipastikan, jenazah korban serta serpihan pesawat yang berada di permukaan perairan Karawang telah bersih. 26 kantong jenazah sedang diidentifikasi untuk diketahui identitasnya.

Kabasarnas Marsekal Madya TNI Muhammad Syaugi menjelaskan, dengan operasi gabungan antara Basarnas, Polri dan TNI dapat dipastikan bahwa seripihan dan bagian tubuh korban yang berada di permukaan perairan Karawang telah berhasil dievakuasi. “Artinya, tinggal fokus yang berada di dalam laut,” terangnya.

Penyisiran dipermukaan laut telah menemukan sekitar puluhan kantong jenasah. Nantinya, semua jenasah itu akan diidentifikasi. ”Untuk yang di dalam lautan ini, kami menggunakan dua cara. Pertama scanning menggunakan alat Multi Beam EchoSounder  dan penyelam. Kami tetap butuh orang di bawah,” tuturnya.

Hingga saat ini proses scanning masih dilakukan, target utamanya untuk menemukan bodi utama pesawat. Titik koordinat jatuhnya pesawat telah diketahui, namun bodi utama pesawat masih dideteksi. “Nanti kalau sudah ditemukan, pasti kami update,” paparnya di Rumah Sakit Polri Kramat Jati.

Dia menduga banyaknya korban yang belum ditemukan karena kemungkinan berada di dalam bodi utama pesawat. “Kekurangannya mestinya di dalam pesawat,” ujarnya sembari menyebut optimis bodi utama pesawat akan ditemukan.

Apakah Basarnas memprediksi lokasi bodi utama pesawat? Dia menuturkan bahwa arus laut mengarah ke Selatan dan Barat Daya. Hal itulah yang menjadi alasan mengapa Basarnas membuka posko di Tanjung Karawang. “Harapannya selain petugas, nelayan-nelayan bisa melapor kalau menemukan sesuatu. Kalau lapornya di Tanjung Priok terlalu jauh,” ujarnya.

Sesuai undang-undang, pencarian korban kecelakaan pesawat bisa dilakukan selama tujuh hari. Namun, bila ada indikasi bisa ditemukan akan ditambah tiga hari. “Setelah sepuluh hari kami analisa kembali, yang pasti kami berupaya keras 24 jam,” tegasnya.

Sementara informasi dari Disaster Victim Indonesia (DVI) diketahui bahwa setidaknya ada 34 kantong jenasah yang telah dibawa ke RS Polri Kramat Jati hingga pukul 17.00. Namun, bukan berarti jumlah tersebut sama dengan jumlah jenasah yang ditemukan.

Kepala RS Polri Kombespol Musyafak menuturkan bahwa dalam proses identifikasi ini kemungkinan jenasah tidak utuh. Ada bagian-bagian tubuh yang cukup banyak, sehingga memerlukan tes DNA. “Dari semua itu perlu dicek satu per satu,” jelasnya.

Proses identifikasi terhadap jenazah korban emerlukan waktu sekitar 4 hari hingga 5 hari. Namun, tetap memerlukan keluarga korban untuk bisa segera mendatangi RS Polri. “Untuk tes DNA dibutuhkan sampel, dari keluarga inti. Seperti, orang tua, anak, kakak atau adik kandung,” ujarnya.

Hingga pukul 15.00 diketahui dari 182 penumpang yang terdiri dari 179 penumpang dewasa, satu penumpang anak dan dua penumpang bayi, masih ada 11 keluarga keluarga korban yang belum melaporkan atau menyerahkan data antemortem.

Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) menyampaikan perkembangan investigasi terkait jatuhnya Boeing 737 MAX 8 milik Lion Air. Sampai kemarin, KNKT mengaku masih berusaha mengumpulkan seluruh data dan menggerakkan beberapa tim investigator untuk mencari pesawat dengan kode penerbangan JT-610 yang hilang di perairan Karawang, Senin (29/10).

