Hilangkan Batu Ginjal Pakai Laser, Tak Perlu Iris Pasien

Melihat Teknologi RIRS di RSUD AWS yang Ditanggung BPJS Kesehatan

107
LASER TERKUAT: Dokter Boyke dan tim sudah mengerjakan ratusan tindakan RIRS di RSUD AWS, Samarinda. Beberapa waktu lalu dia juga menjadi mentor dalam workshop yang dihadiri spesialis urologi se-Jawa Tengah di RSUD Prof Dr Margono Soekarjo, Purwokerto.dr boyke for kaltim post
LASER TERKUAT: Dokter Boyke dan tim sudah mengerjakan ratusan tindakan RIRS di RSUD AWS, Samarinda. Beberapa waktu lalu dia juga menjadi mentor dalam workshop yang dihadiri spesialis urologi se-Jawa Tengah di RSUD Prof Dr Margono Soekarjo, Purwokerto.dr boyke for kaltim post

Menghancurkan batu ginjal perlu waktu berhari-hari. Persiapan operasi. Tindakan. Dan masa pemulihan. Tapi, itu dulu. Sekarang bisa lebih ringkas. Dengan alat canggih.

Roesita Ika Winarti, Samarinda

eQuator.co.id – PENYAKIT batu ginjal atau nefrolitiasis adalah suatu kondisi ketika material keras menyerupai batu terbentuk dalam ginjal. Tak perlu cemas, di Kaltim tersedia peralatan dan metode terbaik mengatasinya. Semuanya dikerjakan oleh spesialis berkompeten.

Boyke Soebhali SpU dari RSUD Abdul Wahab Sjahranie (AWS) Samarinda menyebut, penanganan batu ginjal bisa dilakukan dengan retrograde intrarenal surgery (RIRS). Tindakan itu ditujukan untuk menghancurkan batu dalam ginjal. Dengan keunggulan teknik tanpa irisan.

Teknik tersebut menggunakan flexible ureterorenoscope (FURS) yang dapat memasuki kaliks atau saluran ginjal dengan leluasa. Kemudian, untuk memecah batu, dokter akan menggunakan laser.

Di RSUD AWS, kata Boyke, telah menggunakan teknologi Holmium Laser dengan mesin Lumenis 100 watt untuk kasus batu dan prostat. “Alat ini merupakan salah satu mesin laser terkuat dan terbaik di dunia,” kata Boyke kepada Kaltim Post (Jawa Pos Group), Senin (18/6).

Di Indonesia, jelasnya, populer digunakan laser 30, 35, atau 60 watt. Bahkan, rumah sakit sekelas Mount Elizabeth, Singapura, hanya menggunakan laser bertenaga 60 watt.

Dia mengatakan, selisih tenaga yang digunakan menghasilkan perbedaan yang besar. Makin besar tenaga laser, waktu untuk menghabiskan batu kian cepat.

Tindakan tanpa irisan itu, sebut dia, bakal menguntungkan pasien. Bila tidak ada komplikasi, pasien bisa pulang sehari setelah operasi. Komplikasi ringan sangat jarang terjadi.

“Samarinda adalah satu-satunya tempat di Indonesia yang rutin mengerjakan tindakan RIRS. Di tempat lain pun bisa melakukan prosedur ini. Tapi, di AWS, kami mengerjakan kurang lebih 250-300 tindakan per tahun,” ucap alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya tersebut.

Sebelum melakukan tindakan, dia akan mendiagnosis pasien dengan teliti. Selanjutnya, pasien diharuskan menjalani CT Scan. Seberapa keras batu dalam ginjal pasien akan diperiksa kembali.

“Bila batunya keras, lebih dari 1.300 HU, kami akan melakukan tindakan dengan metode lain,” kata dia.

Dia menjelaskan, FURS nantinya akan dimasukkan lewat saluran kemih. Sampai ke titik batu yang menyumbat. Bila ukuran saluran belum cukup lebar, akan dimasukkan semacam selang kecil untuk melebarkan ureter.

