HCC Kalbar dan Mafindo Gencar Sikapi Hoaks

Penyebar Memang Menginginkan Ketakutan Terjadi

13
Ilustrasi : Internet

eQuator.co.id – Pontianak-RK. Setiap kali ada hoaks, disitu pasti ada Hoax Crisis Center (HCC) Kalimantan Barat dan Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) Pontianak. Kolaborasi perkumpulan orang-orang antihoaks ini berjibaku mengkonfirmasi dan mencari informasi suatu isu yang disebarkan.

Teranyar, isu penculikan anak yang disebut terjadi di Jalan Tabrani Ahmad, Komplek Griya Pertama, Kecamatan Pontianak Barat. Isu ini secepat kilat dibahas di jagad maya dan grup-grup whatsapp. Banyak pula yang percaya. Apalagi dibumbui dengan foto seorang pria yang sudah babak belur dihajar massa. Seakan, pria itu adalah pelaku penculikan anak.

Penelusuran dan cek fakta yang dilakukan HCC Kalbar dan Mafindo akhirnya membuahkan hasil. Foto pria babak belur itu adalah Iskandar. Pria 41 tahun itu memang babak belur dihajar massa setelah tertangkap tangan mencuri handphone (HP) di sebuah warung milik warga di Kampung Cipambuan, Desa Cipambuan, Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor. Modusnya, berpura-pura ingin makan. Namun aksinya berhasil diketahui pemilik warung dan diteriaki maling. Iskandar ditangkap dan dihajar massa, pada Selasa (16/10) sekira pukul 08.00 Wib.

Oleh netizen, foto wajah Iskandar yang babak belur itu ramai diperbincangkan di sejumlah grup whatsapp. Iskandar pun disebut-sebut tertangkap dan dikeroyok warga karena akan menculik anak di kawasan Cimahpar, Bogor. Kabar bohong ini pun seketika menyebar ke Kalbar.

Project Manager HCC Kalbar, Nina Soraya mengatakan, dua hari ini HCC memang mendapatkan sejumlah pertanyaan dari netizen terkait hoaks penculikan anak.

“Nah, mendapat pertanyaan itu, kita segera melakukan penelusuran dan verifikasi melalui media sosial dan media mainstream yang ada. Maka tim cek fakta kami menemukan bahwa itu adalah hoaks berjenis disinformasi,” ujarnya.

Menurut dia, ada yang dikaburkan dan membuat ketakutan. “Jadi, wajar memang kewaspadaan terhadap anak-anak kita ditingkatkan. Tapi dengan mengeshare berita bohong, sama saja kita menebarkan ketakutan yang tak ada bedanya dengan membuat terpicunya kejahatan baru,” kata Nina.

Dia mengingatkan, suatu kejadian yang memilukan akibat penyebaran berita hoaks. “Masih ingat seorang kakek yang meninggal dunia di Sadaniang, Kabupaten Mempawah beberapa tahun lalu karena hoaks penculikan anak? Itu bukti nyata jika mengeshare hoaks bisa menghilangkan nyawa orang lain, yang tak bersalah. Mari cerdas bermedia sosial,” ajaknya.

Nina berpendapat, pencipta hoaks memang menginginkan ketakutan terjadi. Melalui hal mendasar, yakni keluarga. “Siapa yang tidak takut jika anaknya atau saudaranya yang masih di bawah umur diculik? Ketika ketakutan itu tercipta, tujuan akhirnya adalah mendeskriditkan kinerja polisi,” ucapnya.

Analisis HCC Kalbar, sambung Nina, sudah sampai di sana. Ada pihak yang ingin membuat chaos negeri ini. Dengan menebarkan ketakutan, lewat medium dunia maya. Lalu, jika ketakutan sudah sporadis, menebar di setiap lokasi yang padat penduduk, kepolisian dibikin kewalahan. Kekacauan pun kemudian tercipta dan tudingan atas kinerja melayani serta melindungi masyarakat dijadikan alasan untuk menghujat kinerja korps baju coklat itu.

“Nah ini yang kami tak inginkan. Dan kami dari HCC berharap, hasil debunk yang dilakukan oleh tim cek fakta dan juga media yang telah terpublis itu bisa disebarkan oleh masyarakat, agar menjadi kewaspadaan atau yang kami sebut siskamling digital,” tambah Nina.

Sementara itu, Ketua Pembina Mafindo Pontianak, Syarifah Ema Rahmaniah menerangkan, kejahatan penculikan memang harus diwaspadai. Dimana dan kapan pun bisa saja terjadi.

“Sebagai orang tua, memang harus waspada pada penculikan anak. Kejahatan ini bisa terjadi dimana saja dan kapan saja asal ada niat dan kesempatan. Hanya jangan reaktif dn berlebihan menaruh kecurigaan pada orang. Karena ini akan membuat gaya hidup yang paranoid dan grasa-grusu,” ujarnya.

Menurut Pengamat Sosial Pontianak ini, kekhawatiran dan sembarangan curiga pada orang dapat memantik kekerasan dan main hukum sendiri. Oleh karena itu, dalam menyebarkan informasi jangan sembarangan.

“Warga diharapkan bisa bijak berbagi informasi dan foto-foto. Cek dan pastikan kebenaran informasi sebelum berita itu disebarkan hingga viral dan membuat warga resah,” imbaunya.

Intinya sambung dia, juga perlu ditingkatkan kewaspadaan terhadap keamanan anak-anak. Jangan biarkan anak-anak berjalan sendiri di tempat sepi. Ajarkan anak untuk berani dan berhati-hati pada orang asing. Berani berteriak jika didekati orang asing atau menghindar ke tempat ramai atau pos keamanan terdekat.

“Kasian anak-anak menjadi sempit ruang bermain dan beraktvitasnya jika orang tua mereka berlebihan ketakutannya. Dan serba melarang tanpa pertimbangan yang bijak,” tuturnya. (oxa)