Halloween

120

eQuator – Sabtu (31/10) tadi malam atau bertepatan dengan malam Minggu, di beberapa tempat, terutama di kota-kota besar di Indonesia, ramai yang merayakan Halloween.

Perayaan Halloween di Indonesia memang tidak seramai dan semeriah di negara-negara Barat. Namun, suasananya kurang lebih sama, yakni pesertanya mengenakan kostum hantu.

Kendati setiap tahun merayakan Halloween, tidak banyak dari warga negara Indonesia yang mengetahui asal usul pesta yang menurutnya menyeramkan itu. Lantaran mereka sekedar ikut-ikutan, iseng atau lainnya.

Seperti diketahui, kata Halloween kali pertama digunakan pada abad ke-16. Kata ini merupakan varian kata Skotlandia, yaitu All Hallows Even yang berarti Malam yang sepenuhnya suci atau keramat, sebelum hari raya All Hallow yang sekarang disebut Hari Raya Semua Orang Kudus (All Saints Holy Day).

Hari All Saints diperkenalkan pada 609 Masehi dan dirayakan setiap 13 Mei (dulunya dirayakan sebagai hari raya paganisme untuk Festival Lemuria). Namaun pada 835, perayaan All Saints Days beralih menjadi 1 November atas perintah Paus Gregorius IV.
Dulu, Gereja Kristian merayakan hari All-Saints atau All-Hallows pada siang hari 31 Oktober, dan pada malamnya mereka merayakan Halloween seperti tadi malam.

Halloween ini dipengaruhi Festival Panen di Eropa Barat dan Festival Orang Mati dari tradisi kaum penyembah berhala (pagan), terutama kaum Samhain Celtic.

Menurut Sejarawan, Nicholas Rogers, Hallowen berasal dari pesta Romawi untuk menghormati Dewi Pomona, dewi buah-buahan dan biji-bijian. Perayaan ini sering dikaitkan dengan Festival Samhain dari bangsa Celtic.

Kata Samhain berasal dari bahasa Irlandia Kuno yang berarti “Akhir Musim Panas”, yang menandai berakhirnya musim panen dan awal musim dingin. Di Irlandia, orang pergi mengumpulkan makanan sebelum malam, untuk pesta Samhain dan kadang-kadang mengenakan kostum saat melakukannya.

Secara perlahan-lahan, Halloween pun berubah menjadi bagian peribadatan dan kebiasaan keluarga. Di Amerika, biasanya perayaan ini dirayakan anak-anak dengan memakai kostum seram, dan berkeliling dari pintu ke pintu rumah tetangga meminta permen atau cokelat sambil berkata “Trick or treat!” Ucapan tersebut adalah semacam “ancaman” yang berarti “Beri kami (permen) atau kami jahili.”

Di zaman sekarang, anak-anak biasanya tidak lagi menjahili rumah orang yang tidak memberi apa-apa. Sebagian anak-anak masih menjahili rumah orang yang pelit dengan cara menghiasi pohon di depan rumah mereka dengan tisu toilet atau menulisi jendela dengan sabun.

Halloween pun akhirnya identik dengan setan, penyihir, hantu goblin dan makhluk-makhluk menyeramkan dari kebudayaan Barat. Halloween disambut dengan menghias rumah dan pusat perbelanjaan dengan simbol-simbol Halloween. Tradisi ini dari Irlandia, dan dibawa oleh orang Irlandia yang berimigrasi ke Amerika Utara.
Simbol Halloween yang dimengerti secara universal adalah labu yang diukir membentuk wajah menyeramkan yang disebut Jack-o’-lantern. Tradisi mengukir Jack-o’-lantern berasal dari Amerika Utara yang banyak menghasilkan labu berukuran besar.

Di dalam Jack-o’-lantern, biasa diletakkan lilin menyala atau lampu agar terlihat lebih seram di tempat gelap. Di Amerika Serikat, Jack-o’-lantern ini sering diletakkan di depan pintu masuk rumah ketika hari mulai gelap.

Simbol-simbol perayaan Halloween menggambarkan keadaan alam di musim gugur, termasuk labu hasil panen dan orang-orangan sawah sebagai penjaga hasil panen.

Selain itu, simbol-simbol Halloween juga dekat dengan kematian, keajaiban, monster, dan karakter menyeramkan hasil rekaan pembuat film Amerika dan perancang grafis.

Karakter-karakter yang sering dikaitkan dengan Halloween adalah setan dan iblis dari kebudayaan Barat, manusia labu,makhluk angkasa luar, penyihir, kelelawar, burung hantu, gagak, burung bangkairumah hantukucing hitam, laba-labagoblinzombiemumi, tengkorak, dan manusia serigala.