Sekali tindakan, jelas Boyke, memakan waktu tak lebih dari satu jam. Sebab, bila lebih dari itu, risiko infeksi akan semakin besar.

“Tapi, bukan berarti operasinya gagal. Ini bertahap. Batu yang masih tersisa akan kembali dihancurkan bulan depan,” ungkapnya.

Boyke menyebut, menggunakan metode RIRS tak perlu khawatir soal biaya. Sebab, pemerintah bakal menanggungnya lewat BPJS Kesehatan.

Secara alami, terang dia, ginjal membersihkan darah tiap hari dengan menyaring zat-zat limbah yang terdapat di dalamnya. Selanjutnya, dibuang melalui urine. Kadang zat-zat itu kadarnya terlalu banyak dibanding cairan yang berfungsi sebagai pelarut. Jadi, tidak dapat sepenuhnya terbuang oleh tubuh dan mengendap di dalam ginjal.

Faktor penyebab lainnya adalah ginjal kekurangan bahan yang berfungsi mencegah endapan kristal menggumpal membentuk batu.

Pria berkacamata itu menjelaskan, secara alami, batu tersebut bisa keluar dengan sendirinya.

“Batu berukuran kurang dari 4 milimeter (mm) sampai 6 mm, 80 persen bisa keluar sendiri saat buang air kecil. Sementara batu berukuran 6 mm sampai 1 sentimeter (cm), peluangnya 20 persen. Lebih dari itu, harus dikeluarkan melalui tindakan seperti RIRS dan lain-lain,” paparnya.

Endapan batu di dalam ginjal bisa karena makanan. Atau masalah kesehatan lain. Berdasarkan bahan pembentuknya, batu ginjal bisa dibagi menjadi empat jenis utama, yaitu batu kalsium, batu asam urat, batu amonia (struvit), dan batu sistin.

Batu kalsium disebabkan tingginya kadar kalsium di dalam urine. Jenis ini merupakan yang paling umum terjadi. Tingginya kadar kalsium bisa diakibatkan penyakit keturunan hiperkalsiuria. Kondisi itu menyebabkan penderitanya melepaskan kalsium yang banyak dalam urine.

Tingginya kadar kalsium juga bisa disebabkan oleh kelenjar paratiroid yang terlalu aktif. Hormon yang diproduksi kelenjar tersebut berfungsi mengatur jumlah kalsium di dalam darah.

Sementara batu asam urat terbentuk akibat tingginya kadar asam urat di dalam urine yang diakibatkan makanan berkadar purina tinggi. Contoh makanan yang memicu tingginya asam urat adalah kerang-kerangan, daging, dan ikan. Penderita penyakit gout juga berisiko tinggi membentuk batu jenis itu.

Kemudian ada batu struvit. Ini merupakan jenis batu ginjal yang dapat terbentuk dan membesar secara cepat. Penyebab utama terbentuknya batu struvit adalah infeksi saluran kemih yang telah berlangsung lama. Jenis batu tersebut lebih sering ditemukan pada pasien perempuan dibandingkan pasien laki-laki.

Sedangkan yang terakhir adalah batu sistin. Batu ginjal ini terbentuk akibat terlalu banyaknya asam amino sistin yang dikeluarkan oleh ginjal. Batu sistin merupakan jenis batu ginjal yang sangat jarang ditemukan. Kondisi itu disebabkan penyakit yang dikenal sebagai sistinuria. Penyakit tersebut memengaruhi jumlah asam amino sistin yang dikeluarkan dalam urine.

Selain faktor makanan dan kondisi kesehatan yang mendasari, ada beberapa faktor lain yang bisa memicu terjadinya penyakit batu ginjal. Di antaranya, kurang minum air putih, obesitas, hingga mengonsumsi obat-obatan. Misalnya diuretik, aspirin, antibiotik, antasid, serta beberapa obat anti-epilepsi dan antiretroviral.

Sebagai pencegahan, gaya hidup sehat tentu perlu dilakukan. Mulai menjaga makanan, minum air putih yang cukup, hingga berolahraga.  (Kaltim Post/JPG)