Dua Desa di Sambas Terendam,

Di Desa Nibung Air Masuk Rumah 1 Meter

67
EVAKUASI. Anggota Polsek Paloh mengevakuasi anak-anak korban banjir disalah satu rumah warga Desa Nibung Kecamatan Paloh Kabupaten Sambas, Kamis (11/1) malam. Polisi for Rakyat Kalbar

SAMBAS-RK. Hujan dengan intensitas tinggi beberapa hari ini mengakibatkan Kecamatan Paloh dan Kecamatan Tebas di Kabupaten Sambas terjadi banjir, Kamis (11/1) malam. Terparah dialami Desa Nibung Kecamatan Paloh, karena ketinggian air masuk ke dalam melebihi satu meter.

Kapolres sambas AKBP Cahyo Hadi Prabowo melalui Kapolsek Paloh Kompol Samidi mengatakan, banjir terjadi karena dua hari belakangan curah hujan di Kecamatan Paloh sangat tinggi, sehingga air sungai meluap. “Persisnya banjir terjadi di Desa Nibung, setidaknya 45 rumah warga tergenang,” katanya, Jumat (12/1).

Banjir juga merendam Puskesmas Paloh. Akibatnya, pelayanan kesehatan di Puskesmas tersebut terhambat. Akses transportasi darat juga terhambat, karena jalan yang menghubungkan Desa Nibung dan Desa Sebubus terendam. Warga yang terkena banjir untuk sementara mengungsi di rumah tetangga dan keluarganya yang aman. “Sampai saat ini, tidak ada Korban jiwa dan untuk pasien yang berada di Rawat Inap Pukesmas Paloh sementara masih bertahan, dikarenakan masih membutuhkan perawatan medis,” jelasnya.

Kemarin malam kata Samidi, pihaknya menerjunkan 15 anggota Polsek Paloh untuk mengevakuasi warga yang rumahnya terkena banjir. Pihaknya juga melakukan koordinasi dengan PLN Paloh untuk melakukan pemadaman listrik di lokasi terdampak banjir. Supaya tidak terjadi korsleting listrik. “Untuk kejadian banjir ini baru pertama kalinya semenjak tahun 1984,” jelasnya.
Pihaknya juga telah berkoordinasi dengan pihak Desa, Dusun, RT/RW yang terdampak banjir untuk mendata serta mengawasi bersama lokasi dan rumah masyarakat yang terkena banjir. Mengingat cuaca di Kecamatan Paloh saat ini, tidak menutup kemungkinan banjir semakin meluas. Polsek Paloh mengimbau warga yang terdampak banjir agar selalu melakukan pemantauan terhadap rumahnya. Begitu juga dengan jajaran Polsek Paloh akan berusaha untuk menjaga rumah warga, karena tidak menutup kemungkinan akan dimanfaatkan oknum melakukan penjarahan dan pencurian. “Selain itu, masyarakat terutama anak-anak agar tidak bermain-main di air, hal ini untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan,” tutup Kapolsek.

Camat Paloh, Suhaimi mengatakan, sejak pagi banjir sudah berangsur surut.

“Iya memang telah terjadi banjir di wilayah Desa Nibung dan sekitarnya, ini akibat hujan yang mengguyur terus menerus hingga malam hari dan luapan air sungai,” jelasnya.

Banjir kata dia, merendam beberapa rumah dan fasilitas kesehatan di daerah tersebut. Warga sempat diungsikan sementara. “Kita dibantu oleh aparat Polsek Paloh. Saat ini warga sudah pulang ke rumah masing-masing,” jelasnya.

Suhaimi mengimbau warga Paloh untuk tetap waspada dan mengantisipasi terjadi banjir berulang. Warga meski selalu menjaga kesehatan, karena saat musim hujan dan air pasang rentan penyakit. Selain itu, pentingnya untuk menjaga kebersihan lingkungan dengan tidak membuang sampah sembarangan sehingga bisa menutup saluran air. “Semoga tidak terjadi lagi banjir, karena kita memasuki musim penghujan,” tutur Suhaimi.