Wakil Ketua KNKT Haryo Satmiko menyampaikan, Senin malam lalu, tim KNKT telah merapat di Kapal Baruna Jaya I milik BPPT. “Kapal Baruna Jaya I telah sampai di lokasi jam 06.00 WIB Selasa pagi. Kami berkoordinasi dengan SAR Mission Coordinator (SMC) Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (BNPP), TNI dan Pertamina untuk memulai proses pencarian main wreckage,” ujar Haryo saat konferensi pers di kantor KNKT di Jakarta kemarin.

Pada pukul 09.30 WIB, tim KNKT dan BPPT telah menurunkan Rigid Inflatable Boat (RIB) dengan membawa peralatan multi beam sonar dan ping locator. Mereka menyisir lokasi yang diperkirakan merupakan titik impact. KNKT juga menurunkan tim ke Jakarta International Container Terminal II (JICT II) Tanjung Priok untuk berkoordinasi dengan BNPP dan PT Indonesia Port Company (PT IPC). Mereka melakukan pemilahan barang temuan dari lokasi kecelakaan yang telah diturunkan di JICT II, Tanjung Priok. “Pemilahan ini penting untuk menentukan proses investigasi KNKT lebih lanjut,” ujarnya.

Haryo menambahkan, sesuai prosedur internasional, tim KNKT langsung mengirimkan notifikasi kepada negara-negara terkait, termasuk negara pabrikan pesawat, tentang insiden ini. KNKT mendapatkan penawaran bantuan dari beberapa pihak, termasuk Argentina JIAAC (Junta de Investigation de Accidentes de Aviation Civil), Amerika Serikat NTSB (National Transportation Safety Bureau), Singapura TSIB (Transport Safety Investigation Bureau), Malaysia AAIB (Air Accident Investigation Bureau) serta yang terbaru dari Arab Saudi. “Mereka menawarkan alat dan SDM untuk membantu investigasi. Kami akan berkordinasi dengan Kemenlu untuk bantuan personel dari negara lain,” jelasnya. Bantuan alat dari Singapura sudah sampai di Jakarta. Sedangkan personel yang akan mengoperasikan alat tersebut tiba di Indonesia Rabu malam (31/10).

Sementara itu, mengenai pesawat Boeing 737 MAX 8 milik Lion Air pada penerbangan sebelumnya dengan rute Denpasar-Jakarta, KNKT mengaku sudah meng-collect data dari operator dan penerbangan sebelumnya. “Kami sudah dapatkan rekaman percakapan antara pilot dan Airnav pada penerbangan sebelumnya, kami juga sudah berupaya meminta informasi dari pilot sebelumnya. Tapi untuk saat ini belum bisa kami sampaikan karena kita harus mencocokan apa yang terjadi di lapangan dan hasil percakapan. Ini baru single data saja,” terang Koordinator Air Safety Investigation KNKT Ony Soerjo Wibowo.

Disinggung mengenai pengakuan salah satu penumpang penerbangan Denpasar-Jakarta dengan Boeing 737 MAX 8 serta beredarnya foto flight log, Ony hanya menyebut bahwa data-data dari masyarakat tetap akan di-collect untuk masukan KNKT. “Tapi itu semua tetap perlu diverifikasi. Dengan sangat menyesal, detilnya seperti apa belum bisa kami sampaikan. Sesuai dengan undang-undang hasil investigasi masih bersifat rahasia,” katanya.

Hujan yang sempat turun selepas subuh membikin gelombang laut sedikit besar. Namun, KRI Rigel 933 terus melanjutkan pencarian. Sampai kemarin malam (30/10) proses itu masih berjalan.

Memulai pencarian sekitar pukul 16.00 WIB dua hari lalu, KRI Rigel 933 tidak berhenti kerja. Sepanjang malam kapal itu menyapu area pencarian pesawat Lion Air JT-610. Hanya saja hasilnya belum jua memuaskan. “Sementara ini belum terpantau,” kata Komandan KRI Rigel 933 Letkol Laut (P) Agus Triyana di sela pencarian kemarin. Semalaman beropersi, kapal buatan Perancis itu sudah keliling tiga kali empat mil di area pencarian.

