EKONOMI DONAT

Oleh: Joko Intarto

eQuator.co.id – Donat boleh jadi merupakan salah satu produk kuliner yang paling kondang di seluruh jagat. Popularitas donat juga menggerakkan perekonomian rakyat di Surabaya.

Tahun 1995, lembaga riset pemasaran di Surabaya merilis jumlah donut yang dikonsumsi warga Surabaya mencapai 2 juta butir per bulan. Angka itu diperoleh dari penjualan donat di berbagai outlet roti dan kue.

Dampak ekonomi donat ternyata merambat hingga ke Sidoarjo dan Jombang. Dari dua wilayah inilah donat-donat di Surabaya itu berasal. Khususnya donat unbranded. Donat tak bermerek.

Salah satu hasil riset yang menarik terkait donat adalah motif warga Surabaya saat membeli. Sebagian besar warga Surabaya (saat itu) berpendapat donat adalah lambang status: modern. Donat adalah bagian dari gaya hidup masa kini.

Awal dekade 90-an adalah masa dimulainya serbuan gaya hidup baru. Terutama yang ‘berbau luar negeri’. Restoran waralaba asing mulai bermunculan di Surabaya. Salah satunya restoran Yang menjual donat itu.

Donat adalah produk yang fenomenal. Dari menu restoran, donat bermetamorfosis menjadi makanan rakyat. Mudah ditemukan di warung kaki lima. Bahkan dijajakan keliling. Dengan sepeda onthel.

Saat ini donat sudah menjadi salah satu industri rumahan. Banyak donat yang diproduksi dalam skala rumah tangga. Dengan berbagai varian rasa dan harga. Juga varian kualitas.

Sejak hadirnya JCo pada awal tahun 2000, donat menemukan pasangan baru: kopi. Donat dan kopi begitu popularnya sampai Dunkin Donuts yang menjadi pionir restoran donat sekarang juga menjual paket kopi plus donat. Bukan donat plus kopi.

Dari JCo, paket donat dan kopi menyebar ke berbagai coffee shop kelas menengah dan bawah. Donat sekarang tidak hanya bisa dibeli di toko roti, tetapi juga bisa diperoleh di banyak coffee shop. Bahkan juga di warung kopi kaki lima.

Rani Mayasari, pemilik coffe shop Kupielon, salah satu yang menangkap fenomena kopi dan donat itu sebagai peluang bisnis. Dia pun bersiap-siap mengikuti kursus online untuk membuat donat berbahan kentang di Sekolah Wira, 16 September mendatang.

Kebetulan, kelas kuliner bertema donat kentang itu diajar langsung oleh Fatmah Bahalwan, pendiri Natural Cooking Club (NCC). Donat kentang NCC sendiri sudah sangat terkenal. Di YouTube, videonya sudah ditonton jutaan kali.

Kupielon, kata Rani, saat ini memiliki menu andalan: Es kopi susu gula aren. Penjualannya di setiap outlet bisa mencapai 150 cup per hari. Konsumennya mayoritas kaum muda.

Kelompok muda inilah yang menurut Rani menjadi pasar potensial produk donat. Bila Kupielon bisa menjual 150 butir donat per hari, berapa banyak donat yang harus diproduksi untuk 100 outlet? “Donat bisa menjadi penggerak ekonomi baru di jaringan petani kentang mitra Kupielon,” kata Rani. (jto)

 

*Redaktur Tamu Rakyat Kalbar, praktisi webinar