Gas Melon Dimainkan Para Spekulan

BELI TUNJUKKAN KK. Pemberitahuan yang ditempel di SPBU Jl. A Yani soal pembelian gas bersubsidi. Andi Ridwansyah-RK

eQuator.co.id – Pontianak-RK. Pengawasan suplai gas bersubsidi 3 Kg hangat-hangat tai ayam. Akibatnya, diduga si melon untuk warga kurang mampu itu diperebutkan oleh konsumen umum. Kilah penutupan Jembatan Kapuas 2 (JK2) di Kubu Raya sangat tidak beralasan.

Padahal, di Sungai Ambawang sendiri ada stasiun pengisian elpiji bersubsidi yang mencukupi untuk kebutuhan warga miskin di Kubu Raya. Sedangkan di Kota Pontianak sebuah stasiun pengisian dan satunya di Wajok Hulu yang keduanya menyuplai lebih dari 2 x 21.000 tabung si melon perhari. Itu di luar suplai stasiun di Ambawang berproduksi sama.

“Di daerah Objek (jurusan Rasau Jaya) baru ketemu. Itu pun beli dengan penjual gorengan. Yang kebetulan ada simpan stok. Saya beli 24 ribu,” tutur Diar, mahasiswa IAIN Pontianak, Kamis (24/10).

Kata warga Kuala Dua itu, sepekan terakhir elpiji 3 kg di Kubu Raya sulit didapat. Spekulan pun panen. Harga si melon yang resminya Rp16.500-18.00, naik di kisaran Rp24-Rp25 ribu per tabung di tingkat pengecer.

Jelas dan pastilah warga miskin resah. Sudahlah susah didapat, kalaupun ada harganya mahal.

“Saya juga tak tau sebabnye, ngape susah benar gas 3Kg sekarang didapat,” ujarnya.

Kelangkaan si melon juga terjadi di beberapa wilayah Kota Pontianak. Baiti, warga Tanjung Raya  II Pontianak Timur mengaku kesulitan mencari gas 3kg. Sekali dapat harganya pun Rp25 ribu.

“Itu pun keliling baru ketemu,” ujarnya.

Informasi yang diterima Rakyat Kalbar, permainan spekulan di Pontianak Selatan luar biasa. Warga miskin harus pesan dulu di pangkalan. Kalau tidak, tak bakal kebagian. Nah, sepekan terakhir di beberapa pengecer di wilayah Purnama tabung gas 3kg pun kosong.

“Sudah sebulan ini katanya gas (si melon) tak ada masuk,” ungkap ibu rumah tangga yang biasa membeli gas di pangkalan wilayah Purnama.

Di Kecamatan Sungai Kakap, warga bernama Mulyadi mengaku kelangkaan gas subsidi telah terjadi sejak sebulan terakhir. “Susah gas ni. Kalau datang di pangkalan sebentar jak abis,” katanya.  Akibatnya dia pun keliling kemana-mana mencari gas.

Kesulitan juga dialami Pendi, warga Desa Tanjung Saleh. Kelangkaan gas elpiji 3 kg membuat ia harus keliling mencari si melon ke satu demi satu pangkalan. “Namun tiap pergi, gas pasti kosong,” ujarnya.

Harus antri tunggu gas bongkar di pangkalan yang langsung masukkan ke dalam. “Setelah itu, barulah bisa mendapatkan gas, satu orang pertabung,” terangnya.

Stok di pangkalan bisa raib bak menguap seperti gas. Sesudah dimasukkan ke dalam Pangkalan, biasanya pemilik mengaku gas sudah habis. “Jadi kalau kita datang terlambat setelah pangkalan bongkar, jangan harap kebagian gas lagi,” beber Pendi.

Akhirnya ia pun harus membeli di warung dengan harga yang tinggi. “Ada yang jual 25 per tabung,” ujarnya yang curiga ada permainan nakal pangkalan. Yang menjual gas ke wilayah lain dengan harga tinggi. Atau siapa tahu dijual ke restoran.

“Kita curiga dikirim ke Sepok Laot, Telok Pakedai. Untuk dapat keuntungan yang lebih besar. Karena harga mahal,” duganya Pendi.

Padahal, masyarakat membutuhkan gas. Pangkalan nakal kata dia, kadang tidak melayani masyarakat.

“Kalok gas datang kadang die langsung tutup pintu. Saat ditanya gas kadang dia menjawab habis. Padahal baru gak datang,” imbuhnya.

Masyarakat pun harus antre berjam-jam sampai ke tepi jalan. Dan tidak semua bisa dapat. “Bahkan Pangkalan itupun menjual di harga 20 ribu per tabung, kepada masyarakat. Padahal itu pangkalan kan tidak boleh menjual di atas harga standar. Tapi masyarakat tak berani melapor,” pungkasnya.

Rizal, pengawas dari Pertamina Pontianak, mengatakan kelangkaan LPG yang terjadi seminggu belakangan, di wilayah Pontianak dan Kubu Raya, karena keterlambatan suplai. Akibat penutupan JK 2.

“Jadi penutupan Jembatan Kapuas 2 itu salah satu penyebabnya. Untuk memulihkan kondisi tersebut memang perlu waktu berminggu-minggu,” kelitnya dikonfirmasi Rakyat Kalbar.

Meski faktanya si melon kosong, Rizal justru menyebut selama ini tidak pernah ada masalah. Artinya, seharusnya si melon selalu tersedia.

Rizal mendorong masyarakat mengadukan jika ada agen yang melakukan spekulasi harga si melon dan menyembunyikan stok. “Kalau terbukti, kita bisa langsung PHU (Pemberhentian Hubungan Usaha) kan. Sanksi seperti ini sudah banyak kita berikan ke agen yang nakal,” ucapnya.

Soal kelangkaan LPG, ia memastikan Pertamina terus melakukan upaya-upaya pendistribusian dengan cepat ke agen-agen.

Nah, benarkah kata Rizal? Investigasi Rakyat Kalbar soal penutupan JK2 tidak beralasan si melon jadi langka. Pertamina malah menginstruksikan stasiun pengisian buka subuh pukul 05:00. Tak ada kekurangan distribusi untuk Kota Pontianak dan Kubu Raya dari 3 stasiun pengisian.

Setiap hari sepanjang Sepember-Oktober, loading order (order pesanan) tak kurang dari 39-40 truk pengangkut si melon. Kamis (25/10) misalnya, 39 truk masing-masing berisi 560 tabung, jadi 21.840 tabung disuplai kea gen. Kalikan 3 stasiun, artinya lebih 60 ribu tabung elpiji 3 kg disuplai stasiun.

Kemana larinya? Apakah sehari lebih 60 ribu tabung dihabiskan si miskin?

Buruknya pengawasan Pertamina dan otoritas Pemkot/Pemda, membuat spekulan bikin langka si melon bersubsidi. Apakah disuplai ke restoran, rumah tangga mampu, dan kebutuhan lainnya, tergantung dari sikap pemerintah melindungi si miskin.

 

Laporan: Abdul Halikurrahman, Andi Ridwansyah

Editor: Mohamad iQbaL