Hadirkan Obat Tradisional hingga Barang Purbakala

Stan Galery Borneo Abrisam Tahawong Kalteng

25
PAMERAN. Erna dan Abah Niko mengisi stan Kalteng di Pameran Pesparawi ke XII di Rumah Radakng Pontianak, Kamis (2/8). Nova Sari-RK
PAMERAN. Erna dan Abah Niko mengisi stan Kalteng di Pameran Pesparawi ke XII di Rumah Radakng Pontianak, Kamis (2/8). Nova Sari-RK

eQuator.co.idPONTIANAK-RK. Salah satu yang mengisi Pameran Pesta Paduan Suara Gerejawi (Pesparawi) ke XII di Rumah Radakng Pontianak, stan Galery Borneo Abrisam Tahawong. Stan asal Kalimantan Tengah (Kalteng) ini menampilkan berbagai produk tradisional dan barang purbakala.

Stan Galery Borneo Abrisam Tahawong dibangun pasangan suami istri, Abah Niko dan Erna. Mereka memang kerap mengisi pameran dimana pun. Pasutri ini menjual produk yang dibuat keluarganya secara turun temurun.
Salah satunya minyak buntal. Minyak turun temurun keluarga pasutri ini berbahan dasar ikan buntal Sungai. Minyak ini dibuat khusus dan alami, tanpa percampuran bahan kimia.
“Minyak buntal ini memang jadi andalan produk kami yang paling laris. Sebab memang ini minyak alami yang dibuat secara tradisional, sehingga memiliki khasiat tersendiri,” ujar Erna kepada Rakyat Kalbar, Kamis (2/8).
Ada juga tangkur buaya yang berfungsi sebagai penambah stamina. Kemudian akar pangarereng yang merupakan obat tradisional mengobati diabetes dan segala macam penyakit. Selanjutnya dijual pasak bumi dan lain-lain.

Di galeri ini juga menjual beragam kerajinan. Seperti syal dengan motif tenun khas Dayak, aneka gelang manik-manik, peci, dan beragam produk lainnya. “Untuk harga memang bervariasi. Seperti mandau dati harga Rp600 ribu-Rp3 juta, kemudian untuk minyak buntal dari harga Rp100ribu-Rp300 ribu,” terang Erna.
Sementara barang-barang purbakala di galeri ini berupa rahang babi hutan yang usianya sudah puluhan tahun. Kemudian baning, yaitu kura-kura yang diawetkan. Ada pula pipa rokok yang dibuat dari gading dan tanduk kijang.
“Memang untuk peninggalan purbakala ini awalnya tidak dijual, hanya pemanis galeri. Namun apabila ada yang berminat dengan harga sesuai tentu kami lepas. Seperti baning kura-kura, kalau ada yang berminat dijual seharga Rp5 juta sama juga dengan rahang babi,” tuturnya.
Erna mengaku sudah sering ke Pontianak. Bahkan dia sudah memiliki pelanggan di Kota Khatulistiwa ini.
“Antusias masyarakat Pontianak cukup tinggi terhadap produk yang kami tawarkan. Apalagi suami saya juga buka konsultasi pengobatan alternatif, sehingga tak sedikit masyarakat yang mengenalinya,” tuturnya
Produk unggulan keluarga mereka ini sudah diproduksi dan dipasarkan secara luas. Tidak hanya di Kalteng dan Indonesia, bahkan hingga mancanegara.
“Di Jakarta kami punya galeri sendiri. Kami juga sudah punya langganan di lima negara, seperti Brunai Darusalam, Malaysia, Singapura, Hongkong dan Kanada,” paparnya.

Disebutkan dia, minyak buntal bermanfaat untuk alat vital bagi kaum pria dan wanita. “Bahkan setiap ada even, stan kami selalu ditunggu-tunggu kehadirannya,” tukasnya. (nov)