Energi Murah yang Dibiarkan

50
MENGAIRI SAWAH. Substitusi genset BBM dengan ‘’genset’’ tenaga matahari yang pernah dilakukan Dahlan Iskan. Bukan untuk menerangi rumah, tapi untuk menghidupkan pompa air mengairi sawah di Sidoarjo, Jatim. Joko Intarto for Rakyat Kalbar

eQuator.co.id-Saya benar-benar takjub membaca program Indonesia Terang yang dijalankan Tentara Nasional Indonesia (TNI). Tanpa banyak publikasi, TNI telah berhasil menerangi 256 ribu rumah dengan lampu listrik mandiri yang sangat hemat energi.
Angka itu pun dari berita tahun 2017. Tahun 2018 ini, jumlahnya mungkin sudah bertambah lagi.

Jumlah itu tentu tidak sedikit. Setidaknya jauh lebih lebih banyak dibandingkan dengan program yang saya tahu.
Program Indonesia Terang adalah aktivitas filantropi dengan kegiatan menerangi rumah-rumah penduduk di wilayah yang belum teraliri listrik PLN. Umumnya di kawasan pedesaan. Di Jawa maupun luar Jawa.

Paket lampu listrik mandiri itu terdiri atas beberapa buah lampu LED yang dikenal sangat hemat energi, ditambah dengan sebuah aki. Dalam satu kelompok, ada disiapkan pula sebuah genset. Gunanya untuk sumber energi unit charger agar bisa mengisi aki dengan setrum. Sekali charge bisa menghidupi semua lampu di sebuah rumah selama 30 hari.

Pertanyaannya, bagaimana kalau genset itu kehabisan bahan bakar minyak? Atau lokasi penjualan BBM sangat jauh? Ini tentu menjadi persoalan baru yang butuh solusi.
Pikiran saya tiba-tiba melayang pada pertemuan dengan Paulus, direktur PT ATW Sejahtera, yang menyediakan solusi energi terbarukan berbasis solar panel. Seharusnya genset itu bisa disubstitusi dengan genset bertenaga matahari.

Bila substitusi itu bisa dilakukan, program pemasangan lampu listrik yang sudah dirintis TNI tentu akan lebih hebat lagi. Bisa menembus ke wilayah yang lebih jauh. Lebih terpencil. Lebih terisolir. Hingga jauh ke pedalaman. Karena gensetnya tidak butuh BBM.
Substitusi genset BBM dengan ‘’genset’’ tenaga matahari juga pernah dilakukan Dahlan Iskan. Peralatan elektronika yang digunakan memang bukan lampu untuk menerangi rumah. Dahlan memilih pompa air untuk mengairi sawah.

Alasan Dahlan, komponen termahal dari perangkat elektronik bertenaga matahari adalah baterainya. Sementara mengairi sawah tidak butuh baterai, karena dilakukan pada siang hari. Sinar matahari tidak perlu disimpan, tetapi bisa langsung dialirkan untuk menggerakkan mesin pompa.

Kreativitas memanfaatkan energi terbarukan memang sedang ngetrend. Banyak orang yang berlomba-lomba menciptakan peralatan untuk memanfaatkan sumber energi murah dan tak pernah ada habisnya seperti sinar matahari.

Kalimantan Barat sebagai kawasan yang berada pada lintasan garis Khatulistiwa, semestinya bisa memanfaatkan energi surya secara maksimal. Prototype-nya sudah ada. Penyedia solusinya ada. Tinggal kapan kita akan memulainya. (Joko Intarto, admin www.disway.id, blogger)