Ditambahkan Kepala Desa Nibung Kecamatan Paloh H. Mayadi Satar, kondisi air pada siang hari mulai surut. Namun sore hari ini (kemarin, red) ada peningkatan air, meskipun tak sedalam kemarin malam. “Mungkin pengaruh air pasang,” ulasnya.

Disampaikan Mayadi, kemarin malam ia dan pihak kepolisian bersama-sama melakukan evakuasi masyarakat yang rumahnya terendam banjir.

“Hal ini dilakukan agar semuanya masyarakat yang rumahnya terendam air, tetap selamat,” ucapnya. Selain merusak peralatan elektronik, banjir setidaknya merendam 130 sarang madu kelulut milik warga.

Banjir juga terjadi di Kecamatan Tebas, tepatnya di Dusun Durian Desa Sempalai. Ketua RT 5 RW 3 Dusun Durian Desa Sempalai, Jamhuri mengungkapkan, air mulai menggenangi halaman rumah warga sekitar pukul 17.00 WIB, Kamis (11/1). Bahkan pada malam hari terdapat beberapa rumah yang kemasukan air. “Seperti rumah yang berada di belakang rumah saya ini. Sempat di masuki air walaupun sebentar, namun sekarang sudah surut. Mudah-mudahan saja tidak turun hujan lagi,” harapnya.

Walaupun air yang masuk ke dalam rumah hanya sebentar, namun cukup merepotkan dan mengkhawatirkan. Repotnya karena harus memindahkan barang ketempat yang lebih tinggi dan aman. Apalagi jika ada anggota keluarga yang sakit, tentu harus diutamakan. “Sedangkan kekhawatiran kita takutnya ada binatang seperti ular yang masuk ke dalam rumah. Sehingga jika air mulai naik, itu yang selalu dikhawatirkan,” pungkasnya.

Dijelaskan Jamhuri, daerah rentan banjir lantaran mendapatkan kiriman air dari tempat yang lebih tinggi. Seperti dari Desa Seberkat.

“Air itu kan pasti turun ke tempat lebih rendah, tempat kita di sini lebih rendah. Sehingga ketika air dari gunung turun menyusuri parit di Desa Sempalai, dengan cepat air akan menggenangi pemukiman kita. Bahkan pernah di kita tidak, namun karena di sana hujan kita di sini malah kebanjiran,” ungkapnya.

Banjir juga disebabkan saluran air menuju sungai hanya ada satu. Sehingga air dari beberapa tempat, tertahan, karena dibendung oleh jalan.

“Sebelum jalan negara ditinggikan beberapa waktu lalu, air masih bisa merembes di beberapa titik di Desa Sempalai melintas di atas jalan. Akan tetapi sekarang karena jalan sudah tinggi, satu-satunya saluran air menuju sungai hanya melalui parit yang terdapat di saluran di samping pasar Sempalai itu,” terang Jamhuri.

Kepala Desa Sempalai Kecamatan Tebas, Taufik Lukman mengatakan, banjir kiriman ini tidak terlalu berdampak buruk kepada masyarakat, karena intensitasnya masih kecil. Banjir terjadi hanya karena saluran air yang tidak lancar. Ini dapat dilihat lantaran di seberang jalan tidak ada genangan. “Sedangkan disebelahnya air menggenangi pekarangan warga,” ucapnya.

Sebenarnya sudah ada upaya untuk membuat parit menembus jalan, namun terbentur penggantian lahan milik warga.

“Sudah pernah kita sampaikan kepada dinas PU terkait rencana tersebut, mereka menyatakan siap jika ada lahan untuk pembuatan parit tersebut,” pungkas Taufik.

