Dipercaya malah Mencuri, Bunuh Majikan, Konsumsi Alat Genitalnya

Kisah Seram Mansur, Si Manusia Kanibal dari Sumatera Barat

80
REKONSTRUKSI. Mansur memperagakan cara dia memasak alat genital majikannya yang dia bunuh. Reza Fahlevi-Jambi Ekspres

Kerasnya kehidupan mungkin jadi alasan kuat terosman alias Mansur (54), Warga Solok Selatan, Provinsi Sumatera Barat, mencari nafkah ke Desa Tidar Kuranji, Kecamatan Maro Sebo Ilir, Kabupaten Batanghari, Provinsi Jambi. Belakangan namanya mendadak terkenal lantaran membunuh dan memotong alat kelamin, lalu merebusnya, dan dimakan.

REZA FAHLEVI, MUARA BULIAN

eQuator.co.id – MERANTAU dari Solok Selatan, Sumatera Barat, ke Kabupaten Batangahari sudah dilakukan Mansur sejak tiga tahun terakhir. Kala itu, ia kabur dari sel tahanan karena kasus tindak pidana.

Mansur membawa putra bungsunya untuk hijrah ke Kabupaten Batanghari. Selama tiga tahun di Batanghari, dia bekerja sebagai buruh sawit milik M. Dasrullah.

Berjalannya waktu, Mansur menjadi orang kepercayaan Dasrullah, diberi kekuasaan penuh untuk mengolah dan mengambil hasil panen sawit seluas 6 hektar. Memang Mansur dan Dasrul sama-sama memiliki darah Minang.

Beriring waktu pula, hasil panen sawit milik M. Dasrullah sekitar Rp7 juta perbulan dimakan oleh Mansur. Ia tidak menyetor penuh kepada Dasrullah. Kejadian itu sudah menahun.

Niat jahat ternyata sudah terukir di benak Mansur sejak lama, ia ingin menguasai penuh kebun sawit milik Dasrullah. Puncaknya terjadi pada akhir 2017, majikannya (Dasrullah) itu dibunuh. Caranya pun sadis. Alat genital Dasrullah dipotong, direbus, dan dimakan oleh Mansur.

“Sudah sayo (saya) bunuh tu, sayo potong alat kelaminnyo, dan sayo rebus pakek garam dan bawang, sayo makan pakek nasi, kalau raso nyo seraso hati ayam” sebut Mansur saat diamankan polisi.

Rio anggara (32), putra sulung Mansur, kepada Jambi Ekspres (Jawa Pos Group) menceritakan kehidupan keluarganya di Solok Selatan, Sumatera Barat. Kesehariannya merupakan buruh upah tani, seperti membantu menanam padi, menuai padi. Tak banyak yang bisa mereka perbuat, karena tidak ada pilihan selain menjadi petani.

“Kami di sana hidup serba pas-pasan, karena kami hanya sebagai buruh upah tani, kalau bantu kerja barulah kami dapat uang,” kata Rio dengan mata berkaca-kaca.

Rio menyebut, kondisi ibu tercintanya kini sering sakit – sakitan, dan tak bisa lagi bekerja. Untuk memenuhi kebutuhan dapur, kini menjadi tanggung jawabnya.

“Ibu kena serangan jantung, dan kini kondisi sudah mulai lemah, sering sakit – sakitan,” tutur dia.

Ditambahkan Rudi (16), putra bungsu Mansur, ia putus Sekolah. Dulu sempat menginjak bangku pendidikan sekolah dasar di Solok Selatan, namun pendidikannya putus di tengah jalan karena keterbatasan biaya dan persoalan keluarga.

Di sela-sela rekonstruksi adegan pembunuhan yang dilakukan ayahnya kepada Dasrullah beberapa waktu lalu, Rudi menceritakan dirinya malu tinggal di kampung halaman, lantaran ayahnya terjerat tindak pidana pencurian.

Dulu ayahnya merupakan orang kepercayaan untuk mengurus sapi milik rekannya di Solok Selatan. Namun kepercayaan itu dimanfaatkan oleh sang ayah, sapi peliharaan itu dijual tanpa sepengetahuan sang pemilik. Akhirnya Mansur dilaporkan ke Polisi dan diatahan di Polsek Solok Selatan.

”Dulu sayo pernah sekolah, namun dak selesai kareno malu. Waktu itu ayah sayo dibawak polisi lantaran ado kasus jual sapi milik bosnya,”sebut rudi.

Selama lebih kurang 15 hari dalam tahanan Solok Selatan, Mansur mencoba melarikan diri, dan pelarian itu berhasil. Dia kabur ke kabupaten Batanghari. Sudah tiga tahun terakhir, Mansur tinggal di Desa Tidar Kuranji, Kecamatan Maro Sebo Ilir. (*/Jambi Ekspres)