Imperialis Macan dan Jebakan Naga

DISWAY Oleh: Dahlan Iskan

56
Dahlan Iskan

eQuator.co.id – Ia tidak mau tinggal di rumah dinas perdana menteri. Ia tidak mau pengawalan yang panjang. Maksimum 4 mobil.

Ia berharap dilantik 14 Agustus ini. Jadi perdana menteri Pakistan. Ia Imran Khan. Kapten tim kriket nasional yang juara dunia itu. Yang menang Pemilu 25 Juli lalu itu.

Ia tidak mau merangkul dua partai utama. Yang selalu berseberangan itu.  Kekurangan kursi di parlemen ia tutup dengan merangkul kursi-kursi independen.

Imran menjanjikan Naya Pakistan. Pakistan Baru.

Tapi, ini dia…

Ia menghadapi problem mendesak. Tidak ada uang. Dalam enam minggu ini harus dapat pinjaman. Setidaknya USD 12 miliar.

Kalau gagal, roda ekonomi macet. Krisis ekonomi. Bisa jadi krisis politik. Cadangan devisanya tinggal cukup untuk impor enam minggu itu.

Sampai saat ini belum ada yang mikir itu. Ekonomi jalan sendiri. Pemerintah lama sudah berlalu. Pemerintah baru belum terbentuk.

Masyarakat berdebat sendiri-sendiri. Akankah kembali mengemis ke IMF? Dengan menelan syarat yang klasik itu: cabut subsidi, kurangi defisit, swastanisasi, dan seterusnya itu.

Bukan main pro-kontra IMF di masyarakat Pakistan saat ini. Tapi kan tidak ada jalan lain?

“Ada”, kata yang anti IMF. Yakni: bersandar ke Tiongkok.

Tapi pro-kontra Tiongkok juga luar biasa. Masyarakat terbelah. Utang ke Tiongkok sudah terlalu besar: lebih USD 60 miliar. Sudah terancam tidak bisa bayar pula.

Pakistan benar-benar di antara mulut Singa IMF dan Naga Tiongkok. Imran Khan belum memberi sinyal ke mana. Ia memang mengkritik proyek-proyek Tiongkok. Tapi tidak sekeras Mahathir di Malaysia. Ia mendengarkan suara dari Amerika. Yang mengingatkan bahaya utang Tiongkok. Tapi Imran juga tidak mau imperialisme modal Amerika.

Semua masih menunggu: Naya  Pakistan. Tapi juga belum jelas apa itu Naya Pakistan.

Calon Menteri Keuangan Pakistan, Asad Umar, juga belum memberi sinyal apa-apa. Tapi banyak pihak mengakui reputasinya: CEO termahal dan  tersukses di Pakistan. Saat ia berumur 40 tahun. Yang menjadikan satu perusahaan kimia di sana menjadi konglomerat di banyak bidang usaha: pabrik pupuk, industri makanan, minuman, energi, dan retail. Itulah Engro Corporation.

Asad Umar gemas lihat ekonomi Pakistan. Minta berhenti dari jabatan CEO. Terjun ke politik. Gabung ke partainya Imran Khan. Terpilih jadi DPR lima tahun lalu.

Kini umurnya 61 tahun. Masih kuat menerima beban itu. Mestinya.

Indonesia pernah dalam posisi itu. Di akhir kepresidenan Bung Karno. Setelah tiga tahun sebelumnya melahirkan Nawa Cita.

Bahkan kondisi Indonesia lebih parah: pertumbuhan ekonomi negatif, cadangan devisa negatif, inflasi ratusan persen. Pangan susah. Sandang susah. Tapi ada jalan keluar.

India juga pernah dalam posisi itu. Juga lebih sulit. Belum begitu lama: tahun 1979. Yang juga disebut sebagai kegagalan eksperimen Swadesi. Hampir saja India bangkrut.

Tapi lantas ada jalan keluar. Muncul menteri keuangan yang sangat hebat: Mahmohan Singh. Yang sepuluh tahun kemudian menjadi perdana menteri India.

Sejak itulah India bangkit. Sampai sekarang.

Imran Khan tahu semua itu. Kelihatannya ia mau Pakistan Maju. Dengan mengabaikan dominasi partai lama. Kalau Imran Khan sukses, warga Surabaya pasti sangat bangga dengan Pakistan –terutama penduduk  Pakis Wetan. (dis)