Dengan gerakan gergaji laut, Agus mengomandoi KRI Rigel 933 untuk terus bergerak. Sejak awal, tugas kapal itu sangat jelas. Menemukan badan dan black box JT-610 yang diduga tenggelam di Perairan Karawang. Kapal yang dikomandani Agus memang bisa diandalkan melaksanakan tugas tersebut. Peralatan berupa multi beam echo sounder dan side scan sonar pada kapal itu mampu mendeteksi benda dengan ukuran sangat kecil sekali pun.

Misalnya pipa-pipa di antara rig yang ada di sekitar lokasi pencarian. ”Dengan diameter pipa kurang lebih 30 sentimeter, terdeteksi,” ungkap Agus. Namun, dia mengakui mencari potongan besar JT-610 maupun black box pesawat itu bukan perkara gampang. Apalagi kordinat jatuh dan tenggelamnya pesawat yang dia terima belum pasti. Pencarian kemarin masih berdasar informasi awal. “Seperti cari jarum dalam tumpukan jerami,” tambahnya.

Walau belum berhasil mendeteksi keberadaan badan dan black box pesawat berpenumpang 181 orang itu, bukan berarti pencarian KRI Rigel 933 nihil sama sekali. Dari informasi yang diterima Jawa Pos serpihan kecil yang diduga bagian pesawat nahas tersebut beberapa kali tampak. Baik bagian luar bodi maupun interior. Semua data itu akan mereka olah untuk kemudian dilaporkan ke Pusat Hidrografi dan Oseanografi TNI AL atau Pushidrosal.

Rencananya, hasil pengolahan diserahkan hari ini (31/10). Sejalan dengan itu, pencarian terus berlanjut. Bahkan tidak hanya dalam radius tiga mil dari titik awal, sejak sekitar pukul 09.00 WIB kemarin pencarian diperluas sampai sepuluh mil. Untuk mempercepat proses, Agus turut menurukan kapal kecil berjuluk Sounding Vessel. “Kemampuannya sama dengan KRI Rigel,” terang perwira menengah TNI AL itu.

Area pencarian yang disisir oleh KRI Rigel 933 memang masih tergolong laut dangkal. Kedalamnya berkisar 30 meter sampai 35 meter. Namun, kondisi itu tidak lantas membuat pencarian tanpa kendala. Selain informasi awal posisi jatuh dan tenggelamnya JT-610, badan maupun black box pesawat tersebut bisa saja sudah bergeser. Sebab, arus air di Perairan Karawangan sangat memungkinkan untuk menggerakan objek di bawah permukaan laut.

Belum lagi kecepatan pesawat ketika jatuh ke dalam air. Semua itu memungkinkan banyak hal terjadi. Tidak heran area pencarian diperluas oleh petugas. Karena, bisa jadi objek yang mereka cari sudah bergerak jauh dari titik awal yang diinformasikan sebelumnya. Sebab, pada titik awal juga belum tampak badan maupun black box JT-610. “Sementara masih belum,” ungkap Agus.

Upaya pencarian badan dan black box tersebut, dibarengi persiapan dari penyelam Dinas Penyelamatan Bawah Air (Dislambair) Komando Armada I. Tidak kurang 25 penyelam sudah berada di atas KRI Rigel 933 sejak hari pertama pencarian dimulai. Mereka turut membawa alat berkemampuan selam sampai kedalaman 80 meter. Baik alat selam open circuit maupun semi closed circuit.

Mayor Laut S. Thomas adalah salah seorang penyelam yang turut serta dalam tim tersebut. Sejak KAL Sanca 815 mengantarkan dirinya ke KRI Rigel 933, Thomas sudah siap menyelam. Bersama timnya, bukan kali pertama dia turun dalam tugas pencarian pesawat yang jatuh dan tenggelam di laut. Pencarian Air Asia (2014) dan Adam Air (2007) pernah mereka lakoni. Kapasitas mereka tentu sudah tidak perlu diragukan.

