Ditutup dengan Bir Istri Semobil

DISWAY Oleh Dahlan Iskan

141
John Volantern dan Richard Stanton

eQuator.co.id – Ternyata sudah diketahui keesokan harinya: bahwa tim Celeng sepakbola remaja itu terjebak dalam gua. Yang tahu pertama adalah pacar Tee. Pemain belakang berumur 16 tahun.

“Ngapain ke gua di musim hujan seperti ini,” ujar pacar Tee.

Jawab sang pacar: untuk menambah nyali. Sekalian untuk menandai ulang tahunnya Dalu.

Nama Dalu saya pakai agar Anda bisa membacanya. Sebab nama panggilan aslinya adalah: กลางคืน. Gak bisa baca kan?

Dalu itu bahasa Jawa. Tulisan Jawanya: ꦢꦭꦸ. Mirip kan? Artinya: Malam. Nah, กลางคืน tadi artinya ꦢꦭꦸ.

Salah satu anggota tim Celeng itu ternyata penakut. Nama panggilannya Dom. Umur 13 tahun. Tapi sudah punya pacar. Nama lengkapnya: Dwangpheck Phromthem.

Penakutnya bukan main. Terutama takut kegelapan. Padahal Dom adalah kapten di tim Celeng ini. Itulah sebabnya acara masuk gua itu dilakukan. Sekalian ultah Dalu.

Orangtua Dalu sebenarnya sudah menyiapkan ulang tahun juga. Malam itu. Dengan tart. Dan babi goreng.

Ditunggu sampai malam Dalu tidak datang. Orang tua Dalu cemas. Dicari ke mana-mana tidak ada. Hujan musim monsoon tidak henti-hentinya. Suasana desa pegunungan di perbatasan Thai-Myanmar-Tiongkok itu nggegirisi.

Pacar Tee juga bingung. Kirim SMS terus. Ke nomor HP Tee. Tidak ada respons. Bahkan tidak ada tanda online. Sang cewek mewek-mewek. Nada SMS-nya emosional-cinta. Merasa peringatannya tidak diperhatikan.

Ke-12 anggota tim Celeng itu semua punya nama panggilan. Nama panjang Tee adalah: Phonchai Kumluang. Nama panjang Dalu adalah: Phiraphat Sompheiyangjai.

Berdasar informasi dari pacar Tee itulah orang-orang desa mencari ke gua: ketemu.  Sepeda mereka di dalam mulut gua.

Masalahnya: mulut gua Tham Luang itu tertutup air. Mereka pasti terjebak di dalamnya.

Sejak tanggal 24 Juni itu, media massa di Thailand sudah heboh: semua anggota tim sepakbola Celeng terjebak banjir dalam gua. Hujan tidak henti-hentinya. Semua bingung: bagaimana cara menolong mereka.

Publik marah lewat media sosial. Marah pada pemerintah. Marah pada polisi. Marah pada asisten pelatih. Media main stream tidak berani mengkritik pemerintah. Tapi media sosial terus menghebohkannya.

Lebih marah lagi ketika Kapolri Thailand mengumumkan ini: terus menunda penyelamatan. Akibat cuaca yang tidak memungkinkan.

Tim penyelamat Thailand sebenarnya sudah bergerak. Sempat ada yang masuk sejauh 2 Km. Sampai rongga ke-3. Tapi balik lagi. Air bah naik. Cuaca monsoon tidak kenal kasihan.

Publik kian marah. Pemerintah dianggap tidak serius. Media sosial ribut terus. Sudah lebih seminggu para remaja itu terjebak di dalamnya. Dengan segala khayalan jelek yang menimpa mereka. Seminggu tidak makan.

Ada seorang penyelam Inggris yang tinggal di Thailand. Ia ikut khawatir atas kemarahan publik itu. Juga terguncang membayangkan anak-anak remaja yang terjebak di dalam gua: berhari-hari, gelap, basah, tidak ada makanan.

Penyelam itulah yang ingat ini: di Inggris ada seorang penyelam legendaris. Karena beraninya. Juga karena reputasinya. Namanya: Richard Stanton.

Maka Richard pun dipanggil. Ia mengajak soulmatenya: John Volanthen. Richard, 36 tahun, juga mengajak istrinya, 38 tahun.

Richard-John itulah yang berhasil menyelam. Pada tanggal 2 Juli 2018. Sembilan hari setelah para remaja itu terjebak di dalam gua.

