Humas Polri: Pelaku Kejahatan Dunia Maya adalah Orang Idiot

Polda Kalbar Paling Banyak Terima Laporan Kasus Hoaks

16
FOTO BERSAMA. Peserta dan pemateri berfoto bersama usai kegiatan Literasi Media Edukasi Bicara Baik dan Bijak Bersama Divisi Humas Polri di Ballroom Hotel Kapuas Palace, Pontianak Selatan, Rabu (8/8)—Bangun Subekti

eQuator.co.idPontianak-RK. Divisi Humas Polri bekerja sama dengan Dinas Kominfo Pontianak mengadakan kegiatan Literasi Media Edukasi Bicara Baik dan Bijak Bersama Divisi Humas Polri di Ballroom Hotel Kapuas Palace, Pontianak Selatan, Rabu (8/8).

Acara ini diadakan sebagai langkah kepolisian untuk memberi edukasi dan mengajak warga Kalbar agar bijak dalam menggunakan media sosial. Kegiatan ini dihadiri oleh sekitar 166 peserta yang terdiri dari pegiat media sosial (medsos) dari kalangan remaja dan mahasiswa serta beberapa media massa yang ada di Kalbar.

Kabag Diseminasi Informasi Digital Biro Multimedia Humas Polri, Kombes Pol Heru Yulianto dalam penyampaian materinya mengatakan, bahwa pelaku kejahatan dunia maya adalah orang idiot.

“Dia tahu itu salah, tapi masih dilakukan. Tapi dia tidak tahu bahwa ada rekam jejak digital yang tersimpan di-database situs medsos dan data itu tidak berada di sini tapi di luar negeri. Di sana membuka informasi sangat diperbolehkan,” ujar Heru.

Ia juga mengatakan, untuk penanganan pelaku kejahatan dunia maya memerlukan penyelidikan yang komprehensif. “Terutama bila pelaku ini memiliki beberapa akun medsos dengan nama yang berbeda. Kita lacak jejak digitalnya, lalu dilanjutkan dengan penyelidikan lapangan,” kata Heru.

Kadis Kominfo Kalbar, Drs. Anthony Sebastian Runtu, M. Si, mengatakan, bahwa keberadaan smartphone bisa mempengaruhi pikiran manusia dan hal ini tentu menjadi sebuah masalah.

“Salah satu efeknya yaitu membuat pemakai smartphone terpengaruh oleh kekuatan smartphone tersebut. Segala konten yang muncul, bila tidak disaring, bisa mengganggu pikiran,” kata Anthony.

Dikatakannya, Indonesia masuk dalam lima besar negara pengguna internet. Sedangkan Kalbar adalah provinsi dengan pengguna internet untuk sektor ekonomi terbanyak di seluruh Indonesia. “Kebanyakan warga Kalbar menggunakan internet untuk jual beli online,” ujar Anthony.

Ia juga mengingatkan bahwa kehancuran Suriah dan negara-negara Timur Tengah salah satunya disebabkan oleh beredarnya berita bohong alias hoaks.

“Tentu kita tidak ingin hal itu terjadi. Apalagi Presiden juga sudah menargetkan, 2020 Indonesia bangkit dengan kekuatan digital,” tegas Anthony.

Sementara itu, Kasubdit Cyber Crime Polda Kalbar, Ipda Arif Dwi Kurniawan mengungkapkan beberapa bentuk kejahatan dunia maya. “Paling sering terjadi adalah penipuan berkedok jual beli online. Lalu ada juga Romance Dating Fraud atau penipuan berkedok percintaan. Ini biasanya terjadi pada wanita berusia 40-an. Awalnya si korban wanita berkenalan dengan pria lewat chatting, lalu keduanya pun menjadi dekat,” ujar Arif.

Lanjut Arif menjelaskan, dari kedekatan itu, pelaku akan mulai meminta yang tidak semestinya. Yaitu meminta korban untuk mengirimkan foto tanpa busana.

“Karena sudah sayang, korban pun mau saja. Nah, di sinilah petaka terjadi. Si pelaku menggunakan foto tanpa busana itu untuk memeras korban,” tutur dia.

Arif mengatakan, terakhir pihak menangani kasus ini, pada tahun lalu dan yang paling banyak. Untuk tahun ini, berita hoaks menjadi laporan yang sering diterima. Namun, untuk kasus ujaran kebencian, dikatakan Arif, tidak bisa langsung naik ke tahap sidik.

“Biasanya kami akan berkoordinasi dengan para ahli, baik itu ahli bahasa, agama dan lainnya. Dari kesimpulan yang mereka ambil, itulah dasar kami untuk mendalami kasus atau tidak,” jelas Arif.

Untuk diketahui, kegiatan ini ditutup dengan pembagian hadiah bagi peserta yang aktif share kegiatan tersebut di akun medsos masing-masing dengan mencantumkan hashtag #kalbarbicarabaik dan mention Divisi Humas Polri serta foto bersama.

Laporan: Bangun Subekti

Editor: Ocsya Ade CP