Hanya saja, sebelum mereka menyelam, Thomas maupun rekan-rekannya butuh target yang pasti. “Nggak mungkin penyelam turun tanpa target,” ucap dia.

Target itu bergantung hasil pencarian kapal-kapal yang punya tugas mendeteksi objek bawah laut. Begitu target sudah dikunci, mereka bakal turun untuk memastikan objek yang ditemukan memungkinkan atau tidak diangkat ke permukaan air.

Selain penyelam, Dislambair juga sudah menyiapkan lifting bag untuk mengangkat badan maupun black box pesawat. Sementara ini sudah ada dua lifting bag di atas KRI Rigel. Masing-masing mampu mengangkat beban dengan berat 5 ton. Menurut Thomas, dua lifting bag itu bisa dipakai mengangkat bagian kepala maupun ekor pesawat. Juga bisa mengangkat black box.

Kepala Dislambair Kolonel Laut E. Monang Sitompul yang juga berada di atas KRI Rigel menegaskan, timnya hanya akan mengangkat bagian penting dari pesawat. Selain ekor, kepala, dan black box, bagian lain yang memungkinkan bakal diangkat adalah kursi-kursi penumpang. Biasanya, di kursi itu masih ada jenazah korban. “Kalau nggak diangkat, sabuk pengaman kami lepas,” imbuhnya. Dengan begitu, jenazah terangkat ke permukaan laut.

Sepanjang pencarian bersama KRI Rigel 933, tidak satu pun serpihan maupun potongan tubuh korban ditemukan. Namun, saat Jawa Pos ikut dalam pencarian bersama KRI Sikuda 863, hasil operasi kapal-kapal kecil ditampung di kapal itu. Kapal perang yang dikomandani oleh Mayor Laut Martin itu sempat keliling di Perairan Karawang sampai menjelang petang kemarin.

Bersama puluhan kapal lain, KRI Sikuda 863 mencari serpihan pesawat maupun potongan bagian tubuh dari jenazah korban. Adalah Alfian Okta Rizal dari Komando Armada I yang bertugas sebagai tim kesehatan di kapal itu. Bau amis dari potongan-potongan tubuh korban masih menempel kuat di hidung Alfian. Sebelum naik KRI Sikuda 863, dia memang sempat membantu tim kesehatan di Dermaga JICT II, Tanjung Priok, Jakarta Utara.

Potongan tubuh yang sempat ditangani Alfian mulai dari bagian kepala, tangan, kaki, sampai kulit luar. Belum ada satu pun yang utuh. Pun demikian saat dia bertugas di KRI Sikuda 863 kemarin. Sekitar pukul 10.00 WIB, dia melihat langsung potongan tubuh yang diduga bagian dada korban diangkut KN SAR Sadewa dan KN SAR Basudewa. Semuanya ditemukan di Perairan Karawang.

Meski tidak mendapat temuan sepanjang operasi sampai kemarin petang, saat KRI Sikuda 863 bersandar di Dermaga Pondok Dayung, Tanjung Priok, sekitar pukul 18.40 WIB, satu unit Landing Craft Unit (LCU) dari KRI Banda Aceh 593 merapat. Dari atas kapal itu, diangkat satu kantong jenazah ke KRI Sikuda 863. ”Sudah bau pembusukan,” ucap Alfian. Dalam kantong jenazah itu, ada beberapa potongan tubuh korban. Semuanya bagian dalam.

Bau amis samar-samar tercium ketika kantong jenazah diangkat. Aromanya kian kuat begitu kantong jenazah dinaikan ke KRI Sikuda 863. Selain potongan tubuh korban, turut dibawa dua potong pakaian perempuan. Satu berwarna putih, satu lainnya berwarna merah muda. Entah milik siapa, yang pasti dua potong pakaian itu menempel pada potongan tubuh tersebut. Seluruhnya ditemukan sekitar dua mil dari Pantai Tanjung Pakis, Karawang.

