Dubes Yusron Ihza Mahendra, dari Perokok ke Penghobi Sepeda

Hilangkan Jarak Bawahan dan Cairkan Suasana dengan Cycling

275

 eQuator – Yusron Ihza Mahendra membuat perubahan besar dalam hidupnya. Dikenal akrab dengan cangklong (pipa untuk mengisap rokok) yang selalu dibawa ke mana-mana ketika dulu menjadi anggota Komisi I DPR, duta besar RI untuk Jepang itu kini menjadi pencinta sepeda.

 TRI MUJOKO BAYUAJI, Tokyo

SIAPA yang tidak mengenal Yusron Ihza Mahendra saat masih aktif di Komisi I DPR. Anggota DPR periode 2004-2009 tersebut memiliki ciri khas. Selain memiliki konsep dan pemikiran yang brilian tentang dunia internasional, dia akrab dengan satu benda yang selalu dibawanya ke mana pun, yaitu cangklong.

“Kalau dulu ada ciri khas, misalnya ada yang nanya Yusron itu yang mana? Yang pakai cangklong,” ujar Yusron, lantas tertawa saat ditemui Jawa Pos di sela-sela mendampingi rombongan DPR yang berkunjung ke Nagoya, Jepang, 12 November lalu.

Yusron memang selalu terlihat membawa cangklong. Koleksinya pun banyak, mencapai 200 buah. Dia mendapatkan koleksi itu dari berbagai negara yang dikunjunginya. Saat ini dia masih menyimpan cangklong tersebut, tetapi tidak lagi digunakan untuk membakar tembakau.

“Masih ada di meja kerja saya. Cuma untuk saya lihat-lihat,” ungkapnya.

Menginjak usia 58 tahun, Yusron mengaku berhenti merokok baru sekitar dua tahun lalu. Adik kandung Ketua Umum DPP Partai Bulan Bintang Yusril Ihza Mahendra itu merasa sudah saatnya berhenti dari kebiasaannya merokok sejak kelas 3 SMA.

Yusron masih ingat betul dengan pernyataan guru SMA-nya waktu itu. “Guru saya bilang, kita boleh melangkah, melakukan apa pun, tapi harus tahu berhenti. Makanya, saya bilang, ayolah berhenti. Saya memutuskan stop di usia 56 tahun,” tegas orang Indonesia pertama yang meraih Higashikuni-Nomiya International Prize dari kekaisaran Jepang itu.

Keputusan stop merokok tersebut diambil Yusron sesaat sebelum dilantik menjadi Dubes RI untuk Jepang. Ketika dilantik pada 24 Desember 2013, Yusron merasa perlu mengenal lebih dekat para staf KBRI. Namun, ketika itu, dia belum tahu cara agar dirinya sebagai Dubes tidak dianggap sebagai atasan oleh mereka.

“Kalau di kantor, kan kita sebagai diplomat susah bercanda. Serbasibuk, serba berpakaian rapi, pakai jas dan dasi, waktu bertemu terbatas. Saya ingin menghilangkan batas itu,” ujar doktor bidang politik internasional Tsukuba University, Jepang, tersebut.

Ide itu akhirnya muncul saat Yusron diundang Gubernur Prefektur Ehime (setingkat provinsi) Mr Tokihiro Nakamura untuk bertemu di ibu kota Matsuyama. Sang gubernur memperkenalkan ciri khas Ehime yang dikenal sebagai surga cycling bagi warga dan pelancong. Ehime memiliki Seto Inland Sea atau Seitonaikai, laut yang dikelilingi daratan Ehime yang notabene merupakan wilayah kepulauan.

Di sana terdapat sembilan jembatan yang menghubungkan berbagai wilayah dan pulau di Prefektur Ehime dengan berbagai kontur serta pemandangan khas Negeri Sakura yang indah. Pemerintah setempat memanfaatkan kondisi itu sebagai tempat para cyclist menikmati keindahan.

“Di sana pesepeda dari berbagai negara datang, bahkan sampai puluhan ribu setiap tahun,” kata Yusron.