Saat Richard masuk gua, istrinya tinggal di penginapan tidak jauh dari gua. Dia sangat optimis suaminya akan membawa hasil. Belum pernah suaminya gagal. Di medan yang berat sekali pun.

Optimisme itu jadi kenyataan. Richard keluar gua membawa berita gembira: menemukan mereka dalam keadaan hidup. Dengan gambaran lokasi yang menyayat hati: berada di satu gundukan yang dikelilingi air. Gelap gulita. Tanpa makanan. Tapi mereka masih cukup sehat. Saat ditemukan ada yang lagi tidur. Ada juga yang gemetaran. Lapar dan dingin.

Mereka diminta Richard untuk menulis kata-kata pendek untuk orang tua masing-masing. Asisten pelatih, Ekkapol Chantawong, minta maaf kepada orang tua anak asuhnya. Sambil berjanji akan terus mendampingi mereka.

Penemuan Richard itu membalik keadaan nasional. Kemarahan rakyat mereda. Optimisme meluas. Publik mempahlawankan Richard. Seraya bersyukur anak-anak itu selamat. Hebat sekali mereka: mampu bertahan sembilan hari di dalam gua.

Kemarahan pada Ekkapol juga hilang. Bahkan berubah jadi mempahlawankannya. Terutama setelah tahu Ekkapollah yang bikin anak-anak itu survive. Lebih-lebih Ekkapol jualah yang memikirkan ini: anak-anak tidak boleh minum air banjir. Sehaus apa pun. Air itu berlumpur. Tidak bersih. Mengandung kuman.

Ekkapol minta anak asuhnya mencari di mana ada tetesan air di atas mereka. Dengan cara merasakan tetesan itu di badan mereka. Atau tangan mereka. Air tetesan itulah yang boleh membasahi tenggorokan.

Setelah tahu mereka masih hidup mulailah usaha penyelamatan. Dengan gambaran dan peta yang dibuat Richard berdua.

Pompa raksasa didatangkan: untuk menguras air dari mulut gua. Tanggul dibuat di depan gua: agar air hujan yang baru tidak lagi masuk gua. Berbagai upaya dilakukan: mengebor, memasang tali sepanjang gua, menempatkan tabung oksigen di dinding-dinding gua: tiap 25 meter. Juga membuat tandu untuk mengusung para remaja itu.

Tanggal 6 Juli, ganti penyelam angkatan laut Thailand yang masuk gua: lima jam kemudian ditemukan meninggal dunia.

Melihat bahaya itu Richard ingat ini: Australia. Di sana ada penyelam terkemuka. Nama depannya Richard juga: Richard Harris. Panggilannya: Harry.

Richard menelepon Harry. Minta kedatangannya. Yang ditelpon lagi di rumahnya: di Adelaide. Lagi berkemas. Keesokan harinya mau berpetualang ke Nullabor. Satu padang luas yang menantang di Auatralia Selatan.

Harry membatalkan wisatanya. Untuk pindah tujuan: Thailand. Tapi ia minta mengajak soulmatenya: Craig Challan. Yang tinggalnya di Perth, Australia Barat.

Harry dan Craig itulah yang berhasil masuk berikutnya. Harry adalah dokter. Ahli anestesi. Yang membuat pasien mati rasa saat mau dioperasi.

Tiga hari Harry dan Craig dan Richard dan John dan tim dari Thailand berada di dalam gua. Menyiapkan bagaimana anak-anak itu harus keluar. Siapa yang duluan. Bagaimana caranya. Siapa yang membawa.

Harry-lah yang mengubah rencana lama: yang paling sehat yang dikeluarkan duluan. Dengan pertimbangan Harry itu maka yang jadi Celeng 1, Celeng 2, Celeng 3 dan Celeng 4 adalah yang paling lemah.

Begitulah. Usaha ini sukses besar. Dipuji di seluruh dunia.

Craig kembali ke Perth. John kembali ke Inggris. Richard menjemput istrinya di penginapannya. Sang istri ingin merayakan sukses suaminya: membeli bir satu mobil penuh.

Harry juga harus pulang ke Adelaide. Bukan hanya  tugasnya sudah selesai. Tapi karena berita duka. Saat Harry keluar dari mulut gua ia menerima berita ini: ayahnya meninggal dunia. (dis)