-ads-
Home Terobosan DIPLOMASI KOPI

DIPLOMASI KOPI

Oleh: Joko Intarto

eQuator.co.id – Meski hari Minggu, kantor saya kedatangan tamu. Kali ini yang berkunjung adalah Mas Agus Suherman. Doktor dan dosen di fakultas perikanan Universitas Diponegoro, Semarang.

Kebetulan saja, hari ini saya masuk kerja. Menyelesaikan naskah akhir buku “Infrastructure and Logistic Outlook 2019”. Harus selesai malam ini. Sebab Senin sudah harus ke Surabaya. Mengisi acara ISEF 2018 selama 5 hari di stand Bank Indonesia.

Pak Agus Suherman

“Ada koleksi kopi enak gak?” tanya Mas Agus.

-ads-

“Ada kopi Veranda,” jawab saya.

“Saya mampir ya. Baru pulang dari Lampung nih,” jelasnya.

Tiba di Tebet, Mas Agus kelaparan. Rupanya belum sempat sarapan. “Bagaimana kalau 

makan bakmi Jogja di warung Japemethe?” tanya saya.

Dua piring ludes dalam hitungan menit. Bakmi godog dan bakmi goreng.

Dokter Ganis Irawan

Usai makan, barulah mampir ke kantor. Saya siapkan kopi Veranda yang diseduh dengan V60 kukusan bambu. Satu gelas besar.

Sembari saya menyiapkan kopi, Mas Eddy Tatto set up webinar system. “Nah ini juga yang saya perlukan untuk mengajar,” katanya dengan nada girang.

Sudah lama Mas Agus mencari solusi untuk mengajar online. Sejak menjadi staf ahli Menteri KKP Susi Pujiastuti, Mas Agus kesulitan waktu untuk mengajar di kampusnya. “Dengan webinar saya akan mengajar lagi,” jelasnya.

Kopi siap terhidang, webinar system pun up. Hampir bersamaan. Sambil menyeruput kopi panas, Mas Agus pun mencoba mengajar jarak jauh secara online.

“Cukup memuaskan. Saya akan sampaikan kepada pihak fakultas bahwa semester depan saya akan mengajar lagi,” katanya.

Rencananya, bulan Januari mendatang, Mas Agus akan mengundang saya ke kampusnya. Melihat ruangan kampus yang akan digunakan untuk mengajar online.

“Bulan Februari tolong sudah bisa digunakan, agar saya bisa mengajar beberapa mata kuliah di Semarang dari ruang kerja di Jakarta,” pesannya sebelum pulang.

Hampir satu jam Mas Agus di kantor saya. Begitu kopi terakhirnya habis, Mas Agus pun pamitan. “Saya bawa pulang kukusannya ya. Soalnya gak sempat beli, dan tidak tahu belinya di mana,” pinta Mas Agus.

Mas Agus pulang, saya upload status di Facebook. Tentang pertemuan dan acara ngopi bareng itu. Rupanya informasi dibaca dokter Ganis, pengurus Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Pusat. ‘’Saya juga mau kopinya,’’ kata dokter yang tengah menyelesaikan studi spesialisnya di Banda Aceh itu.

Kopi memang sedang ngetren sebagai minuman anak-anak muda dan kaum eksekutif. Tak salah kalau ngopi menjadi strategi diplomasi.

Indonesia merupakan salah satu penghasil kopi terbaik di dunia. Beragam jenis kopi tumbuh di Indonesia. Diplomasi kopi tidak hanya efektif untuk membangun lobi, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan petani. (jto)

Exit mobile version