Kamis (11/1) sore, banjir juga menggenangi Desa Tikalong Kecamatan Mempawah Hulu. Hujan deras menyebabkan terjadi banjir bandang secara tiba-tiba. Air mengalir cukup deras, naik hingga ke jalan raya. Banyak sawah petani yang sudah ditanami rusak, karena padinya hanyut terbawa air. Diperkirakan puluhan hektare sawah petani jadi rusak.

Camat Mempawah Hulu, Paolip membenarkan, sore itu di Tikalong terjadi banjir bandang. Walau banjirnya tidak lama, tapi sawah petani banyak yang rusak. “Karena air deras menghanyurkan tanaman padi,” ujarnya, Jumat (12/1).

Banjir memang tidak sampai ke rumah penduduk. Banjir bandang itu  terjadi dari Riam Tikalong mengalir sampai ke Desa Tilaas. “Kerugian lain belum ada laporan dari desa, hanya sawah petani,” ungkapnya.

Banjir juga merendam Desa Sebangki dan Desa Rantau Panjang Kecamatan Sebangki. Hingga Jumat (12/1) pagi air naik hingga ke rumah warga. Desa ini memang sering terjadi banjir, namun sebelumnya air tidak sampai masuk rumah warga. Hanya mengenangi halaman rumah. “Memang warga merasa cemas dan khawatir terjadi hujan deras bisa menambah banjir sampai di dalam rumah,” kata Camat Sebangki, Suripin.

Hingga kini belum ada laporan mengenai korban yang lainnya. “Karena kalau banjir mengenang halaman rumah itu sudah biasa dan banjirnya juga tidak lama. Setengah hari sudah surut kembali,” jelasnya.

Ia berharap, banjir hingga air masuk ke dalam rumah tidak terjadi lagi. “Sebab kalau sudah banjir, cukup repot, mana untuk membersihkan rumah dan masyarakat sulit melakukan aktivitas sehari-hari,” pungkas Suripin.

Dampak tingginya intensitas hujan juga mengakibatkan terjadi genangan di Kota Pontianak. Jumat (12/1), hujan lebat yang berlangsung dari malam hingga pagi hari mengakibatkan beberapa ruas jalan di Kota Pontianak tergenang. Ketinggian air bervariasi.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Pontianak Aswin Taufik mengatakan, kondisi jalan secara umum yang tergenang dengan ketinggian antara 5-15 cm. Terutama terjadi di daerah cekungan dan sekitar parit. Sehingga kondisi jalan licin, tetapi tetap ramai dan lancar.  “Untuk itu diimbau kepada pengguna jalan untuk tetap waspada dan hati-hati,” pesannya, Jumat (12/1).

Berdasarkan patroli BPBD Kota Pontianak, yang tergenang di Jalan Gusti Situt Mahmud (Siantan), Jalan Ahmad Yani, Jalan Veteran, Jalan Gajahmada, Jalan Agus Salim, Jalan Gusti Sulung lelanang, Jalan K.H. Ahmad Dahlan, Jalan Alianyang, Jalan P. Natakusuma, Jalan Putri Candamidi (Podomoro), Jalan Sumatra, Jalan M. Sohor, Jalan Purnama dan Jalan Sutoyo.

Sementara itu, Wakil Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono mengatakan, genangan terjadi karena hasil data foto udara dan pengukuran permukaan tanah, Kota Pontianak rata-rata 65 persen luas wilayahnya di bawah air pasang tertinggi. “Pasang tertinggi awal tahun kemarin kan sampai 1,6 meter, 65 persen tergenang,” tuturnya.

Dengan demikian, ketika terjadi air pasang yang dibarengi hujan, maka harapan satu-satunya adalah menunggu sungai surut. Maka genangan yang ada baru bisa mengalir ke sungai Kapuas dan Landak. Salah satu solusinya yaitu harus diperlancar penampang basah atau parit-parit yang ada dipertahankan dan dinormalisasi. Sehingga fungsinya tetap maksimal dan berdampak pada cepatnya keluar masuk air.

