Gubernur: Pertamina Sangsot Lagi

MANAS. Gubernur Sutarmidji mengungkapkan kejengkelannya kepada Pertamina di akun Instagram @bang.midji. INSTAGRAM

Pontianak-RK. Kelangkaan elpiji bersubsidi 3 Kg alias si Melon direkayasa? Pertamina Cabang Kalbar diduga tak berbuat sesuatu untuk mengatasi antrian. Wajarlah kalau Gubernur Kalbar Sutarmidji berang.

“Pertamina ngurus Elpiji 3 kg tak pernah beres, baru aman 2 bulan sudah sangsot lagi, padahal yang ngurus anak muda,” begitu tulis Bang Midji pada caption foto antri si Melon di akun Instagramnya, Rabu (30/10).

Dalam akun Instagram @bang.midji, Gubernur kesal, jengkel, dan kecewa. Mengomeli Pertamina yang dinilainya tak pernah tuntas menyelesaikan masalah penyaluran elpiji bersubsidi untuk masyarakat bawah yang kurang mampu dan miskin.

Karut marut pendistribusian elpiji 3kg yang peruntukannya bagi masyarakat miskin, yang terus berulang itu bahkan membuat mantan Wali Kota Pontianak itu marah. Karena itu Midji mengingatkan Kepala Daerah terkait kelangkaan si Melon.

“Sy minta walikota dan bupati cabut semua izin agen, pangkalan atau pengecer kalau mereka curang dlm pendistribusian elpiji 3 kg. Semoga Pertamina segera tangani.” pintanya.

Tidak terkontrolnya distribusi yang dilakukan agen, penyalur, pangkalan dan pengecer, tak terlepas dari lalainya Pertamina yang mengabaikan keresahan dan kesusahan masyarakat kecil. Begitupun aparat keamanan, antrian di berbagai tempat malah “didominasi” preman dengan banyak tabung yang dilonggokkan di pangkalan atau tempat eceran. Mulanya berbaju kaos oblong, tak lama kembali dengan baju berbeda.

Situasi di awal dan pertengahan tahun tanpa antrian, dipertanyakan banyak pihak mengapa harus terjadi di penghujung tahun. Sekarang, antara tiga minggu hingga sebulan lebih si Melon langka lagi.

Kalau pun ada di pangkalan, pasti sudah dijatah. Tak sampai dua jam sudah habis dikerubuti pengantri. Begitupun di SPBU, antrean cukup panjang dari pukul 08:00 WIB.

“Sekarang ni, kalau mau beli di pangkalan harus pesan mang. Kalau ndak, tak dapat,” tutur Endang, warga Purnama 1 Pontianak Selatan kepada Rakyat Kalbar, Rabu (30/10).

Perempuan paroh baya yang sehari-hari jualan bubur itu mengeluhkan kelangkaan gas 3kg di wilayah Pontianak Selatan sudah tiga minggu.

Walaupun harga eceran di wilayah Pontianak Selatan masih stabil, namun untuk mendapatkannya harus pesan, bak indent sepeda motor limited edition. “Tapi kalau sudah di pengecer, harganya sudah di atas Rp20 ribu. Itu pun susah nyareknye,” sebutnya.

Begitupun dengan Ibu Nina, yang Selasa (29/10) petang gas 3kg di rumahnya habis saat tengah memasak. Bergegas turun mau beli gas di pangkalan yang tak jauh dari rumahnya. Namun sial, gas sudah habis. Ia pun coba menyisir tempat penjualan gas eceran, tak ditemukan juga.

“Akhirnye menggoreng ikan untuk makan malam tak jadi. Karena tak dapat gas. Tadi pagi (Rabu) baru dapat di pangkalan. Itu pun sebentar saja habis dah,” pungkasnya.

Pihak Pertamina Pontianak belum bisa memberikan klarifikasinya soal kelangkaan elpiji si melon yang tak berkesudahan ini. Upaya konfirmasi perihal apa sikap Pertamina atas status keras Gubernur Kalbar di Instagram, gagal. Di Kantor Pertamina di Jalan Sutoyo Pontianak Selatan, Rabu (30/10) siang, tak seorang pun pejabat Pertamina yang bisa ditemui.

“Semuanya lagi vicon, Mas,” kata sorang resepsionis di Kantor Permina Pontianak kepada Rakyat Kalbar.

Penelusuran Rakyat Kalbar ternyata tidak ada kelangkaan gas elpiji 3 kg. “Itu semua sudah diatur Pak, tau same taulah,” kata seorang pemilik pangkalan yang menolak namanya disebutkan, kemarin (30/10).

Ditanya soal akibat penutupan Jembatan Kapuas 2 hingga elpiji bersubsidi langka sebagaimana diutarkan pengawas bernama Rizal, pekan lalu? “Ngomong laen jak, kontainer pon bise lewat. Masaklah Cuma truk gas sangkot?” katanya balik bertanya.

Ternyata, investigasi Rakyat Kalbar di Stasiun Pengisian Bulk Elpiji (SPBE), normal saja sepanjang tahun. Bahkan pada hari-hari besar keagamaan ditambah suplainya.

Kelangkaan setakat ini terjadi di Kota Pontianak dan Kubu raya yang memiliki tiga SPBE. Satu stasiun di Wajok Hulu, PT Pesona Asia Sejahtera setiap harinya menyuplai 60-70 loading order (LO) dari agen. Kemudian PT Usaha Gas Elpindo di Pontianak Utara, lebih besar karena khusus pengisian elpiji bersubsidi, per harinya diduga 70-80 LO. Sedangkan PT Bangun Energi Persada Nusantara kuotanya sekira 40-50 LO.

Puluhan ribu tabung gas bersubsidi setiap hari tak mungkin diserap habis oleh warga kurang mampu dan muskin di Kota Pontianak? Itulah yang belum dijelaskan Pertamina kepada Gubernur Kalbar dan warga Kota Pontianak dan Kubu Raya.

 

Laporan: Abdul Halikurrahman

Editor: Mohamad iQbal