Disamping potongan tubuh dan pakaian perempuan, tim juga turut menemukan serpihan badan pesawat. Pada serpihan itu menempel daging-daging yang diduga masih bagian tubuh korban. Semua temuan itu bakal diserahkan kepada Basarnas untuk kemudian diidentifikasi lebih lanjut. Sesuai arahan Basarnas, kemarin malam KRI Sikuda 863 kembali bertolak dari Jakarta Utara ke Perairan Karawang untuk melanjutkan pencarian.

Terpisah, Slamet dan Kartini, orangtua Alfiani Hidayatul Solikah, berharap langkah tim disaster victim identification (DVI) Polda Jawa Timur yang datang ke rumahnya kemarin (30/10) tidak memupuskan harapan. Pasangan suami istri (pasutri) itu berharap sampel deoxyribonucleic acid (DNA) yang diambil tidak valid dengan jasad para korban jatuhnya pesawat Lion Air JT 610 di perairan Tanjung Karawang, Jawa Barat. “Keluarga berharap Alfi (panggilan Alfiani, Red) selamat,” kata Kartini usai pengambilan DNA.

Hari kedua pasca kecelakaan, keluarga pramugari yang baru genap 20 tahun Desember mendatang itu mulai tegar. Kartini, misalnya, bersedia menjawab pertanyaan awak media. Dia tidak merasakan firasat musibah ketika berkomunikasi terakhir kali, Minggu malam (28/10). Meski anak semata wayangnya itu menginformasikan ada penerbangan keesokan harinya. Tanda-tanda itu kemungkinan tidak dirasakannya lantaran hampir setiap hari berkomunikasi lewat telepon. “Sampai sekarang (kemarin, Red) belum ada kabar perkembangan,” ujarnya sembari menyebut kali terakhir bertemu Agustus lalu.

Mobil DVI Polda Jatim tiba di rumah duka di Desa Mojorejo, Kebonsari, sekitar pukul 10.40. Tim bidang kedokteran dan kesehatan (biddokes) terdiri empat orang itu membawa dua buah tas P3K, tas laptop, dan mesin print. Proses pengambilan DNA dilakukan di dalam rumah. Slamet dan Kartini yang duduk bersebelahan secara bergantian didata identitasnya. Tidak berselang lama, petugas pria mengambil sampel darah dari lengan kanan Kartini. Berlanjut dengan usapan mulut pada pipi bagian dalam. Kegiatan serupa dilakukan ke Slamet. Tidak hanya ambil sampel, petugas juga mendokumentasikan dan memindai dokumen kependudukan serta pendidikan Alfi. Selama satu jam proses identifikasi DNA, pandangan Kartini dan Slamet terlihat kosong. Mata keduanya sembap dan memerah.

Kaur DVI Biddokes Polda Jatim drg Yurika Artanti mengatakan pengambilan sampel DNA keluarga korban merupakan perintah atasan. Sampel berupa darah dan usapan pipi bagian dalam itu bakal dikirimkan ke Pusdokes Polri. Untuk dicocokkan ketika proses identifikasi. Selain DNA, tim juga mengumpulkan data antemortem. Yakni, data vital tubuh dan kelengkapan yang dipakai sebelum kejadian, salah satunya anting. “Kami mencari data sekunder. Primernya ada di pusdokes,” paparnya.

Duka mendalam juga dirasakan Mardiem. Warga Ngingas, Waru, itu kehilangan suaminya, Moejiono, 59. Kemarin para tamu terus berdatangan ke rumah duka. Teguh Widodo, adik Moejiono, mengatakan bahwa kakaknya sempat menghubunginya sekitar pukul 03.15. Saat itu, Moejiono sedang di ruang tunggu bandara Soekarno Hatta. “Dia chat,  ngucapin bismillah. Doa selamat selama perjalanan,” tuturnya.

Sesaat sebelum pesawat lepas landas, Moejiono juga sempat mengirim kabar kepada istrinya. Dia mengirimkan foto saat berada di dalam pesawat. “Itu komunikasi terakhir,” katanya.

