Industri Pertanian 4.0

Oleh: Joko Intarto

eQuator.co.id – Sungguh suatu kondisi yang anomali. Punya kopi yang bagus: kelas dunia. Tapi perekonomian masyarakatnya kurang sejahtera. Itulah gambaran umum di SD Hole.

SD Hole adalah singkatan Saipar Dolok Hole, wilayah kecamatan di Kabupaten Tapanuli Selatan, Provinsi Sumatera Utara. Melalui jalan darat, SD Hole bisa dijangkau dari Medan dalam waktu 10 jam.

Saya baru sekali mengunjungi SD Hole. Berangkat dari Jakarta pukul 11.00, tiba SD Hole empat jam kemudian. Dua jam penerbangan dari Bandara Internasional Soekarno Hatta ke Bandara Internasional Silangit di Siborong-Borong. Disambung dua jam perjalanan darat menuju SD Hole.

Saya berkunjung ke SD Hole atas undangan pengelola Pesantren Darul Mursyid atau PDM. Pondok pesantren modern itu punya program baru: semua guru pondok pesantren wajib menulis buku. Saya ditunjuk melatih mereka selama dua hari.

‘’Saya minta tambahan satu hari lagi. Pada hari ketiga, khusus membahas kopi. Bertemu dengan para petani kopi dan anak-anak muda pemilik café di Sipirok,’’ kata Ustadz Suryadi.

Pondok Pesantren Darul Mursyid memang punya perhatian khusus terhadap tanaman kopi. Tanaman perkebunan itu sudah dibudidayakan di wilayah SD Hole sejak zaman penjajahan Belanda.

Dulu, kopi Sipirok dikenal dengan nama kopi Angkola. Sekarang punya sebutan baru, sesuai sertifikat IG: kopi Gayo Sipirok. Bibitnya kopi Gayo. Ditanam di Sipirok. Menghasilkan kopi Gayo dengan citarasa yang berbeda. Khas Sipirok.

Kawasan SD Hole memang cocok untuk bertanam kopi. Daerah ini berada pada ketinggian rata-rata di atas 1.000 meter di atas permukaan laut. Tanahnya berbatu-batu tetapi subur. Konturnya bergunung-gunung.

Kopi menjadi tanaman andalan para petani di SD Hole. Dari hasil penjualan kopi itulah, mereka membiayai semua kebutuhan hidupnya. Termasuk utang-utangnya. Karena itu, masyarakat SD Hole memberi julukan khusus untuk kopinya: Sigararutang. Artinya, si pembayar utang. Panen kopi menjadi saat yang paling ditunggu untuk melunasi utang-utangnya.

Setiap minggu, kebun-kebun kopi di SD Hole menghasilkan 15 ton ‘gabah’ atau biji kopi basah. Harga di kebun: Rp 30 ribu per kilogram. Harga itu, menurut para petani, tergolong bagus. Sebelumnya hanya Rp 20 ribu per kilogram.

Benarkah harga itu sudah bagus? ‘’Sebenarnya belum. Sebab, para petani masih bisa menikmati harga yang jauh lebih tinggi. Syaratnya: bisa menciptakan nilai tambah dengan menjualnya dalam bentuk green bean atau biji kupas mentah – kering. Apalagi kalau bisa dalam bentuk roasted bean atau biji kupas yang sudah disangrai,’’ kata Jafar Sahbuddin Ritonga, Direktur PDM, yang jebolan perguruan tinggi di Amerika itu.

Menciptakan nilai tambah. Itulah kata kuncinya. Di situlah peran Pesantren Darul Mursyid: pesantren modern di tengah kawasan perkebunan kopi yang begitu luasnya.

Program peningkatan nilai tambah itu dimulai sejak empat tahun lalu. Diawali dengan mengonversi lahan-lahan hutan rusak dan tidak produktif di sekitar pesantren menjadi kebun kopi. Saat ini, luasnya sudah mencapai 50 hektar. Sebagian milik pesantren. Sebagian milik guru-guru pesantren.

Dua tahun lalu, pohon kopi itu mulai berbuah. Setelah setahun menjual hasil panen dalam bentuk gabah, pesantren mulai menugaskan beberapa ustadznya untuk mengikuti pelatihan pasca panen. Pesantren juga menginvestasikan dana untuk membangun ‘kilang’ atau pabrik pengolahan kopi. Tahun 2018, kilang mulai beroperasi.

Kilang itu terdiri atas tiga bangunan utama. Bangunan pertama untuk mengolah gabah menjadi green bean. Metode pengeringannya masih tradisional: terbuka. Mengandalkan sinar matahari langsung. Tetapi sekarang sedang dibangun unit pengeringan baru: tertutup. Menggunakan kotak penghangat yang tidak terkena sinar matahari langsung.

Bangunan kedua untuk menyangrai green bean menjadi roasted bean. Ada dua mesin roaster di dalamnya. Yang satu berkapasitas besar. Yang satu lagi berkapasitas kecil. Roaster kecil itu sumbangan Bank Indonesia Kantor Cabang Sibolga.

Bangunan ketiga: café. Fungsinya 3 in 1. Sebagai ruang pamer, kelas pelatihan dan laboratorium uji rasa kopi produksi kilang.

Dengan hadirnya kilang kopi, PDM berhasil meningkatkan nilai tambah kopi dari gabah menjadi roasted bean. Harga yang dinikmati pun berlipat ganda. Dari harga gabah Rp 30.000/Kg menjadi Rp 175.000/Kg.

PDM juga mengembangkan proses pengolahan kopi jenis specialty yang menghasilkan produk bercitarasa unik: wine dan luwak.

Coba cek di marketplace bukalapak atau tokopedia, betapa mahalnya harga eceran kopi wine dan kopi luwak. Berapa nilai tambah yang diperoleh bila petani kopi bisa mengolahnya sendiri? Menciptakan nilai tambah hasil pertanian. Itulah model industri pertanian 4.0.(jto)

 

Penulis adalah redaktur tamu Rakyat Kalbar dan admin www.disway.id