Karakter film horor klasik seperti drakula atau monster Frankenstein juga dipakai untuk perayaan Halloween. Hitam dan oranye dianggap sebagai warna tradisional Halloween, walaupun sekarang banyak juga barang-barang Halloween berwarna unguhijau dan merah.

Di belahan bumi beriklim sejuk, perayaan Halloween berlangsung di musim apel. Salah satu makanan dalam perayaan itu berupa apel karamel (apel yang dicelup ke dalam cairan gula).

Hidangan lain yang lekat dengan tradisi Halloween adalah pai labusari buah apel (minuman cider), candy cornbonfire toffeecandy apple, dan permen yang dibungkus dengan warna-warni Halloween (oranye, coklat, atau hitam)

Bagi anak-anak di Amerika, Halloween berarti kesempatan memakai kostum Halloween dan mendapatkan permen. Sedangkan bagi orang dewasa menjadi kesempatan berpesta kostum.

Sedangkan bagi pedagang eceran atau para pengusaha di Amerika, Halloween berada di urutan kedua di bawah hari Natal sebagai perayaan yang paling menguntungkan.

Sejarah topeng dan kostum Halloween sebelum 1900 di Amerika atau di tempat lain, masih sedikit yang diketahui. karena keterbatasan sumber primer. Kostum Halloween yang diproduksi massal belum terlihat di toko-toko hingga 1950-an, walaupun topeng Halloween sudah ada lebih dulu.

Pada 2005, asosiasi produsen permen Amerika melaporkan 80 persen orang dewasa berencana membagi-bagikan permen kepada anak-anak yang datang. Sedangkan 93 persen anak-anak ingin berkeliling dari pintu ke pintu rumah tetangga di malam Halloween.

Kota Anoka di negara bagian Minnesota mengklaim diri sebagai “Ibukota Halloween” dan merayakannya dengan pawai besar-besaran. Sedangkan Kota Salem di Massachusetts terkenal dengan legenda tukang sihir dari Salem, biasanya didatangi lebih banyak wisatawan menjelang perayaan Halloween.

Selanjutnya Kota New York mengadakan pawai perayaan Halloween terbesar di Amerika Serikat yang disebut The Village Halloween Parade. Pawai yang dirintis pembuat topeng di Greenwich Village, New York sekarang menarik perhatian 50 ribu peserta berkostum dan ditonton 4 juta pemirsa televisi.

Melihat sekelumit sejarah Hallowen yang dirangkum dari berbagai sumber ini, dapat disimpulkan bahwa perayaan ini berasal dari tradisi paganisme yang bertransformasi dari zaman ke zaman.

Tetapi kini, dengan kondisi masyarakat di Barat yang cenderung materialis, perayaan Hallowen lebih pada mencari keuntungan bisnis. Apalagi perayaan ini terus mewabah ke berbagai negara di dunia, termasuk di Indonesia.

Sangat disayangkan, Indonesia yang memiliki banyak tradisi unik dan tentunya dapat memberikan keuntungan secara finansial, belum mampu “memasarkan” tradisinya hingga ke tingkat dunia seperti Halloween tersebut.

Sebagai contoh Pawai Tatung di Kota Singkawang, tradisi yang sudah hilang di negeri asalnya (Tiongkok) ini, hingga kini belum bisa mewabah ke penjuru dunia.

Pawai Tatung yang menjadi acara utama dalam Festival Capgomeh itu dari tahun ke tahun masih seperti dahulu kala. Hanya mereka yang benar-benar seorang Tatung yang bisa menjadi peserta pawai.

Kalau saja Pawai Tatung bukan semata sebagai ritual keagamaan dan pesertanya boleh dari kalangan umum, sudah dapat dipastikan even besar ini akan memberikan multiplier effect bagi masyarakat.

Sudah barang tentu akan bermunculan para pengusaha penyedia jasa pembuatan pakaian tatung untuk semua usia, berikut replika peralatannya seperti tandu, senjata atau lainnya.

Selanjutnya, setiap Imlek niscaya akan bermunculan kegiatan-kegiatan yang mana para pesertanya mengenakan pakaian layaknya seorang Tatung yang sedang beraksi.

Bukan mustahil pula kelak akan muncul Festival Kostum Tatung, dibuat para desainer kenamaan di dunia. Tetapi hal tersebut baru sebatas angan-angan, entah bisa terwujud atau tidak.

Selain Pawai Tatung di Kota Singkawang, di Indonesia masih banyak kegiatan yang berkaitan dengan roh, leluhur, mahkluk halus, hantu atau lainnya, seperti halnya Halloween. Tetapi masih sebatas tradisi lokal yang mesti dijaga dan dilestarikan, dan “dilarang” untuk dijadikan lahan bisnis hiburan. (mordiadi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here