Putri, anak ketiga Moejiono-Mardiem, mengetahui kabar kecelakaan itu saat berada di rumah kosnya di dekat kampus Unair. Saat itu, mahasiswi semester tiga itu sedang menonton breaking news di sebuah stasiun televisi. “Saya tahu kode pesawatnya karena Ayah selalu ngabarin,” kata Putri.

Sebelum boarding, Moejiono juga sempat video call dengan Putri. Ketika itu, Putri sedang menemani ibunya yang opname di rumah sakit karena sakit gejala tifus. “Ngobrol biasa. Tak ada firasat apapun,” imbuhnya. Karena itu, Putri tidak menyangka ayahnya berpulang. Kini dia hanya berharap ayahnya mendapat tempat terbaik di sisi-Nya.

Sementara itu, duka juga menyelimuti Kantor Wilayah Direktoral Jenderal Pajak (DJP) Jatim II.  Tanda duka itu ditunjukkan dengan pita hitam yang ditempel di lengan kiri para pegawai. “Ini bentuk duka kami. Pakaian ini sesuai instruksi pusat,” kata Endah Retnowati, kepala bagian umum Kanwil DJP Jatim II.

Jatuhnya Pesawat Boeing 737 Max 8 milik maskapai Lion Air (JT-610) membuat Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mengeluarkan kebijakan pencagahan. Seluruh pesawat berjenis serupa wajib melakukan inspeksi. Total ada sembilan unit pesawat Boeing 737 Max 8. Perinciannya delapan unit milik Lion Air dan satu lagi milik maskapai pelat merah Garuda Indonesia.

“Kemarin (29/10) Kemenhub sudah kirim surat untuk Lion Air dan Garuda untuk inspeksi pesawat Boeing 737 Max 8,” kata Menhub Budi Karya Sumadi di dermaga Jakarta International Container Terminal (JICT) 2 Tanjung Priok kemarin (30/10).

Budi menegaskan pengiriman surat untuk kedua maskapai itu tidak didasari dengan praduga apapun. Murni dilakukan untuk pengecekan. Pencegekan atau inspeksi itu dilakukan oleh Direktorat Kelaikan dan Pengoperasian Pesawat Udara Kemenhub. Kemudian hasilnya diserahkan ke Komite Nasional Kecelakaan Transportasi (KNKT).

“Nanti KNKT yang menentukan apa yang menjadi penyebab (kecelakaan pesawat JT-610, Red),” jelas Budi. Menurut dia proses inspeksi seluruh pesawat itu bukan lantas seluruhnya tidak boleh terbang. Pengoperasian tetap berjalan normal seperti biasa. Proses inspeksi hanya dilakukan untuk pemetaan atau mapping kondisi pesawat.

Apalagi menurut Budi ada informasi bahwa Pilot pesawat nahas JT-610 sempat meminta persetujuan untuk kembali mendarat (return to base/RTB) di bandara Soekarno Hatta, Cengkareng, Tangerang. Permintaan tersebut bisa mengindikasikan ada hal-hal yang perlu diklarifikasi. Budi menegaskan perlu dilakukan analisis berkaitan dengan kondisi pesawat.

Budi juga menjelaskan melalui upaya inspeksi tersebut, juga bakal diketahui catatan perawatan pesawat selama 30 hari terakhir. “Biasanya catatan itu ditulis dalam look book,” tuturnya.

Terkait dengan penjatuhan sanksi kepada maskapai, Budi mengatakan ada prosudernya. Sanksi diberikan ketika sudah ada keputusan dari KNKT terkait penyebab kecelakaan. Menteri yang juga personel Elek Yo Band itu mengatakan sanksi diberikan setelah tahu apa kesalahannya. “Apakah yang salah manajemen, pesawatnya, kru, atau SOP. Kami menunggu dari KNKT,” kata dia. Budi juga mengatakan saat ini tidak hanya pemerintah yang melakukan investigasi. Pihak Boeing juga melakukan investigasi atas kecelakaan yang merenggut korban 189 orang itu. Nantinya hasil investigasi dari pemerintah maupun Boeing sama-sama diserahkan ke KNKT.

