Diinterogasi Belasan Jam, Dianggap Bawa Alat Sihir

ilustrasi.net

eQuator.co.id – Barang sepele di tanah air bisa menjadi persoalan besar di tanah suci. Itu pula yang dialami AM, calon jamaah haji (CJH) asal Madura, Jatim, yang tiba di Madinah Kamis dini hari (11/8). Gara-gara membawa benda semacam jimat dalam jumlah banyak, dia diinterograsi petugas bandara hingga lebih dari 12 jam.

CJH kloter 3 Embarkasi Surabaya itu mendarat di Bandara Pangeran Muhammadi bin Abdul Aziz sekitar pukul 02.00. Saat tas tentengnya melewati pemindai X-ray, dia dihentikan oleh petugas bandara. Di dalam tas itu terdeteksi banyak bungkusan kecil-kecil berbahan kertas.

Ketika dibuka, ternyata isinya lipatan-lipatan kertas lawas bertulisan huruf-huruf arab. Ada juga uang kertas lama pecahan Rp100 dan kain. Beberapa petugas panitia penyelenggara ibadah haji (PPIH) menyebutnya jimat. Ada pula yang menyebut rajah.

Bungkusan kecil dalam jumlah banyak itu ternyata tidak hanya berada di dalam tas tenteng AM. Dia juga menyimpan benda yang sama di dalam kain, kemudian dilipat memanjang dan dijadikan sabuk. Namun, cara itu akhirnya ketahuan juga oleh pihak keamanan bandara.

Kepala Bidang Perlindungan Jamaah (Kabid Linjam) PPIH Arab Saudi Kol Jaetul Muklis mengungkapkan, tertahannya jamaah asal Madura itu terjadi karena kesalahpahaman. ”Di tanah air, benda semacam itu sudah biasa dibawa masyarakat. Tapi, itu tidak berlaku di Arab Saudi,” ujarnya.

Jimat atau rajah memang menjadi barang yang sangat sensitif di Saudi. Mereka menganggap membawa benda-benda itu adalah perbuatan syirik. Bahkan juga dianggap sebagai peralatan sihir yang membahayakan orang lain. Pihak bandara membawa AM ke ruangan khusus untuk diiterogasi. Tim perlindungan jamaah mendampingi AM.

”Kami juga berkoordinasi dengan Konsulat Jenderal RI di Madinah agar masalah itu cepat selesai,” tukas Jaetul.

Dia mengimbau kepada CJH yang belum berangkat ke tanah suci agar lebih berhati-hati. Jangan membawa barang-barang yang memang dilarang.

”Kan sudah disosialisasikan. Jangan dipaksakan. Pasti ketahuan,” pintanya.

Kasus barang bawaan yang menghambat perjalanan CJH ke tanah suci selalu terjadi tiap tahun. Untuk benda-benda yang sangat sensitif di Saudi, seharusnya bisa terdeteksi sejak di tanah air. (*/Jawa Pos/JPG)

Fathoni P. Nanda, Madinah