Dua Hektar Lahan Kembali Terbakar

Pangdam: Harus Ada Program Pertanian

KARHUTLA LAGI. Kol Arm Stefie Jantje Nuhujanan pimpin pemadaman Karhutla di Punggur Kecil, Kecamatan Sui Kakap, Minggu (4/8) siang. Kodim 1207/BS for RK

Langkah pencegahan hingga penanggulangan Karhutla terus dilakukan. Tak terkecuali jajaran Kodim 1207/BS Pontianak, yang sejak awal memetakan lahan di wilayahnya yang rawan terbakar.

Andi Ridwansyah (Pontianak), Dedi Irawan (Nanga Pinoh)

eQuator.co.id – Kemarau kian kering jelang HUT Proklamasi Kemerdekaan, Karhutla pun semakin diwaspadai. Di Kota Pontianak dan Kabupaten Kubu Raya, para prajurit TNI pun patroli titik-titik panas yang berpotensi Karhutla.

Minggu (8/8), dipimpin Dandim 1207/BS Pontianak, Kol Arm Stefie Jantje Nuhujanan, patroli menemukan asap mengepul di lahan seluas dua hektar di dusun Swadaya, desa Punggur Kecil, Kecamatan Sungai Kakap, Kabupaten Kubu Raya. Prajurit pun langsung berupaya memadamkan.

“Jadi kita cek di mana sumber-sumber air yang ada di wilayah ini, biar ketika terjadi Karhutla nanti petugas sudah tahu di mana air yang paling dekat dan memadai,” ujar Stefie.

Lahan terbakar sekira  dua  hektar pun dipadamkan. “Saat ini api sudah padam namun masih menimbulkan asap karena lahan  gambut,” terangnya.

Dalam patroli ini juga dilakukan bersama-sama Danramil 07/Sungai Kakap dan Anggota Satgas Karhutla sebanyak 17 personil di antaranya 12 orang dari TNI dan lima dari kepolisian.

Terpisah, Komandan Pangkalan TNI AU (Lanud) Supadio Marsekal Pertama (Marsma) TNI Palito Sitorus mengatakan, salah satu bencana tambahan di Kalbar adalah Karhutla. “BNPB sudah menetapkan status bencana di Kalbar ini. Dan Lanud Supadio menjadi salah satu dari instansi yang ikut berperan dalam mendukung operasi pemadaman melalui udara ,” katanya belum lama ini.

Satgas Karhutla TNI AU juga melakukan pemantauan untuk mendukung penerbangan, dan pemadaman kebakaran melalui jalur udara. “Kalau dari darat kan sudah ada rekan-rekan yang ditugaskan. Ini dari udara kita lakukan menggunakan helikopter dari BNPB,” tambahnya.

Beberapa kali pemadaman dengan waterbombing. Personil Lanud Supadio berperan aktif melakukan pemadaman lewat jalur udara.

“Pemadaman  menggunakan waterbombing  bekerja sama dengan BMKG. Pihak BMKG  melihat daerah-daerah mana yang terjadi spot-spot api, kemudian dilakukan patroli udara. Dari patroli udara itu akan dilakukan waterbombing,” paparnya.

Kendati demikian, Dan Lanud Supadio belum melihat perkembangan cuaca yang terlalu signifikan di Kalbar. Sebab siraman-siraman hujan yang membasahi lahan-lahan di Kalbar.

“Kalau misalnya nanti diperkirakan sama sekali tidak ada turun hujan. Mungkin kita akan melakukan modifikasi cuaca yang akan kita bantu dengan angkatan udara sendiri,” jelasnya.

Sejauh ini 100 personil Angkatan Udara telah disiapkan petugas dalam rangka mendukung penerbangan dan berkordinasi dengan satgas-satgas lain. “Karena memang kita fungsinya memang mendukung penerbangan dan melaksanakan kordinasi dengan satgas-satgas yang lain. Jadi kita memang bukan langsung turun ke lapangan, namun kita mendukung dari udara saja,” pungkasnya.

Komitmen Tangani Karhutla

Sampai pekan lalu ada delapan hotspot (titik apit) di Kabupaten Melawi. Penyebaran terbanyak ditemukan di Kecamatan Belimbing, Ella, dan Tanah Pinoh Barat. Itu menunjukan adanya peningkatan titik api di Melawi pada musim kemarau saat ini.