Sebelum memberikan keterangan kepada media, Budi sempat mendampingi Presiden Joko Widodo melihat puing-puing yang ditemukan selama proses pencairan korban. Puing-puing itu dijejer sangat banyak. Mulai dari aneka tabung komponen pesawat, potongan busa bangku penumpang, sepatu dan sanda penumpang, serta baju milik penumpang.

Dalam kunjungannya kali ini, Joko Widodo sama sekali tidak memberikan keterangan kepada media. Setelah melihat puing, Jokowi menyalami petugas Basarnas dan aparat kepolisian yang bertugas. Sambil mengenakan sarung tangan kuning, Jokowi sempat memeriksa beberapa puing yang berhasil ditemukan. Dia langsung pulang setelah melihat serpihan tersebut.

Sebelum Jokowi tiba, beberapa petugas sempat berhasil menemukan potongan tubuh korban. Potongan tubuh tersebut dimasukkan dalam kantong mayat. Hampir bisa dipastikan dari sekian banyak kantong jenazah itu, tidak ada yang utuh. Terlihat saat diangkat petugas, potongan tubuh korban tidak terlalu besar. Setiap satu kantong mayat, dibawa satu ambulang ke RS Polri.

Bos Lion Air sekaligus Dubes RI di Kuala Lumpur Rusdi Kirana juga turut hadir di dermaga JICT 2. Dia datang lebih dahulu ketimbang Presiden Joko Widodo. Rusdi juga sempat melihat puing-puing pesawat miliknya. Awalnya dia sempat berada di kerumunan Jokowi. Tetapi Rusdi tidak ikut Jokowi saat melihat serpihan puing.

“Kita bersedia diaudit. Kita bersedia diinspeksi,” katanya.

Dia menegaskan Lion Air tidak akan keberatan jika pemerintah menjatuhkan pinalti akibat kecelakaan tersebut. Penjatuhan hukuman tentu tetap mengacu pada peraturan perundang-undangan. Bukan atas dasar emosi. Menurutnya, saat ini terlalu dini jika menyimpulkan siapa yang salah. Sebaiknya menunggu sampai black box ditemukan.

Direktur Operasional Lion Air Daniel Putut Kuncoro mengakui ada masalah pada pesawatnya saat terbang dari Bali ke Jakarta. Namun, dia tidak mau merinci masalah itu. Dia hanya menegaskan bahwa saat pesawat tersebut sudah diperbaiki sebelum berangkat ke Tanjung Pinang pada Senin lalu.

Daniel tidak berani memastikan apakah kecelakaan Senin itu termasuk bagian dari masalah yang terjadi di Denpasar sebelumnya. “Semua data termasuk history flight sudah kami berikan ke KNKT. Nanti yang menentukan masalahnya adalah KNKT,” ucapnya.

Dia hanya menegaskan bahwa Lion Air juga melakukan evaluasi internal. Dari sisi maintenance atau pemeliharaan, Daniel menjamin tidak ada masalah. “Kalau dari sisi pesawat dan kru, kami serahkan kepada KNKT,” tegasnya.

Daniel juga mengatakan bahwa delapan pesawat Boeing 737 Max 8 milik Lion Air masih aktif melayani penumpang. “Nanti kalau ada pemeriksaan akan dihentikan (operasionalnya, Red). Akan dijalankan lagi kalau memang tidak ada masalah,” katanya.

Tim Boeing, menurut Daniel, juga menuju Indonesia untuk melakukan penyelidikan. “Kami juga menunggu keterangan pihak Boeing,” ungkapnya. Untuk proses identifikasi, pihak Lion Air mendatangkan keluarga korban dari luar Jakarta. Mereka diterbangkan dari Palembang dan Medan. Ada 209 keluarga yang diberangkatkan. Di Jakarta mereka disiapkan hotel dan pendamping dari pegawai Lion Air. Tujuannya agar tidak terjadi informasi yang simpang siur. “Kami siapkan layanan psikologi juga,” ujarnya.

 

Laporan: Maulidi Murni, Jawa Pos/JPG

Editor: Arman Hairiadi