Gadis Yatim Piatu Juara Dunia Hapkido

Atlet Kubu Raya Wakili Indonesia Bertarung di Korsel

40
JUARA DUNIA. Devi Safitri naik podium sambil membentangkan bendera merah-putih sebagai juara pertama World Hapkido Championship Seoul 2018 di Seoul, Korea Selatan, Minggu (29/7). Humas Pemkab Kubu Raya for RK
JUARA DUNIA. Devi Safitri naik podium sambil membentangkan bendera merah-putih sebagai juara pertama World Hapkido Championship Seoul 2018 di Seoul, Korea Selatan, Minggu (29/7). Humas Pemkab Kubu Raya for RK

eQuator.co.id –  Sungai Raya-RK. Atlet muda Indonesia kembali menunjukkan prestasi gemilang di ajang internasional. Bahkan kali ini datang dari atlet muda Kalbar, tepatnya Kabupaten Kubu Raya.

Dia adalah seorang anak yatim piatu bernama Devi Safitri. Mewakili Indonesia, remaja putri 21 tahun ini sukses menjadi juara dunia pada ajang World Hapkido Championship Seoul 2018 di Seoul, Korea Selatan, Minggu (29/7). Bertanding pada arena dua di Jung-Gu Community Center Seoul, Devi meraih medali emas usai mengalahkan atlet dari Hongkong pada nomor dae ryeon atau tarung di kelas feather under 57 kilogram.

Capaian ini melampaui target pribadi yang dipasangnya yaitu meraih medali. “Target sih mudah-mudahan bisa membawa medali,” ujar gadis asal Desa Sungai Ambangah Kecamatan Sungai Raya ini pada akhir pekan lalu seusai dilepas Wakil Bupati Kubu Raya Hermanus sebelum bertolak ke Korea Selatan.

Saat itu Devi dengan tegas menyatakan memasang target medali. Meski kejuaraan dunia hapkido ini merupakan turnamen internasional pertamanya.  “Saya sudah persiapan sekitar 7 bulan. Persiapan itu belum termasuk latihan mandiri setiap hari dan latihan gabungan bersama Timnas Indonesia,” ujar juara nasional hapkido 2017 ini.

Kemenangan Devi disambut antusias Bupati Kubu Raya Rusman Ali. Sebab prestasi Devi membanggakan nama negara dan daerah. Devi telah membuktikan bahwa putra-putri daerah mampu bersaing di tingkat nasional bahkan internasional.

“Alhamdulillah ini menjadi kabar gembira untuk kita semua. Devi Safitri telah mengharumkan nama Indonesia dan Kalbar, khususnya Kubu Raya,” tuturnya.

Bupati berpesan agar Devi tetap ‘membumi’. “Terus belajar dan berlatih agar prestasi ini dapat dipertahankan dan ditingkatkan di masa-masa mendatang,” imbau Rusman.

Apresiasi juga datang dari Gubernur Kalbar terpilih, Sutarmidji. Dalam laman akun Facebook-nya, pria yang karib disapa Midji ini mengucapkan selamat kepada Devi dan tim hapkido Indonesia.

“Selamat tentunya untuk Devi dan pelatihnya. Juga tim Indonesia,” tulis midji.

Pelatih Hapkido Kalbar, Rusli, berterima kasih atas perhatian Pemkab Kubu Raya kepada komunitas hapkido binaannya. Kepedulian tersebut terbukti menjadi penyemangat bagi atlet untuk meraih prestasi.

“Saya sampaikan apresiasi yang sebesar-besarnya kepada Pemkab Kubu Raya. Juga kepada instansi terkait yakni Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata Kubu Raya yang sambutannya luar biasa kepada atlet Kubu Raya,” tuturnya.

Rusli menuturkan Devi baru mulai menekuni hapkido pada 2016. Atau sekitar 2 tahun setelah beladiri ini masuk ke Indonesia sekitar tahun 2014. Baru setahun bergabung di hapkido, Devi langsung menunjukkan kelasnya. Ia tampil sebagai juara nasional di kejuaraan nasional hapkido di Yogyakarta.

“Jadi perjuangan Devi dimulai tahun lalu di kejuaraan nasional hapkido 2017, di mana Devi berhasil meraih medali emas,” jelasnya. Atas prestasi itu, Devi pun dipanggil bergabung dengan tim hapkido Indonesia untuk kejuaraan dunia. Tepatnya diawal tahun 2018.

Sebagai pelatih, Rusli memuji kegigihan Devi dalam menekuni hapkido. Di tengah keterbatasan, Devi tetap profesional menyiapkan diri menjadi seorang atlet. “Devi sudah lulus sekolah dua tahun lalu,” tukasnya.

Devi belum bisa melanjutkan kuliah karena faktor ekonomi. Kedua orangtuanya sudah meninggal. Dia tinggal bersama neneknya. “Namun dia gigih. Sekarang dia fokus menjadi atlet,” ungkap Rusli.

 

Laporan: Syamsul Arifin

Editor: Arman Hairiadi