Dia lupa nama turnamen atau kegiatan sepeda yang digelar di Ehime. Namun, jika merujuk pada situs wisata Ehime, kegiatan bersepeda itu bernama Shimanami Kaido Cycling. Rata-rata pelancong membawa sepeda mereka untuk menikmati keindahan menyusuri pulau demi pulau di Ehime.

Namun, bagi yang tidak membawa sepeda, mereka bisa menyewa di rental sepeda yang tersebar di sana. “Setelah melihat itu, saya yang sudah lama tidak bersepeda jadi ingin bersepeda lagi,” kata Yusron bersemangat.

Jadilah Yusron memilih sepeda sebagai sarana untuk mendekatkan diri dengan para staf KBRI, terutama di Tokyo. Menurut dia, ada keuntungan juga memilih sepeda sebagai hobi baru. Selain untuk berolahraga, harga sepeda di Jepang tidak semahal di Indonesia.

“Misalnya, Cannondale di Jakarta sampai Rp 58 juta. Dengan spek yang sama, di sini hanya Rp 18 juta atau paling mahal Rp 36 juta,” ungkap pemilik tiga sepeda, Panasonic (sepeda elektrik komuter) serta Cannondale dan Wilier (keduanya road bike) itu.

Dari biasanya bertemu dengan mengenakan jas dan dasi rapi, Yusron mulai mengajak para staf KBRI untuk bersepeda bersama. Menurut dia, dengan bersepeda, kekakuan saat bekerja tidak terlihat lagi. Cukup dengan baju dan celana pendek saat musim panas atau jaket tebal saat musim gugur di Jepang, dia mengajak para staf KBRI bersepeda.

“Lumayan, kadang ada sampai 40 orang yang ikut. Paling sedikit sekitar 20 orang. Bergantung kesibukan,” ujarnya.

Rute yang biasa ditempuh adalah Tokyo-Haneda. Jarak dua lokasi itu 35-40 km, bergantung rute yang diambil. Setelah bersepeda, biasanya Yusron mengajak para staf untuk ngopi di Starbucks atau di tempat lain.

“Yang penting bukan kopinya, tetapi pertemuannya. Kalau sudah seperti itu, akhirnya bisa bercanda. Bisa lapor apa yang sekiranya nggak enak disampaikan waktu bertemu resmi,” ujarnya.

Yusron menilai, hubungan antarpribadi staf dengan dirinya sangat penting. “Merintah itu kan sebuah seni. Kalau meminta bantuan, kita ucapkan kata tolong dan sebagainya. Dalam pergaulan kan juga begitu,” tuturnya.

Tidak hanya mendekatkan diri dengan staf, sepeda juga menjadi obsesi Yusron untuk memberikan sesuatu kepada Belitung, kampung halamannya. Dia menginginkan Ehime menjadi sister province dengan Bangka Belitung (Babel) agar sepeda bisa dimarakkan menjadi industri pariwisata.

“Jadi, selain buat negara, saya nggak boleh lupa sama kampung. Itung-itung iseng kasih sesuatu,” ujarnya.

Yusron ingin Babel memiliki semacam tropical cycling atau Belitung cycling. Yaitu, bersepeda dengan menyusuri wilayah Belitung yang memiliki keindahan khas. Tidak perlu sampai puluhan ribu pesepeda setiap tahun seperti Ehime, setidaknya dia ingin sepeda bisa menjadi ciri khas Babel kelak.

“Mungkin 5 ribu orang saja itu sudah banjir, sudah banyak,” katanya optimistis.

Untuk merealisasikan itu, Desember ini Yusron berencana bertemu dengan gubernur Ehime untuk membahas sister province tersebut. Dia menyatakan sudah mengontak gubernur Babel terkait dengan rencana tersebut dan mendapat sambutan positif. Yusron berharap 2016 kedua kepala daerah bisa menandatangani kesepakatan sister city.

“Mudah-mudahan dengan begini Belitung bisa lebih dikenal dunia,” tegasnya. (*/Jawa Pos/JPG)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here