Hotel Sapi di Hutan Jati

TEROBOSAN Oleh: Joko Intarto

36
HOTEL SAPI. Yosep dan sapi-sapi jenis limousin yang dipelihara di hotelnya. KANAN: Penulis (paling kanan) berdiskusi dengan Yosep (tengah) dan Hilman Latief, Ketua Lazismu PP Muhammadiyah di hotel sapi. JTO PHOTO

eQuator.co.id – Dari proses tradisi menjadi industri. Inilah yang tengah berlangsung di Kabupaten Gunung Kidul, provinsi Daerah Istimewa Jogjakarta. Tepatnya di Desa Klembun Lor, Kecamatan Playen.

Di desa yang dikelingi hutan jati itu, sekarang berdiri sebuah hotel di atas lahan seluas 3.080 meter persegi. Dari 200 kamar yang direncanakan, saat ini sudah selesai 50. Begitu dioperasikan, langsung penuh. Occupancy 95 persen sampai tiga bulan ke depan.

Karena itu pengelola hotel mempercepat rencana pengembangan tahap kedua. Agar mencapai kapasitas 150. “Setelah Lebaran Haji kita bangun hotel dua blok lagi dengan daya tampung 100,” kata Yosep Muniri, penanggung jawab proyek.

Hotel yang dibangun Yosep memang unik. Belum ada pesaingnya di Gunung Kidul. Konsumen harus pesan kamar minimal 3 bulan. Tidak boleh hanya bermalam satu atau dua hari. Minimal tiga bulan. Mengapa? Yang menginap di hotel itu bukan orang melainkan sapi.

Hotel sapi. Atau kos-kosan sapi. Mungkin nama itu lebih tepat untuk menyebut pusat penggemukan tersebut. Pengusaha hotel sapi menyediakan kamar hotel berikut tenaga terlatih dan pakan yang cukup. Pemilik sapi tinggal mengisi kamar yang telah tersedia.

Model bisnisnya sama dengan hotel dan kos-kosan. Siapa saja bisa menitipkan sapinya selama tiga atau enam bulan. Setelah gemuk, sapi dijual ke pasar. Modal pokoknya digunakan untuk membeli bibit sapi baru. Keuntungannya dibagi dua: pemilik sapi dan pemilik kos-kosan. Proporsinya disepakati.

Penggemukan sapi terpusat seperti ini lebih efisien bila dibandingkan dengan pemeliharaan secara tradisional. Satu orang tenaga kerja bisa memelihara 25 ekor. Untuk 50 ekor sapi, cukup tenaga kerja dua orang saja. Bandingkan dengan pola tradisional: satu keluarga 2 ekor sapi.

Dengan kandang komunal, ada keuntungan lain yang bisa diperoleh: pupuk cair dari air kencing sapi. Seekor sapi setiap hari memproduksi 15 liter air kencing. Dengan penghuni 42 ekor sapi, air kencing sapi yang dihasilkan mencapai 15 liter x 42 = 630 liter per hari.

Belum dari pupuk kompos faeses atau tinja sapi. Setiap ekor sapi rata-rata menghasilkan faeses kering seberat 3 Kilogram. Dengan jumlah 42 ekor sapi, produksi faeses per hari mencapai 42 x 3 = 126 Kilogram.

Kalau sudah difermentasi menjadi pupuk, air kencing dan faeses sapi itu menjadi produk yang berharga tinggi. Bisa untuk membiayai pakannya sendiri.

Sebelum dijadikan pupuk, faeses sapi bisa diolah untuk menghasilkan biogas atau bioenergy melalui ‘’septic tank’’ yang dirancang secara khusus. Gas yang dihasilkan bisa untuk memasak. Bisa untuk penerangan dengan modifikasi lampu petromaks.

Memang hotel sapi tersebut belum dilengkapi dengan unit pengolah pupuk dan biogas. ‘’Kami baru berkonsentrasi menyediakan sapi qurban. Setelah Idul Adha, kami akan menambah kapasitas dan mulai mengelola limbahnya,’’ kata Yosep.

Untuk menjual, Yosep memanfaatkan media digital: WhatsApp. Setiap hari perkembangan stok sapi di-update. Dikirimkan ke berbagai grup diskusi. Pembeli kemudian datang ke kandang untuk mencocokan informasi itu dengan kondisi sapi yang sebenarnya. Untuk yang sudah percaya, biasanya akan langsung transfer dana tanpa perlu mengecek ke kandang.

Hari ini, misalnya, datang pembeli dari Jogja. Namanya Gianto. Dia datang untuk memastikan sapi yang dibelinya untuk qurban nanti. Sapi yang sudah sesuai pesanan dia tandai. Lalu difoto-foto.

Selain Gianto, ada pula pembeli lain. Utusan juragan bakso di Kabupaten Wonogiri. Dia sedang menjajaki kerjasama penyediaan sapi pedaging untuk produksi bakso yang akan dikirim ke outlet penjualannya di seluruh Indonesia.

Yosep orang Sunda asli. Nama aslinya Osep. Menjadi Yosep gara-gara petugas kelurahan salah mengetik akta kelahirannya. Harusnya diketik Osep, eh, tertulis Yosep. Terpaksa nama itu dipakai sampai sekarang.

Sejak 1996, alumni IAIN Sunan Kalijaga Jogja itu tinggal di Gunung Kidul. Menjadi pegawai negeri di Dinas Agama. Sampai sekarang. Di luar tugasnya sebagai aparatur negara, Yosep aktif sebagai pengurus Muhammadiyah Gunung Kidul.

Hotel sapi itu merupakan salah satu proyek pemberdayaan ekonomi rakyat yang diinisiasi. Hotel itu dibangun di atas lahan wakaf milik Muhammadiyah. Ada tiga lahan terpisah yang dimanfaatkan. Satu untuk hotel sapi. Dua lainnya untuk menanam pakan hijauan.

Untuk membangun satu hotel berikut hijauannya, Yosep memerlukan dana Rp 300 juta. Khusus kandang berkonstruksi besi, dana yang dihabiskan mencapai Rp 200 juta. Sumber dananya dari Lazismu, lembaga amil zakat Muhammadiyah. Inilah salah satu manfaat zakat untuk memberdayakan umat, melalui program ekonomi rakyat. (jto)

*Wakil Sekretaris Badan Pengurus Lazismu PP Muhammadiyah, admin www.disway.id