Pangdam XII Tanjungpura, Mayjen TNI Herman Asaribab saat mengunjungi Melawi menegaskan, jajarannya bersama pemerintah daerah dan Polri sudah berkomitmen menanggulangi Karhutla. “Kami dari TNI siap mendukung penanganan Karhutla. Satuan-satuan kami di tingkat daerah juga sudah melaksanakan seluruh kegiatan untuk penanggulangan dengan menurunkan 1.500 personel TNI di Kalbar maupun Kalteng,” ujarnya.

Upaya penanganan Karhutla juga perlu didukung dengan program dari Pemerintah Daerah terkait mengubah pola pikir masyarakat dalam membuka lahan dengan cara membakar.

“Hal ini biasanya sudah ada dalam program Pemda. Kami tinggal mendukung itu. Mungkin ada bagaimana cara berladang dengan teknik-teknik yang jauh lebih modern. Karena setiap menjelang pertengahan tahun, tensi kita selalu mulai mengarah ke karhutla,” ujar Pangdam.

Herman juga sudah memerintahkan jajarannya untuk bersama mencari solusi, bagaimana hingga sepuluh tahun ke depan, Karhutla yang berdampak kabut asap tidak lagi terjadi. Tentunya akan ada metode yang lebih efektif untuk mengatasinya.

“Sehingga ke depan, masyarakat kita yang memang kehidupannya tergantung pada pertanian ini bisa mengolahnya dengan teknik yang modern,” harapnya.

Terpisah, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Melawi, Syafaruddin mengakui, sebaran titik api di Melawi memang sudah meningkat sejak sepekan terakhir. “Hari-hari sebelumnya juga diketahui ada titik api di kecamatan lain seperti Ella dan Tanah Pinoh Barat,” ungkapnya.

Syafar mengungkapkan, Satgas Gabungan yang terdiri dari TNI, Polri serta BPBD dan masyarakat sudah turun ke desa-desa yang menjadi titik siaga penanggulangan Karhutla. Bila diketahui adanya titik api, maka Satgasgab akan menuju ke area tersebut.

“Satgas akan turun ke lokasi bila memang mampu terjangkau. Jadi langsung melakukan pemadaman semampunya bersama masyarakat,” ujarnya.

Sekretaris Majelis Adat Dayak Nasional (MADN), Yakobus Kumis saat mendampingi Pangdam XII Tanjungpura ke Melawi mengatakan memang setiap tahun terjadi Karhutla.

Dia mengimbau masyarakat untuk bisa secara bijak mengelola lingkungan agar tidak melakukan pembakaran terutama di lahan-lahan kosong.

“Kemudian terhadap ladang berpindah, di lokasi lahan mineral biasanya dilakukan dengan cara kearifan lokal. Biasanya terjaga dengan baik. Namun yang menjadi problem adalah daerah gambut, begitu terjadi kebakaran akan berbahaya. Sebab daerah gambut kedalamannya dari satu hingga 15 meter. Sehingga jangan pernah terjadi Karhutla di daerah gambut,” kata Yakobus.

Terkait masyarakat yang membakar untuk berladang di daerah mineral, ia mengaku mengerti sebab dirinya adalah anak orang pedalaman. Sehingga tahu bagaimana pembakaran lahan untuk berladang di daerah mineral.

“Ini biasanya dilakukan dengan bergotong royong mengumpulkan orang kampung, yang sebelumnya diumumkan. Dan membakar dengan aturan, bersekat dan dibikin dengan kolam-kolam. Itu sudah beratus tahun terjadi dan tidak terjadi persoalan, dan masih bisa dipertanggungjawabkan,” tegasnya.

Imbuh Yakobus, “Yang tidak bisa kita pertanggungjawabkan jika karena persoalan alam. Kadang tidak ada yang membakar, hanya terkena pantukan cahaya lewat kaca saja bisa terbakar, atau lewat puntung rokok, itu yang harus diwaspadai”.

Dia juga berharap pemerintah daerah hingga ke pemerintah desa bisa menyediakan sarana dan prasarana mesin pompa air untuk menanggulangi daerah terpencil untuk antisipasi terjadinya kebakaran. “Agar di daerah yang tidak terjangkau oleh mobil pemadam kebakaran bisa tertanggulangi dengan baik,” pungkasnya.

 

Editor: Mohamad iQbaL