Gagal Bersaing Jadi Beban Pembangunan

Era Disrubsi, FEB Untan Siapkan SDM Mumpuni

8
SATIESP 2018. Jamaliah (hijab merah muda) beserta Dosen FEB Untan Ali Nasrun (kanan), Jumhur (tengah) dan Ketua Jurusan Ilmu ekonomi dan Studi Pembangunan FEB Untan Nurul Bariyah dalam kegiatan SATIESP 2018 di FEB Untan, Pontianak, Rabu (28/11). Nova Sari-RK

eQuator.co.idPONTIANAK-RK. Era disrubsi, harus mempersiapkan Sumber Daya manusia (SDM) mumpuni.  Terlebih Indonesia akan menghadapi bonus demografi.

“Era disrubsi ini adalah suatu gangguan. Jadi siapa yang cepat respon, ia akan terdepan menangkap peluang dengan baik dan berhasil. Tapi kalau terlambat, kita malah tertinggal,” terang Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Tanjungpura (Untan) Pontianak, Jamaliah, saat Seminar Akademik Tahunan dan Studi Pembangunan (SATIESP) 2018, Bedah Buku dan Pameran Poster PKM di FEB Untan, Rabu (28/11).

Dijelaskannya, era disrubsi sama halnya dengan berlomba. Apalagi dalam menghadapi bonus demografi, gagal dalam persaingan akan menjadi beban pembangunan.

“Di era disrubsi, kalau tidak dapat menangkap peluang, justru jumlah penduduk yang sangat besar ini akan menjadi beban bagi pembangunan,” tuturnya.

Jamaliah mengatakan saat ini, pihaknya melakukan persiapan dalam upaya menghadapi era disrubsi. “Kita tidak ingin mahasiswa terlambat disiapkan, artinya harus dicepat direspon,” jelasnya.

Berbagai kegiatan dilakukan pihak kampus. Salah satunya dengan melakukan seminar-seminar bagi mahasiswa dan worshop untuk mempersiapkan SDM agar lebih mumpuni dalam menghadapi perkembangan dunia. Terlebih saat ini, ia memandang sistem belajar mengajar sudah tidak lagi menggunakan cara-cara konvensional. Dengan menggunakan kecanggihan teknologi berbasis digital, lebih memudahkan mahasiswa dan tenaga pendidik dalam menyampaikan materi.“Sekarang namanya belajar sudah tidak ada jeda. Dimana saja bisa,” ucapnya.

Dulu kata dia, guru harus ada. Kalau tidak ada, harus cari guru pengganti. Sekarang sudah lebih efisien, mahasiswa untuk mengerjakan tugas sudah lebih gampang via email dan lain-lain. “Sudah lebih efisien, jadi tidak lagi dalam konteks zaman old,” sebutnya.

Begitu juga dari sisi perangkat, juga harus dipersiapkan sesuai eranya. Termasuk dalam rencana pembelajaran, modul belajar juga perlu dipersiapkan.

“Termasuk pula kemampuan dosen, kita juga persiapkan, dengan memberi pelatihan, workshop, riset yang juga kita fasilitasi. Sebab tidak mungkin muridnya dipersiapkan, tapi gurunya tidak paham,” demikian Jamaliah.

 

Laporan: Nova Sari

Editor: Arman Hairiadi