Ke depan kata dia, ada beberapa titik yang harus ditinggikan di atas permukaan air yang tergenang. Mulai dari jalan, halaman rumah dan lantai bangunan sudah harus di atas rata-rata muka air tertinggi. “Seperti pelabuhan, itu patokannya, pelabuhannya itu tingginya 40 cm dari titik rata-rata air. Jadi dermaganya itu dua meter, sehingga ketika naik 1,6 meter masih ada 40 cm,” kata Edi memberikan contoh.

Untuk mengurangi genangan, koneksitas antara saluran dengan yang lainnya harus semakin banyak. Menurutnya, genangan tidak bisa dihindari tapi bagaimana air bisa cepat surut. “Tidak terganggu terhambat oleh penampang, akar-akar dan sampah, ini yang harus dijaga,” tukasnya.

Parit-parit yang tetap terus dinormalisasi, terutama muara parit primer dan skunder. Seperti parit primer dulu, kemudian muaranya. Misalnya, parit Besar, Parit Bansir, Parit Tokaya dan sungai Jawi. Jika ada endapan harus dinormalisasi, di antaranya membuang gulma rumput dan sampah.
“Sekaligus diturap bagi yang belum. Jangan sampai diinterpensi bangunan,” ucapnya.

Secara topografi kata Edi, kawasan Kota Pontianak diantara minus 60 sampai 80 cm dari muka air pasang terttinggi. Kalau air pasang, kawasan yang paling tinggi dari muka air adalah 80 cm, yang lain di bawah sampai munus 60 cm.
“Masih banyak wilayah yang rendah, tapi secara umum kasat mata terutama di jalan-jalan kita masih di atas,” sebutnya.

Terhadap banyaknya keluhan warga dimana rumah tergenang dikatakan Edi, yang pertama harus dilakukan membuat koneksitas saluran. Yaitu  jaringan saluran tersier minimal. dia juga mengimbau kepada mayarakat untuk sudah memperhitungkannya jika ingin membangun rumah.

“Kalau rumah lama sudah mulai memikirkan untuk direhap dan ditinggikan. kita juga memikirkan iner ring road, supaya air ini tidak cepat masuk ke daerah pemukiman, tapi tertahan dulu di iner ring rooad terutama di daerah barat, selatan dan tenggara di batas kotanya,” papar Edi.

Dari data Stasiun Meterologi Maritim Pontianak, bahwa di beberapa wilayah Kalbar masih ada potensi hujan dengan intensitas ringan hingga sedang. “Curah hujan untuk tiga hari ke depan masih ada potensi hujan ringan dan sedang,” kata Prakirawan Stasiun Meterologi Maritim Pontianak, Riza Juniarti, Jumat (12/1).

Kalau sekarang hujan kata dia, karena ada pengaruh dari belokan angin. Angin yang kencang dari arah laut Cina dan belokan angin sama ada wilayah tekanan rendah di Kalbar, menyebabkan hujan yang sangat deras. Sementara tinggi gelombang masuk dalam kategori tinggi dimana kisarannya antara 1,5 hingga 7 meter. Gelombang ini terjadi di wilayah laut Cina Selatan, wilayah perairan Kepulauan Natuna dan Anambas. Kemudian terjadi juga di Laut Natuna, Singkawang, Sambas hingga sampai Selat Karimata maupun laut Jawa. “Tingginya sendiri di wilayah utara perairan Kalbar, namun untuk beberapa wilayah di Selatan bisa mencapai dua meter,” jelasnya.

Air pasang sungai Kapuas ada kenaikan maksimum mencapai 2,5 meter. Bahkan dapat lebih pada 17, 18, 19 dan 20 Januari. Ini karena memang periodenya untuk pasang akibat bulan baru menyebabkan nanti akan naiknya tinggi muka sungai.

 

Laporan: Sairi, Antonius, Maulidi Murni

Editor: Arman Hairiadi